Hampir dengan Batas Waktu

Ketika kamu tahu kalau kamu hampir dengan batas waktu, apa yang akan kamu lakukan?

Tepat satu tahun yang lalu, saya memulai hidup saya sebagai SCI. Berat juga menyebutnya, Siswa Cerdas Istimewa. Ah, bahkan saya sendiri merasa tidak pantas menyandang nama itu. Berat, berat sekali. Namun ini jalan yang kupilih.

Kemarin saya mengecek siapa saja sang SCI 4, SCI di bawah saya. Tujuh belas orang, kasihan ya sedikit. Saya tak mengerti kenapa syarat untuk menjadi SCI dipersulit. Apa pihak sekolah kecewa dengan kelas SCI yang saya masuk di dalamnya ini? Sistem IPK junior saya sedikit aneh. Skalanya 0-10. Untuk SCI IP minimal 8,5. Nge-cut banyak orang.

Saya baca sekali lagi nama-nama mereka. Kok, namanya familiar ya? Kalau tahun lalu saya merasa familiar dengan nama teman-teman SCI walau belum berkenalan, itu wajar. Di semester awal saya menandai siapa-siapa saja yang ingin masuk kelas SCI. Sebelum takdir berkata, saya sudah memprediksi siapa-siapa yang benar-benar menjadi SCI nantinya dan yang tidak. Berbeda dengan sekarang, saya tidak membuat bayangan sama sekali.

Lho, ini ‘kan nama teman-teman saya? Begitu kata saya dalam hati. Ada enam orang yang saya kenal. Lima orang dari Kalam (semacam halaqah, liqa, atau mentoring). Satu orang lagi saya kenal juga karena dia Rohis Muda (aktivis Rohis kelas X). Oke, berarti saya kenal semua muslimah yang ada di situ. Tapi tapi tapi, kok mereka nggak pernah cerita-cerita sama saya kalau mau jadi SCI?

Ya sudah, biar saja. Saya balas dengan doa.Semoga saja, SCI 4 diberikan jalan yang sulit sehingga mereka menemukan nikmatnya masa SMA, supaya mereka kuat, supaya mereka menjadi pribadi yang tangguh menghadapi persoalan hidup di masa mendatang.

Sekarang, sudah semester akhir buat saya. Beberapa teman saya terserang penyakit mau lulus. Takut UN, takut SIMAK, takut SNMPTN, takut ujian macam-macam. Entah kenapa, saya tidak takut semua itu meski saya tidak mempunyai jaminan apa pun. Saya juga takut, takut meninggalkan Rohis. Padahal dulu saya sering bercanda mengatakan ke pengurus lain kalau di semester akhir saya vakum. ‘Nggaklah, nggak mungkin itu. Emangnya saya sesibuk apa sampai segitunya?’ begitu ujar benak ini.

Satu hari sebelum semester akhir dimulai, teman saya mengirim SMS, “Di semester 4 ini, kita off dari Rohis. Kamu sudah dapat penggantinya?” Off? Pengganti? Jadi dia mengajak untuk vakum? Waktu itu saya mau menangis, tumben. Hanya beberapa karakter tapi itu menohok. Orangtua saya sudah menyuruh saya mengundurkan diri sebelum saya resmi dilantik tapi saya biasa saja. (Belakangan mereka tahu banyak juga SCI yang jadi pengurus Rohis dan mereka baik-baik saja). Bagaimanapun pada akhirnya sekarang saya tetap menjadi pengurus dan (yah) masih pasif dari dulu.

Sempat saya berpikir, coba saja kalau saya bukan SCI, saya:
1. Bisa aktif mengurus Rohis
2. Bisa mengikuti pelajaran yang diinginkan
3. Akan punya teman banyak
4. Bisa ikut organisasi lain di luar sekolah
5. Tidak akan diteror oleh yang namanya UN, SIMAK, SNMPTN, dll

Namun hidup itu indah, yakinlah. Beberapa jenak setelah itu saya malah bersyukur menjadi SCI karena saya:
1. Tetap bisa mengurus Rohis. Saat debat Calon Ketua Rohis, salah satu penonton mengajukan pertanyaan apa SCI bisa dijadikan pengurus sementara mereka sangat sibuk tapi Rohis tidak asyik kalau tidak ada mereka, lagipula jumlah mereka banyak. Justru karena kami SCI, kami memberikan kontribusi walau sedikit. Jika kami bukan SCI kami belum tentu berkontribusi. Kami tahu, tidak selamanya kami berkesempatan untuk berkontribusi jadi kami manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang ada.
2. Mendapatkan pelajaran yang tak dapat diduga sebelumnya. Saya mendapat pelajaran kasih sayang, persahabatan, persaingan surga, pemberian kekuatan melalui ucapan semangat, dan masih banyak lagi. Mungkin itu bisa saja saya dapatkan di tempat lain, tapi menjadi bagian dari SCI itu adalah sebuah keberuntungan tak ternilai. Sekedar catatan, untuk poin persaingan surga, belum tentu bisa didapat di tempat lain.
3. Mempunyai teman-teman hebat. Kami tahu waktu kami tidak banyak. Kami tahu akan fatal jika kami menyakiti teman. Kami tahu hidup tak bisa sendiri. Maka kami menjaga hubungan sebaik mungkin karena satu hal: perjalanan kita tak mudah, mari lewati bersama. Teman-teman SCI menyadari kalau mereka berbuat salah mereka tidak akan sempat meminta maaf karena kata kelulusan datang begitu cepatnya.
4. Berorganisasi dengan baik. Saya menjadi anggota OSIS saat semester dua. Saya bisa membantu teman-teman organisasi luar sekolah walau jauh dari kata cukup.
5. Menjadi rajin. Coba saja kalau saya kini duduk di kelas reguler, mungkin saya hari ini bersantai-santai ria hingga tak sadar waktu tetap berjalan. Justru karena saya tahu saya banyak materi yang belum saya kuasai dibandingkan anak-anak yang reguler itulah yang membuat saya rajin (anggap saja begitu), dan lain-lain.

Setahun yang indah sudah dilewati. Sekarang waktunya menikmati detik-detik yang tersisa. Baiknya diingat bahwa hal-hal yang patut disyukuri ternyata berasal dari satu alasan: karena kita hampir dengan batas waktu.

Berusahalah untuk duniamu seakan-akan kau hidup abadi, beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kau mati esok.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s