Surat Kecil dari Papi

“Ini,” orang itu memasukkan tangan kirinya ke saku celana lalu mengeluarkan amplop putih, “ada surat dari papanya Latansa.” Teman-teman melirik pada saya. Saya juga heran. Surat? Sudah tahun 2011 masih surat-suratan?

Orang ini bukan pak pos. Tak ada unsur oranye dalam tampilannya. Ia memakai kemeja, kardigan, dan celana bahan. Ia juga tidak membawa papan beserta pulpen untuk meminta tanda tangan saya. Ia hanya berpesan satu hal: jaga baik-baik surat tersebut.

Lalu orang itu melambaikan amplop putih itu. Membolak-balikkan amplop sambil mempertimbangkan sesuatu. “Latansa, boleh saya bacakan di depan teman-teman kamu? Bagaimana? Mengizinkan?” Saya mengangguk tanda setuju. “Mengizinkan? Oke, akan saya bacakan.” Orang itu lalu merobek amplop tersebut.

Orang itu kemudian membuka lipatan kertas. Ia mulai membacanya,

“Latansa Anakku ……

Bacalah surat ini baik-baik, karena Papi mungkin suatu saat tak lagi bersamamu …..

Prestasi demi prestasi kamu raih. Kamu selalu mencoba menjadi yg terbaik.

Banyak orang berkata, bahwa anak perempuan tidak usah berpendidikan tinggi dan berprestasi, karena kata orang anak perempuan dibatasi oleh dirinya sendiri. Tapi kamu tahu, Papi berpandangan lain. Papi selalu ingin anak perempuannyapun bisa meraih prestasi terbaiknya, karena ke depan bagi anak perempuan dunia adalah tidak terbatas.

Seperti pada tiap tulisanmu yg tak terbatas, karena setiap kamu menulis pasti masih ada ruang atau kertas yg tak kan habis untuk ditulis.

Saat ini, waktu-waktu ini adalah saat penting bagimu untuk menulis dg cemerlang masa yg kamu lalui, menulisi kehidupanmu dg cita-cita, dan saat yg penting bagimu untuk meletakkan masa depanmu di tempat yg benar. Maka, raihlah itu semua dg terus belajar, terus bersungguh-sungguh, dan terus berprestasi.

Masa depanmu berada di telapak tanganmu. Mimpi orang tuamu akan masa depanmu adalah sama dengan mimpimu.

Raihlah apapun yg belum bisa diraih oleh orang tuamu.

Dan, lebih dari segalanya, apapun prestasi yang kau raih, Papi ingin kamu tahu bahwa Papi bangga untuk senantiasa mengatakan:
“Kamu Adalah Anak Kebanggaanku”.”

“Boleh saya bacakan lagi bagian terakhirnya?” Saya mengangguk lagi.

“Dan, lebih dari segalanya, apapun prestasi yang kau raih, Papi ingin kamu tahu bahwa Papi bangga untuk senantiasa mengatakan:
“Kamu Adalah Anak Kebanggaanku”.

Jakarta, Desember 2010.

Salam ….”

Orang itu terlihat mengagumi isi surat. Ia melipat lagi lalu memberikan pada saya, “Jaga baik-baik ya, Nak! Saya ingat ketika saya diberi surat oleh ayah saya sebelum SNMPTN. Selama 20 tahun saya simpan. Asalkan saja tidak ada banjir sialan di 2007 itu, sekarang masih ada.”

Terima kasih, Pak! Terima kasih sudah mengantarkan surat kecil dari papi.

1 Comment

Filed under Uncategorized

One response to “Surat Kecil dari Papi

  1. Pingback: 30 DAY CHALLENGE DAY 8: Menghapus Kontak? Salahkah Memainkan Gadget Sejak Kecil? Benarkah Anak yang Diasuh oleh Pengasuh Akan Menjadi Nakal? | IDE-IDE Latansa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s