Status: Bagai Makan Buah Simalakama

“Berapa persen pun nantinya, entah itu tetap 25% atau sampai 75% sekalipun, yang nggak dapet itu ngenes.”

SCI di Januari (2011)

Beberapa bulan yang lalu, ketika saya masih duduk di semester tiga, saya masihlah orang yang suka bersantai ria—ya, meskipun sekarang juga begitu. Yang jadi masalah, saya tidak sadar kalau sekolah saya hanya empat semester, artinya itu sudah tahun terakhir saya. Saya harus mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional, Ujian Masuk Perguruan Tinggi, dan ujian-ujian lainnya.

Berangkat dari situ, lahirlah tekad untuk menjadi anak rajin. Namun kadang kenyataannya jauh dari harapan. Saya juga berharap agar diri saya menganut ‘belajar karena Allah’ tapi nyatanya yang sering terjadi adalah ‘belajar karena besok ulangan’.

Setelah itu, saya mencoba membuat perencanaan. Selama semester tiga, pokoknya saya harus menguasai seluruh pelajaran SMA minimal 75%. Di hari libur seperti liburan puasa dan akhir tahun, seperempatnya digunakan untuk jalan-jalan, sisanya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk belajar. Kemudian di bulan Maret 2011 saya akan mengikuti SIMAK UI, jurusan apalah namanya itu. Bulan depannya, saya sudah mendapati diri saya terdaftar sebagai mahasiswa baru UI jurusan apalah namanya itu. Pribahasa bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian terpatri dalam jiwa saya. Saking dalamnya, sampai-sampai waktu itu saya sakit beneran seminggu. Saya sudah menghitung, jika saya diterima di UI jurusan apalah namanya itu pada bulan April 2011, saya akan mempunyai liburan yang sangat panjang. Mei, Juni, Juli, Agustus, ya kira-kira tiga bulan lebihlah. Itu lebih dari cukup untuk mengganti liburan-liburan saya yang dipakai untuk belajar.

Saya masih begitu sampai sudah ganti tahun. Tahun 2011 pun menghampiri. Di bulan Januari 2011, saya harus merasakan bagaimana rasanya dipermainkan nasib. Pertama, saya tidak dapat formulir PPKB UI (semacam PMDK). Kalau saya menginginkannya, bisa diibaratkan bagai pungguk merindukan bulan.

Kedua, Ujian Saringan Masuk ITB dihapus. Saya masih ingat saat itu, malam hari yang dingin. Suasana yang tadinya biasa saja menjadi ricuh. “USM nggak ada!” teriak salah satu orang. Suara itu pun menimbulkan efek domino, tak lama setelah suara pertama terdengarlah suara-suara lainnya dengan nada serupa. Orang-orang sibuk mengkases laman ITB dan terlihat raut kecewa dari mereka karena peluang tersisa hanya SNMPTN. Sebenarnya, saya tidak ingin masuk ITB, tapi saya takut akan terjadi apa-apa dengan Seleksi Masuk UI. Bukan karena saya sangat ingin masuk UI, biasanya SIMAK UI adalah Ujian Masuk yang pertama diadakan. Benar saja, beberapa hari kemudian SIMAK UI dijadikan setelah SNMPTN, bulan Juni. Rencana liburan panjang saya pupus sudah.

Jujur saja, waktu mendengar berita bahawa semua ujian mandiri hanya boleh diadakan setelah SNMPTN, mata saya berkaca-kaca. Bukan saja karena liburan panjang kini tinggal angan, termasuk saya seperti mendapat tamparan yang sangat keras. Saya merasa seperti ditampar disebabkan kesombongan saya. Saya dengan yakinnya akan masuk UI padahal saya bukanlah siapa-siapa. Saya berpendapat: saya ini pintar, sekolah di SMA unggulan, siswi kelas akselerasi, juga apabila itu semua belum cukup saya ini orang baik, Allah pasti akan menolong hambanya yang baik. Jauh di lubuk hati saya, saya menginsyafi bahwa saya sedikit ilmunya dan terlalu sering bermaksiat. Lalu Allah menunjukkan kuasa-Nya.

Saya jadi ingat tentang percakapan saya dengan salah satu orangtua murid sekolah saya di perjalanan pulang. Sebelumnya, sambil menunggu bis lewat kami bercakap-cakap tentang banyak hal, termasuk IPK anaknya semester itu. ‘Hah, IPK 3,00 saja sudah bangga sekali? IPK segitu bukan apa-apa di kelas saya,’ begitu ucap saya dalam hati. Jelas sudah kesombongan itu. Lalu di bis beliau bercerita tentang mahalnya pendaftaran ujian masuk PTN. Biaya SMPTN yang murah meriah pun tak ada gunanya karena setelah dicoba gagal. Persentase kuota yang diterima lewat jalur SNMPTN sangatlah kecil. ‘Ah, orangtuaku nanti pasti membiayaiku,’ kesombongan tingkat dua.

Ketiga, tentang SNMPTN undangan. Kira-kira tiga hari setelah peristiwa USM ITB itu, kakak-kakak alumni yang kini kuliah di ITB mendatangi sekolah. Mereka menerangkan tentang fakultasnya masing-masing. Ada juga kakak-kakak UI hari itu. Mereka juga menerangkan fakultas-fakultas yang ada di UI.

Yang membuat telinga saya naik adalah disebutnya jalur SNMPTN undangan. Jalur undangan ini merupakan program baru dalam penerimaan calon mahasiswa. Itu sesuai dengan Permendiknas Nomor 34 Tahun 2010 tentang pola penerimaan mahasiswa baru program sarjana pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Jalur undangan juga sebagai perwujudan menjunjung tinggi kehormatan dan kejujuran sebagai bagian dari pendidikan berkarakter.

Jalur undangan sebenarnya memiliki kesamaan dengan program penelusuran minat dan kemampuan (PMDK). Bedanya, PMDK diselenggarakan oleh setiap perguruan tinggi negeri (PTN), sedangkan jalur undangan SNMPTN undangan diselenggarakan secara nasional oleh tim SNMPTN yang tergabung dalam 60 PTN.

Sayangnya, persyaratan untuk mendaftar adalah ranking 25% di kelas. Astaga, itu artinya hanya 7 orang! Saya dan beberapa teman saya pergi ke ruang Bimbingan Karier (BK). Kami bernegosiasi panjang agar kuota khusus SCI ditambah. “Oke oke, akan saya usahakan agar SCI sama seperti kelas regular: 10 orang,” kata guru BK.

Kemudian saya mencoba berhitung. Yang mendapat ‘undangan’ ini ada 10 orang, di luar 2 teman saya yang sudah mendaftar PPKB UI (karena PPKB UI sudah terlanjur diadakan sebelum SNMPTN undangan dipublikasikan). Itu artinya peringkat 3-12 di kelas. Esoknya, saya pergi lagi ke ruang BK. Saya meminta izin untuk melihat peringkat saya. Yang ada hanya peringkat semester dua, untuk semester tiga belum dibuat. Saya pun melihatnya. Saya harus menelan ludah karena saya hanya peringkat 13.

Ternyata bukan saya saja yang tidak terima akan hal tersebut. Teman-teman meminta agar kuota untuk anak SCI ditambah lagi, mengingat kami ini Siswa Cerdas Istimewa (emang iya?). “Mau bagaimana lagi? Peraturan dari panitianya sudah begitu. Mumpung masih ada waktu, banyak-banyaklah berdoa agar diberikan mukjizat,” jelas guru tersebut. Kami bermuka masam. “Nih, lihat ya! Syaratnya, siswa adalah siswa kelas 12 pada tahun ini. Nah, untuk syarat yang ini saja kalian jelas-jelas tidak memenuhi. Kalian ‘kan masih kelas 11!” lanjutnya. Guru lain yang ada di situ tertawa. Muka kami bertambah masam.

Strategi selanjutnya adalah mencoba mempengaruhi para wakasek dan guru-guru lain yang mempunyai pengaruh kuat dalam kebijakan-kebijakan sekolah. “Pak, kita ini ‘kan masuk SCI supaya mudah untuk masuk PTN. Sekarang kok malah dipersulit? ‘Gak guna dong kita masuk SCI,” ujar salah satu di antara kami. “Oh ya ya, saya mengerti,” tanggap guru tersebut.

Sungguh, sebenarnya guru BK lain setuju jika kuota untuk anak SCI ditambah, bahkan kalau bisa semuanya. Kami bingung mengapa ibu itu tidak mau membantu kami. Beliau tampak tidak senang apabila banyak anak SCI yang menerima ‘undangan’. Padahal hanya guru magang.

Suasana bertambah runyam setelah kedatangan surat dari UI. Di surat itu dikatakan bahwa siswa yang mendaftar PPKB UI harap diintegrasikan ke SNMPTN undangan. Peringkat semester tiga pun keluar. Saya tetap bertahan di posisi 13.

Lagi-lagi, angan tak sampai. Mungkin saya tertekan, tapi di alam bawah sadar. Kilasan-kilasan masa lalu pun muncul di mata saya. Saya ingat saat baru sekolah di sekolah ini. Guru saya berkata, “Kalau kamu mau nilai bagus, bukan di sini tempatnya. Di sini tempat kamu belajar.” Yah, itu dapat menjelaskan mengapa guru-guru di sini begitu pelit akan nilai. “Pernah ada
anak yang mau ikut PMDK. Nilainya kurang di rapor, dia minta sama ibu buat diganti nilainya. Ibu katakan padanya, ‘Nak, percaya sama Ibu. Kamu memang tidak akan diterima PMDK, tapi ikutlah tesnya. Ibu yakin kamu diterima.’ Akhirnya dia masuk kedokteran,” terangnya. Saya berpikir, ‘Nasihat itu sudah disampaikan lebih dari setahun yang lalu Ya Allah, kenapa baru sekarang saya mengerti?’

Tiba-tiba ponsel saya bergetar. Ada SMS dari saudari saya.
“… Smg 4WI Menguatkan keimanan&pemahamanmu..
Orang yg briman sllu pnya cra trsendri untuk mnata hatinya..
Meski brlwnan dgn apa yg ia trima dlm khdupan,.
Saat mndpt musibh, airmatanya menetes,
Tpi htinya tetap terilhami untk mykini bhwa apa yg d brkn Allah psti yg trbaik bginya,
Fisiknya mungkin lelah,
Pikirannya mngkn penat
Tpi tdk dgn hti yg trus ykin bila ia di uji Allah,itu
Sbgai tanda bhwa Allah syng padanya…”

Subhanallah, Allah menjawab pertanyaan saya lewat SMS.

Sejak dikirimi SMS itu, saya mencoba ikhlas walau perwujudannya tak semudah mengatakannya. Ketika teman-teman saya masih sibuk dengan ketakutan tidak didaftarkan SNMPTN undangan, saya sudah bisa santai. Kalau dapat ya syukur, kalau nggak juga nggak pa-pa.

***
Pagi yang cerah, hari itu jadwalnya pertemuan PA. Setelah peribadatan pagi, PA saya masuk kelas. PA saya biasanya berbicara sambil berdiri. Saya biasanya duduk di depannya. Beliau terbiasa menaruh kertas-kertas dokumen di meja yang saya gunakan. Saya terbiasa membuka-buka dokumennya dan secara terang-terangan membaca dokumen-dokumen tersebut. Pun, beliau biasanya membiarkan. Namun, secara tidak biasa kali itu saya terkejut membacanya. Dokumen yang saya baca adalah daftar nama-nama yang akan diajukan SNMPTN undangan. Tidak ada nama saya? Ah, itu sih saya juga tahu. Yang jadi masalah, IPK saya hanya beda 0,02 dari orang terakhir dari kelas saya. Yah, hanya 10 orang! Coba saja orangnya ada 15, …. Kemudian saya membaca dokumen selanjutnya. Itu adalah daftar nama-nama yang tadinya sedang dipertimbangkan. Ada nama saya. Aduh, sayang sekali hanya diambil 10 orang.

Mungkin kalau saya tidak membaca kertas itu saya tidak begini. Siangnya saya menghadiri pameran PTN dan PTS di sekolah saya, tapi suasana hati saya tambah runyam. Esoknya ada pesta ulangtahun sekolah, saya menghadirinya tapi saya tidak bahagia. Padahal itu hari Sabtu. Padahal itu ada penampilan-penampilan kreatif. Padahal itu ada band-band keren seperti The Dance Company, Naif, dan lain-lain. Tetap saja tidak menghibur. Tiba-tiba saya melihat PA saya yang juga guru BK itu ada di acara. Saya mengajak kedua teman yang dari tadi bersama saya untuk menghampirinya. Guru itu berjalan sekitar 30 meter dari kami. Kami menerobos kerumunan. Namun kami tidak menemuinya. Kami mencari-carinya, hasilnya nihil. Ah, sepertinya beliau sudah pulang. Tiga hari lagi pendaftaran SNMPTN undangan akan dibuka. Sulit membuat pihak sekolah membuat kebijakan baru. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi: ikhlas saja.

***
Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Begitu kata al-Qur’an. Sorenya ada pembaruan di laman SNMPTN undangan. Untuk tahun ini siswa sekolah akreditasi C dapat disertakan dalam proses undangan. Hanya, dibatasi maksimum 10%. Sekolah akreditasi B 25% dan untuk sekolah akreditasi A kelas regular, ditetapkan 50% siswa terbaik . Sedangkan sekolah akreditasi A kelas rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) atau unggulan sebanyak 75% siswa terbaik. Untuk sekolah akreditasi A kelas akselerasi, semua siswa (100%) dapat diikutsertakan dalam jalur undangan.

Masalah baru kini muncul. Saya harus bisa masuk lewat jalur SNMPTN undangan karena berat kalau harus memahami seluruh pelajaran SMA dalam waktu yang singkat ini. Jurusan yang dipilih juga harus yang diminati, agar enak menjalaninya. Yah, bagai makan buah simalakama. Diambil takutnya jatuh ke pilihan yang tidak disukai tapi kalau tidak diambil, sulit rasanya mempersiapkan diri untuk SNMPTN tertulis.

***
Dengan nilai rata-rata rapor yang hanya segini, kira-kira sebaiknya saya memilih apa? Syarat: maksimal 2 PTN dengan masing-masing maksimal 3 jurusan. Urutan menentukan prioritas.

(Berdasarkan semester)
Bahasa Indonesia: B-, B+, B+
Bahasa Inggris: B+, B-, B
Biologi: B-, B, B+
Fisika: B-, B, B
Kimia: B-, B+, B
Matematika: A-, B+, A-

Rencananya, saya akan memilih ini:
1. Pendidikan Dokter – UI
2. Pendidikan Dokter – UIN Jakarta
3. Matematika – UI
4. Sastra Indonesia – UI
5. Matematika – UIN Jakarta
6. Sastra Inggris – UIN Jakarta

*Sempat terpikir kalau mungkin memang lebih baik masuk STAN saja.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s