Kisah Ringgak dan Surya

“Ringgak, sebenarnya aku tak membencimu. Aku hanya sudah bosan melihatmu. Maafkan keterusterangan ini. Sungguh, aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa hidup terus denganmu.”
“Tolong Carl, jangan tinggalkan aku!”

Semuanya terjadi begitu cepat. Carl melempar Ringgak ke danau. Untuk beberapa jenak Ringgak tenggelam lalu mengambang di permukaan. Jangan takut, tak terjadi apa-apa pada Ringgak. Meski Carl seorang manusia, Ringgak hanyalah sebuah tanaman yang biasa kita sebut eceng gondok.
***

Hari-hari yang dilalui Ringgak dilalui dengan kesepian. Hingga pada suatu hari, ia menyadari sesuatu. Tanaman-tanaman di sekitarnya berwarna hijau pucat. Begitupun dirinya. Ia pun melihat sekeliling. Dia lihat di atasnya ada pohon beringin yang besar sekali.

“Beringin, kau pasti tahu kalau aku juga punya ingin. Maukah kau mendengar inginku?”
“Ya?”
“Inginku adalah mengatakan padamu bahwa dahan dan rantingmu sangat mengganggu tanaman lainnya.”
“Ya? Baguslah, mereka jadi cepat tinggi.”
“Iya, tapi itu terpaksa dilakukan karena mereka merindu matahari.”
“Ya?”
“Kami tidak bisa terus-terusan begini. Kami bisa mati jika tak melihat matahari.”
“Bukan salahku.”

Beringin tak acuh pada Ringgak. Namun Ringgak tidak marah. Seakan keberuntungan berpihak padanya, keesokan hari beringin itu ditebang. Begitu juga dengan pohon-pohon lain di hutan tepi danau itu. Ringgak berkata pada Putri Malu, “Sungguhlah tak pernah ku melihat pemandangan seperti ini sebelumnya.”

Putri Malu berkata, “Ketahuilah, ini semua adalah pekerjaan tikus.”
“Tikus? Binatang kecil nan menjijikkan itu?”
“Bukan, bukan itu yang kumaksud. Tikus adalah penguasa-penguasa yang hobi memperkaya diri.”

Ringgak tak terlalu mengerti. Tak penting baginya karena untuk pertama kali seumur hidupnya, matahari menyapa dirinya. “Selamat pagi wahai Ringgak …” Saat tinggal bersama Carl dulu, ia hanyalah pajangan dekat jendela kamar. Kamar perahu seorang pelaut yang sekarang entah di mana.

Ringgak merasakan kehangatan yang luar biasa. “Selamat pagi juga wahai Surya …” Matahari bersinar lebih saat ia dipanggil Surya. Begitulah, hampir setiap hari, Ringgak dan Surya saling menyapa, mengobrol sesekali. Ringgak berkembang biak menjadi banyak. Bunga-bunganya indah memesona.

Sementara itu, sang Putri Malu setiap hari selalu bercerita betapa mencintanya ia pada matahari. “Haha, kau tahu? Ia bintang cahaya. Kita hanyalah tanaman yang untung saja masih bisa hidup di sini,” kata Ringgak. Putri Malu tak pernah tahu bahwa diam-diam Surya menyimpan rasa pada Ringgak. Ia tak pernah melihat Surya menyapa Ringgak karena daun-daunnya masih menutup terkena embun pagi hari. Ringgak mungkin tahu hal itu, tapi ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri itu tidak mungkin. Surya adalah bintang cahaya sedang ia tanaman biasa.
***

Ringgak kini berbeda dengan dulu. Ia berkembang menjadi separuh danau. Bunga-bunganya bermekaran banyak sekali. Matahari tiba lalu berkata, “Selamat pagi kekasihku …” Seketika seluruh tubuh Ringgak kaku. Reaksi terang yang baru saja dimulai seketika terhenti. “Kekasihku?” ucap Ringgak. “Ya, kekasihku. Kamu,” jawab matahari. Kemudian ia pergi. Sebenarnya bukan pergi, bumilah yang berputar.

Saat Putri Malu membuka katupan-katupan daunnya, Ringgak bertanya padanya, ”Putri Malu, boleh kutanya sesuatu?” “Tentu, apa itu?” “Bagaimana caranya supaya aku dimakan tikus?” tanya Ringgak. “Tikus? Maksudmu apa? Dimakan tikus?” “Itu … Tikus yang pernah kaukatakan itu. Perbuatan yang dilakukannya pada beringin. Ah, entahlah! Aku bingung menjelaskannya. Sekarang aku merindu untuk dimakan tikus.”

Putri Malu bingung berkata apa.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s