Bermula dari Sebuah Pertanyaan

Seorang teman SCI, yang peringkat tiga besar di kelas pernah berkata kalau ada suatu pertanyaan yang sangat membingungkan untuk menjawabnya. Wah, dia saja yang jago matematika-kimia-fisika-biologi-blablabla saja tidak mampu menjawabnya, apalagi saya? Sebenarnya, kalimat pertanyaan itu sangat sederhana. Tidak harus dibuat persamaan matematika, persamaan reaksi, atau persamaan rumus dulu. Pertanyan singkat, “Sekarang kamu kelas berapa?”

Sejak awal semester ini kalau ada orang yang bertanya, saya akan menjawab dengan tegas, “Saya sekarang kelas XII (3 SMA).” Kemudian mengaku-aku siswi XII IPA G, padahal yang ada hanya sampai F. Bahkan di kartu Ujian Akhir Semester saya tetap ditulis kelas XI (2 SMA). Semuanya mencapai titik puncak ketika mendaftar kuliah, sekolah mendaftarkan saya sebagai siswi kelas XI. Sejak hari itu saya tidak lagi mengaku dua belas.

Karena ketidakjelasan itulah, kami para SCI bisa bergabung di dua angkatan, angkatan atas (Lego) atau angkatan sejati (Saharsa). Kami diundang Prom Night Lego dan Buku Tahunan Siswa yang sama tapi juga diundang Family Gathering Saharsa.
***

Saharsa, sebuah nama yang sejak tahun lalu terngiang-iang di telinga. Sejak ditetapkan tanggal 10 Oktober 2010, Saharsa resmi menjadi nama angkatan 2012 SMA Negeri 78. Saharsa tersebut berasal dari Sansekerta dengan pengertian, definisi atau arti nama bergembira. Juga kependekan dari Sahitya (Solidaritas) Parama (Dukungan) Daksa (Badan atau tubuh). Kalau katanya orang-orang yang ikut rapat, artinya angkatan yang solid, ahli dalam berbagai hal, dan selalu berusaha menjadi yang terdepan.

Mari kita bercakap-cakap tentang Family Gathering Saharsa yang diadakan tanggal 26 Maret 2011 di TMII. Kalau disuruh beri nilai dengan batas 0-100, saya akan beri nilai 78. Wah, sama dengan nama sekolah! Ya setidaknya sudah melampaui KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

Kegiatannya apa saja?
Yah begitu, kumpul di sekolah, berangkat, pembukaan, jingkrak-jingkrak ditemani musik, permainan, confession moment, pelepasan wishlist, foto bareng, gitu deh.

Confession moment (saat-saat pengakuan) seharusnya menjadi acara puncak. Saya katakan seharusnya karena waktu yang disediakan pada kenyataannya tidak banyak. Masih ada yang harus dibicarakan. Isinya tentang curhat secara terbuka masalah angkatan, baik antar personal, personal-kelompok, ataupun kelompok-kelompok.

Kelompok-kelompok saya sempat disinggung di sini. Dimulai dengan ketua keamanan tiba-tiba ke tengah panggung lalu meminta izin bicara, “Gue kecewa sama SCI, tadi gue lihat beberapa anak SCI keluar katanya mau ngomongin perpisahan. Oke, gue tahu kalian bentar lagi mau lulus, tapi ternyata mereka gak balik-balik. Gue udah muter-muter Taman Mini naik mobil sama temen gue tapi nggak ketemu mereka. Coba gue mau lihat, di sini yang SCI angkat tangan!” Saya pun terpaksa mengangkat tangan, “Kenapa sih ninggalin FG? Emang di FG ini kalian merasa tidak terangkul dengan baik?” Untung teman saya menanggapi kalau mereka bukan meninggalkan acara ini tetapi keluar sebentar lalu kembali. Mereka tidak tahu waktu istirahat sudah habis dan kami sedang menghubungi mereka. Ah, seandainya kalian tahu… Mana mungkin kami hari itu sanggup tertawa padahal sebentar lagi meninggalkan lebih dulu. Yang lucunya teman saya SMS, “Latansa, lg dmn?” Saya balas, “Aku di belakang kamu dari tadi.” Yah, dia kira saya ikut pergi. Jujur, saya juga tadinya mau keluar, tapi orang-orang yang keluar itu tidak tahu saya masih salat. Ternyata benar, salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.

Yang kedua, diutarakan oleh salah satu pengurus kerohanian, “Kenapa sih, ada kerohanian yang tidak mau berbaur? Mereka berkumpul sendiri saja. Kita ‘kan sama-sama Saharsa …” “Sebut aja,” kata moderator. “Saya lihat ini di Rohis …” Saya tidak ingat bagaimana kata-kata persisnya. Perwakilan Rohis yang suka dipanggil Elek (yang sabar ya) menangapi, “Iya, kami juga mengakui itu karena kami kurang bisa berbaur …”

Selain itu, masalah-masalah dominan terjadi karena efek era global. Yang BB-nya tidak di-accept, FB tidak di-confirm, atau Twitter yang di-unfollow/ belum follback. Ya sudahlah, begitu saja kok kecewa. Perasaan saya dengan teman-teman saya tidak berteman di tempat-tempat itu tapi di dunia nyata kami sangat akrab.

Ada juga yang berlirih, “Mengapa orang-orang yang menyontek dengan BB itu tidak membuat pengakuan? Apa takut karena ada guru-guru yang mendampingi acara ini? Oh ya, kita lupa kalau mereka itu pengecut.”

Terakhir tapi bukan yang paling terakhir, kami menerbangkan balon yang diikatkan kertas harapan. Sesungguhnya saya tidak mengerti filosofi bagian ini atau jangan-jangan memang tidak ada filosofinya. Pertama, kenapa balon harapan-harapan itu diterbangkan? Bukankah harapan-harapan tersebut jadi susah diraih? Kedua, kok kesannya mubazir ya. Sudahlah, setidaknya saya mendapat pemandangan indah saat balon-balon diterbangkan.

Ah, Saharsa… Saya jadi ingat puisinya Kahlil Gibran:
jangan engkau mengira cinta datang dari keakraban yang lama
dan pendekatan yang tekun
cinta adalah akar dari kecocokan jiwa
dan jika itu tidak pernah ada
cinta tidak akan pernah tercipta
dalam hitungan tahun bahkan milenia

Saya berbahagia telah diundang dalam acara Family Gathering Saharsa. Saya sayang Saharsa, keluarga saya. Apalagi dapat kado pembatas buku batik.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s