Logika yang Belum Sampai

Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuatku selalu ingin melaksanakan
Namun melihat aral melintang pukang
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya

Pernah saat saya iseng menyanyikan lagu itu, teman yang saya panggil Papa berkomentar, “Berarti mBak Tansa (maaf) kurang referensi, karena pernikahan penuh dengan ketidak-indahan (pasangan ngorok, boros, jarang mandi, dlsb), tetapi dibandingkan dengan rasa saling mimiliki dan mengasihi, lebih banyak keindahannya daripada sebaliknya. Cuma harus ada saling pengertian antara keduanya.” Iya juga ya.

Memang agak riskan menuliskan tentang pernikahan. Apalagi saya belum berpengalaman. Namun, justru itulah saya sedang mencoba mengeluarkan uneg-uneg saya sebagai ababil (abege labil). Seseorang yang masih belajar untuk bisa dewasa.

Belakangan saya baru tahu kalau apa pun yang terjadi dalam suatu pernikahan, maka yang kita rasakan adalah barakah. Makanya, doa untuk orang yang menikah adalah semoga barakah tercurah pada kalian. Mungkin orang yang berpengalaman lebih mengerti hal ini.
***

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman mendiskusikan soal pernikahan. Salah satu teman saya berkata kalau setelah lulus kuliah ia ingin langsung menikah. Tadinya kami bergurau kalau nantinya ia akan menikah dengan artis dari luar negeri. Kemudian kami diundang dengan biaya transportasi dan akomodasi ditanggung olehnya. Ya begitulah.

Setelah sejenak tertawa (mumpung masih bisa), teman saya yang lain mulai berargumen. Dia berkata, setidaknya enam belas tahun dari hidup kita, kita habiskan untuk sekolah. Lalu kita menikmati masa bekerja hanya sebentar. Menikah lalu melepas pekerjaan. Punya anak, mengabdi untuk keluarga.

Awalnya, saya bingung apakah setelah menikah harus melepas pekerjaan? Bukankah itu sesuatu yang bisa dilakukan bersamaan? Apakah setelah menikah harus langsung punya anak? Kemudian setelah itu saya mulai mengeluarkan argumen bahwa menikah usia 20-25 tahun (mereka menyebutnya nikah muda) tidaklah buruk. Saya sendiri bingung kenapa waktu itu saya jadi banyak menyumbangkan suara.

Teman saya tadi lalu bercerita tentang ibunya yang wanita karier. Katanya, waktu ia kecil ia dititipkan pada neneknya. Kemudian jika ibunya pulang, ia selalu menolak digendong ibunya. Sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa dia menganggap ibunya adalah orang asing. Itulah yang membentuk pandangannya terhadap pekerjaan dan anak.

Sungguhlah pelik masalah ini, saya tidak tahu mana yang lebih baik. Perbincangan kemudian dilanjutkan tentang ta’aruf. Apa ta’aruf selalu berhasil? “Nggak…” jawab saya dan teman-teman kompak, tidak tahu kenapa. “Bukan berhasil menikah, maksud saya apakah setelah menikah nanti akan saling mencintai?” tanya salah seorang di antara kami. “Saya rasa sih iya,” jawab yang lain. “Kalau di Islam, apakah perceraian itu dibolehkan?” “Boleh.” Mungkin karena sesama orang bingung, kami jadinya membahas soal tilang-tilangan.
***

Yah, sekadar info, sebenarnya saya sudah lama ingin menulis tentang ini. Tadinya beberapa jam setelah berdiskusi, saya sedang menulis tentang itu. Sayang oh sayang, saya salah ketik saat chatting. Hal itu membuat lawan chatting saya bercerita tentang perpisahan. Itu membuat tangan saya kaku. Namun, setelah saya merasa tangan saya agak lemas, jemari saya secara refleks malah menghapus paragraf-paragraf pernikahan yang sudah saya tulis itu. Makanya, saya sekarang harus meraba-raba waktu itu yang dibicarakan apa saja.
***

Kini, saya harus mengakui kalau ada beberapa hal yang membuat saya berkata: ‘logikaku belum sampai’.

Pertama, ada seorang laki-laki tampan dan seorang wanita cantik yang saya temui di sebuah rumah. Mereka ditemani orang tua dan anak-anak yang lucu serta keluarga besar yang sedang berkunjung. Hubungan mereka tampak baik-baik saja dan bersifat kekeluargaan. Siapa sangka, ternyata sang wanita hanya sedang bersilaturahim ke rumah itu (kalau saya statusnya bukan orang yang lagi silaturahim, tapi orang yang numpang lewat dan beruntung disuruh masuk lalu dikasih jamuan). Tadinya, mereka memang suami-istri tapi tidak dengan sekarang. Mengapa ini terjadi pada orang-orang baik itu? Belakangan saya tahu jawabannya meski saya tidak ingin mengetahuinya.

Kedua, ada seorang laki-laki yang merupakan atasan dan seorang wanita yang merupakan bawahan laki-laki tadi pada sebuah kantor. Hubungan mereka baik-baik saja dan bersifat kekeluargaan seperti hubungan dengan rekan-rekan lain. Tanpa seorang pun yang tahu, ternyata mereka adalah suami-istri. Mereka tidak pernah menunjukkan kalau mereka suami-istri. Ada beberapa orang yang mulai curiga karena nama belakang pada nama siber (dunia maya) wanita itu sama dengan nama belakang sang laki-laki. Kalau ada yang bertanya, baik sang laki-laki mau pun wanita tak ada yang mau mengaku kalau mereka suami-istri. Orang yang tahu kalau mereka itu suami-istri pernah mencoba bertanya atas sikap mereka. Ternyata alasannya demi keprofesionalan dalam bekerja. Saya bingung mengapa begitu.

Oh ya, sebelum diskusi beralih ke soal tilang-tilangan, teman saya bertanya, ”Kalau Latansa, kapan rencananya menikah?” Teman lain menambahkan, “Iya, umur berapa kira-kira?” Saya terhenyak. “Eh, emm, mungkin beberapa tahun lagi. Aku butuh waktu untuk mendewasakan diri. Betapa sayangnya, aku sekarang masih terlalu kekanak-kanakan. Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku masuk SCI, dengan usia yang masih segini aku berharap cara berpikirku sudah sama dengan anak yang kelas 3 SMA,” ya, berharap itu boleh. Beberapa putaran jam yang lalu, kenalan saya yang seorang dokter berkata, “Secara fisik mungkin kamu memang anak kuliah, tapi secara psikis belum. Saya sangat berharap kamu bisa mengubahnya sebelum masuk kuliah Juli nanti.”

Pada akhirnya, semua persoalan yang terjadi akhir-akhir ini membuat saya bertanya, ‘Mengapa?’

*Di blog ini terdapat cerita-cerita yang mungkin tidak mau diceritakan ke orang lain. Jika pemilik cerita tidak suka, segera hubungi saya supaya saya bisa menghapusnya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s