Traktiran

Ya, soal yang namanya rencana, itu … memang menyesakkan kalau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun tentu akan lebih menyesakkan kalau hidup tak ada rencana. Begitulah, sebenarnya saya sudah membuat daftar apa-apa saja yang akan saya lakukan selama liburan ini, tetapi jadinya tersingkirkan begitu saja.

Hidup dalam keadaan harap-harap cemas membuat saya musti banyak-banyak berdoa. Bagaimana tidak? Saya kini tengah mengejar apa yang banyak orang telah kejar selama beberapa tahun terakhir. Parahnya, saya baru saja memutuskan untuk mengejarnya sejak bulan lalu. Sekali lagi, saya musti banyak-banyak berdoa karena itulah obat psikologis paling mujarab ketika saya sadar banyak tindkan saya yang setelah dipikir-pikir lagi tidak logis.

Sesuatu yang saya kejar itu bernama FKUI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Orang tua menginginkan paling tidak satu saja dari keempat anak mereka yang manis-manis itu menjadi dokter. “Jadi dokter itu banyak pahalanya, Nak!” begitu kata mereka. Saya memutuskan untuk masuk FKUI saja.

Meski awalnya keberatan akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar ke sana melalui SNMPTN Undangan. Saya berpikir, “Kalau diterima syukur, kalau tidak juga tidak apa-apa.” Kemudian we-o-we, saya baru sadar sebulan yang lalu kalau itu sebaiknya dikejar. Orang tua memang hanya mengatakan itu berpotensi menjadi ladang pahala yang subur, tapi saya melihat sisi lain. Dokter itu penghasilannya lumayan besar (sebenarnya sih dari kecil juga sudah tahu). Meski orang tua tidak mengajarkan putra-putrinya untuk menjadi materialistis, saya jadi tergiur dengan penghasilannya. Yap, uang itu bisa dipakai untuk membesarkan suatu umat. Saya percaya.

Kembali lagi ke daftar apa-apa yang akan saya lakukan selama liburan ini. Daftar itu dibuat berbulan-bulan sebelum saya tiba di liburan kelulusan. Mungkin terinspirasi dari kata-kata seorang teman, “Kalau Rasul saja menyiapkan Ramadhan selanjutnya sejak Ramadhan tahun itu, mengapa kita tidak menyiapkan liburan selanjutnya sejak liburan ini?” Agak memaksa, tapi lumayan memberi kedamaian bahwa ada liburan setelah perjuangan.

Walau tak rela, saya singkirkan dulu daftar itu. Kembali berjuang dengan berkencan bersama soal-soal setiap harinya. Tunggu, tunggu saja tanggal 18 itu. Walau sulit menjadi salah satu di antara 117 orang dari 3300-an orang, saya masih percaya adanya keajaiban. Tunggu, tunggu saja teman-teman yang menunggu traktiran saya. Semoga saya jadi mentraktir kalian.

Dalam doa, tiba-tiba teman saya mengirim pesan, “Saat Allah menjawab do’amu, Dia menambah imanmu. Saat Allah belum menjawab do’amu, Dia menambah kesabaranmu. Saat Allah menjawab do’amu tapi ternyata tak seperti keinginanmu, maka Dia memilih yang terbaik untukmu. Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya, walau terkadang tak terjangkau dalam bulir harapanmu dan tak terangkum dalam munajatmu. Lailatukum saidah!”

Oce, yang penting tunggu traktiran dari saya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s