Terdampar di Gedung Oranye

nikmatnya nyeruput kopi item d skolah tercinta d temenin ama lontong dan tahu isi goreng serta pemandangan sumpek anak smp yg salah milih sma—seorang teman

Sebenarnya, dulu sekali saya menginginkan bersekolah di sebuah madrasah berasrama di bilangan Tangerang. Ya, namanya juga keinginan selalu ada peluang untuk tidak terkabul. Walau saya terlalu yakin untuk bisa diterima di situ, kenyataan berkata tidak. Padahal saya sering berdoa agar menjadi salah satu dia antara dua belas orang itu.

Saya sudah tahu bahwa peluang saya untuk tidak diterima kira-kira sebesar 98,8%. Kemudian saya mencoba mencari peruntungan di sekolah lain. Sungguh, saya juga ingin sekolah di sekolah kakak saya. Apa mau dikata, ada beberapa hal yang membuat saya urung. Bayangkan, kalau saya bertemu dengan teman-teman kakak saya, awalnya mereka menganggap saya orang biasa. Namun setelah mereka tahu kalau saya adiknya kakak, mereka berubah menjadi baik kepada saya, apalagi kalau kakak lihat. Setelah kakak pergi, ya sudah mereka memperlakukan saya sebagaimana awalnya. Bayangkan bagaimana saya sanggup hidup di tengah orang-orang macam itu? Selain itu banyak hal yang saya kira kamu sudah mengerti.

Guru-guru mulai merekomendasikan SMA Negeri 78. Teman-teman juga begitu. Jadinya saya ingin sekolah di sana. Saya terhenyak kalau ternyata rata-rata jumlah NEM yang diterima itu 9 ke atas. Waduh, padahal nilai-nilai try out saya belum beranjak dari angka 8.

Keajaiban itu terjadi. Saya mempunyai NEM yang cukup untuk mendaftar ke sana. Pergilah saya mendaftar SMA pagi itu. Saya mulai berbasa-basi dengan seorang bapak dan seorang ibu yang saat itu menjadi petugas. Ibu itu memeriksa berkas-berkas saya. Dibukanya map yang berisi nilai. Laki-laki di sebelahnya berkata, “Are you cheating?” Pulangnya saya melihat muka saya di cermin dan bertanya, “Apakah wajahku menunjukkan kalau aku tidak pantas mendapat nilai segitu?” Namun, cermin diam saja.

Saya pun diterima di sekolah tersebut. Sungguh, saya belum pernah ke sana sebelumnya. Bahkan lewat di depannya pun tidak. Kelihatan sekali saya hanya mempunyai sedikit pertimbangan. Jadilah hari itu saya daftar ulang ke sana. Saya jadi stress sendiri karena saya berada di ruang yang NEM-nya teratas. Saya malu kalau orang-orang tahu saya di ruangan itu peringkat 9 dari bawah.

Saya pun masih ingat kali pertama saya naik kendaraan umum ke sana. “Naik Kopaja P16 yang ke arah Tanah Abang terus bilang sama abangnya turun di 78,” begitulah kira-kira bunyi instruksinya. Saking tertanamnya di otak saya, sampai sekarang kalau ada orang yang menanyakan kendaraan umum ke sana saya hampir selalu menjawab seperti itu.

Naiklah saya.
“Bang, nanti turun di SMA 78 ya.”
“Iya,” kata kondekturnya.
Lima belas menit berlalu. “Bang, saya turun di 78 ya.” “Iya, nanti saya kasih tahu kalau dah sampe.”

Setengah jam berlalu. Saya waswas jangan-jangan kondekturnya lupa kasih tahu. Saya benar-benar tidak tahu jalan. Apalagi saat itu tidak macet. Saya takut kalau sudah terlewat.

“Bang, 78 udah belum?” “Masih jauh, nanti saya kasih tahu kalau dah sampe.”

Empat puluh lima menit berlalu. “Bang, 78 udah belum?” “Masih jauh, nanti saya kasih tahu kalau dah sampe.”

Satu jam berlalu. “Bang, 78 udah belum?” “Masih jauh, nanti saya kasih tahu kalau dah sampe.”

Satu jam lima belas menit berlalu. Tadinya saya mau bertanya, tapi saya tahu jawabannya pasti sama. Akhirnya saya mengurungkan niat dan berharap kondektur tidak lupa kalau saya turun di 78.

Satu setengah jam berlalu. ‘Waduh, bagaimana ini? Jangan-jangan udah kelewatan!’ begitu pikir saya. Tak lama, “Eh, bentar lagi 78 tuh,” kata kondekturnya. Saya juga diberi tahu kalau harus berjalan kaki dulu dan berjalan terus sampai di sebelah kiri itu 78. Syukurlah, setidaknya saya tidak tersesat.

Sejak saat itu kisah-kisah indah bermula. Sayang sekali saya baru sadar belakangan kalau sejak awal sudah indah.

Baca juga:
Daftar Yuk!
Akhirnya Saya Tahu Besok Harus Ke Mana

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s