Tiga Jam Lagi, Semoga Diberi yang Terbaik

“Hei, tahu tidak? SNMPTN kurang dari sebulan lagi tapi aku belum nentuin mau masuk mana.”
“Tan … Tan … Demi apa?” teman saya itu menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali berkutat dengan soal-soal biologinya.
“Jangan dicontoh, ya!” kata saya sok menasihati.
***

Sungguh, saya sangat berharap diterima di FKUI lewat jalur undangan. Efek buruknya, itu membuat belajar saya jadi setengah-setengah. Di satu sisi saya yakin diterima sedang di sisi lain saya tidak yakin sama sekali.

Lantaran saya ingin serius, maka saya pun konsultasi dengan orang yang berpengalaman di bidang ini.
Konselor: Latansa cita-citanya mau jadi apa?
Latansa: Mmm … Mau jadi dokter.
Konselor: Oh dokter. Sudah lihat nilai TO (Try Out)-nya? Coba kita lihat. Pilihan 1 Pendidikan Dokter UI, pilihan 2 kok kosong?
Latansa: Soalnya saya bingung mau pilih apa.
Konselor: Kenapa maunya cuma di UI? Kan banyak FK di tempat lain juga.
Latansa: Sebenarnya saya lebih berat di UI daripada di FK.
Konselor: Maksudnya?
Latansa: Saya lebih ingin kuliah di UI daripada di FK. Jurusan IPA yang bagus apa ya?
Konselor: Semuanya bagus, tapi untuk SNMPTN tulis, kuotanya UI dikit. Mending kamu ambil FK di tempat lain aja. Oh ya, kamu nggak pingin jadi selain dokter?
Latansa: Apa ya … Saya juga bingung. Kalau akuntan gimana?
Konselor: Oh iya, kamu nggak jadi IPC?
Latansa: Nggak ah, saya pusing.
Konselor: Kalau menurut saya sih nggak pa-pa kamu ambil IPC, yang penting kamu fokus di IPA. Kalau kemampuan dasarmu sudah bagus, jangan-jangan kita hanya butuh menjawab 10 soal di kemampuan IPS.
Latansa: Ya udah.

Intinya, saya tidak terlalu banyak bicara dan voila! Keluar dari ruangan itu saya membawa kertas. Semacam resep dokter. Isinya rekomendasi jurusan SNMPTN 2011.

Program Studi: IPC
1. Pend. Dokter UI
2. Akuntansi UI
3. Pend. Dokter UNAIR

Saya lipat kertas itu dan saya simpan begitu saja di dalam tas. Beberapa hari kemudian teman-teman saya penasaran resep apa yang diberikan kepada saya. Saya pun mencari-cari kertas tersebut di tas saya. Saya perlihatkan pada mereka.

“Latansa jadi IPC?” tanya salah satu di antara mereka.
“Iya.”

Kulihat kening mereka mengerut. Kemudian mereka berdiskusi pelan sambil menunjuk-nunjuk tulisan di kertas tersebut.

“Ini … Latansa udah tahu passing grade-nya kan?” mereka mencoba memastikan.
“Iya.”
“Nggak pa-pa ambil UNAIR? Itu nggak beda jauh sama UI, lho! Kalau aku sih kalau nggak UNPAD ya UIN.”

Deg! Passing grade! Benar, yang saya pilih itu passing grade-nya tinggi semua. Waktu konsultasi saya sama sekali tidak mempertimbangkan passing grade. Waduh, bagaimana ini? Kemudian saya jadi bingung kenapa konselor saya mengiyakan saja sewaktu saya meminta dituliskan pilihan-pilihan tersebut.

UIN? Kenapa tidak pilih UIN Jakarta saja, ya? Passing grade-nya lebih rendah dari UNAIR dan di Jakarta. Saya jadi berpikir apa mungkin konselornya mengira saya pintar lalu mengira saya pasti diterima di Kedokteran UI atau Akuntansi UI. Bagaimanapun, semoga saja saya jadi benar-benar pintar.

Saya melihat jam di dinding, pengumuman SNMPTN jalur Undangan tinggal beberapa jam lagi. Semoga saya diterima di Pendidikan Dokter UI. Amin.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s