Monthly Archives: June 2011

Akhirnya Saya Tahu Besok Harus Ke Mana 2

Hasil SNMPTN 2011 Jalur Ujian Tertulis

Selamat, anda diterima di (312013) ILMU HUKUM, UNIVERSITAS INDONESIA.

Buat semuanya saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Baca juga:

Akhirnya Saya Tahu Besok Harus Ke Mana

Tentang SNMPTN, Saya, dan Kamu

1 Comment

Filed under Uncategorized

Harganas

Selamat Hari Keluarga!

Memang sekarang Hari Keluarga? Bukan. Hari Keluarga Nasional itu jatuh pada tanggal 29 Juni. Saya membuat tulisan ini karena nanti mau puasa online lagi selama beberapa jam.

Tanggal 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Sebuah hari yang mengandung nilai sejarah, karena menjadi tanda dimulainya hari Kebangkitan. Bangkitnya kesadaran keluarga Indonesia untuk membangun dirinya ke arah keluarga kecil melalui Keluarga Berencana (KB).

Hari itu merupakan puncak kristalisasi semangat para pejuang KB untuk memperkuat dan memperluas program KB. Dalam perjalanannya, program KB berkembang secara pesat dan mengubah program KB menjadi suatu ‘Gerakan Masyarakat’ yang mantap dan menampakkan hasil-hasil yang nyata. Hasil nyata itu berupa semakin meningkatnya jumlah keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Dengan latar belakang itu pula, maka tanggal 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional, yang bertepatan dengan tanggal dimulainya Gerakan KB Nasional tahun 1970.

Hari Keluarga Nasional dicanangkan di Lampung pada 29 Juni 1993 oleh Presiden Soeharto. Selanjutnya, Harganas diperingati secara berturut-turut setiap tahun.

Pada akhirnya saya jadi bertanya, sejauh manakah keberhasilan Program KB yang tahun ini berumur 41 tahun itu?

Realita yang saya temui yaitu terkadang jumlah anak tidak memiliki hubungan yang pasti dengan kualitas kehidupan keluarga tersebut. Ada yang anaknya satu atau dua tetapi kualitas kehidupan keluarga tersebut tidak baik. Sedangkan ada yang anak-anaknya lebih dari dua dan kualitas kehidupan keluarga tersebut baik.

Bagi saya, yang namanya keluarga berencana itu baik. Telah banyak contoh yang membuktikan bahwa kehidupan yang terencana membawa banyak manfaat. Namun, tentang jumlah anak itu tergantung rencana masing-masing keluarga. Mau satu, dua, tiga, dan seterusnya itu terserah. Hal terpenting adalah bagaimana membuat rencana yang membawa kemaslahatan bagi pembangunan peradaban yang baik dan upaya kita mewujudkan rencana itu. Betul, tidak?

Keluarga Berencana
Sudah waktunya
Janganlah diragukan lagi
Keluarga Berencana besar maknanya
Untuk hari depan nan jaya
Putra-putri yang sehat
Cerdas dan kuat
Kan menjadi harapan bangsa
Ayah-ibu bahagia rukun raharja
Rumah tangga aman sentosa

*Karena orang-orang anggota keluarga saya bukan orang-orang yang suka kalau fotonya disebar, saya pakai foto ini. Hayo tebak, ini keluarga apa?
**Kata kepala keluarga, “Ckckck … anak-anak kok nakal, ya?”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tanya Jawab

Saya percaya Allah berbicara. Lewat kejadian alam, manusia, juga nuraniku. Ada makna di balik semua pertanda, kalimat, juga keresahan. Semuanya terangkum menjadi sebuah makna yang satu. Tak ada pertentangan di dalamnya.

Namun, terkadang menerima suatu kebenaran itu sulit. Selalu ada yang harus dikorbankan sebagai bentuk kesepakatan terhadap kebenaran itu. Selalu cinta dunia yang harus dikorbankan. Memang sulit, tapi bisa.

Ada banyak kalimat tanya yang berkelebat, berlarian, bertubrukan, mencoba mencari arah yang tepat. Arah di mana jawaban itu berada. Namun, mengapa ketika mereka berdua (tanya dan jawab) saling bertemu, masih ada saja yang tak mau menerima?

Saya sering bertanya mengapa begini, mengapa begitu, bagaimana ini, bagaimana itu. Allah kemudian menjawabnya dengan berbagai cara. Jawaban-Nya tak hanya diberi sekali, selalu ada penjelasan dan penegasan terhadap jawaban itu.

Me-nga-pa-su-lit-pa-da-hal-a-ku-bi-sa? Selalu itu. Ya, selalu itu yang hadir ketika saya sulit untuk menerima suatu kebenaran. Saya mencoba untuk kembali membangun logika yang sering dirubuhkan oleh musuh terbesar saya. Bagaimanapun, musuh terbesar itu adalah diri saya sendiri.

Karena
Kebaikan itu putih
Keburukan itu hitam
Tak ada daerah abu-abu di antaranya
Selalu ada batas yang jelas
Antara kebaikan dan keburukan

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Wis = Uda

SCI di Bulan Mei 2011 …

Dulu sekali, saya sangat ingin menceritakan tentang wisuda SMA saya. Saya sangat ingin menceritakan betapa senangnya lulus SMA. Namun itu dulu. Setelah merasakan bagaimana rasanya diwisuda saya jadi tidak ingin menceritakan wisuda ini kepada siapa-siapa. Biar begitu saya tahu kalau kamu pasti ingin mengetahui cerita saya. Ya, bukan? Mengaku sajalah. Kalau tidak, katakan saja iya supaya saya senang.

Hari itu Kamis tanggal 26 Mei 2011. Di awal pagi, saya sedang bercanda dengan adik-adik saya. Tiba-tiba saya melihat bapak saya memakai pakaian rapi.

Lho, kamu kok nggak mandi? Katanya mau wisuda,” ujar bapak saya.
‘Kan wisudanya nanti jam sembilan.”
“Ya udah, siap-siap sana!”
“Ini jam berapa? Baru jam enam.”
“Ya mestinya kita udah sampai sana jam delapan.” Bagaimanapun, saya tetap saja malas-malasan.

Saya pun akhirnya berangkat pukul setengah delapan. Saya memakai kebaya dan membawa ransel yang berisi baju ganti karena saya tahu pasti saya ditinggal. Nantinya saya akan pulang sendiri. Saya tahu di tengah acara pasti orang tua saya menghilang.

Ternyata, jalanan macet. Memang begitu, justru kalau tidak macet baru boleh heran. Di perjalanan saya diceramahi pentingnya berangkat pagi. Saya hanya bisa memasang tampang bosan sambil mengucap dalam hati, “Pun kalau kita dah sampai sana acara juga belum dimulai.”

Di tengah kebosanan yang melanda, saya malah dikirimi pesan maaf-tidak-dapat-menyaksikan-kebahagiaanmu. Saya menatap kosong lama sekali. Saya ‘kan sengaja pakai kebaya ini supaya serasi sama pakaianmu … Kemudian terlintas angan-angan lainnya. Why are you so sad … And why is it so bad … When some one leaves you behind … Won’t you ever know … Don’t you realize … It’s just a part of life … When you fall in love … With some one some time … It’s smile with a broken heart … Begitulah bunyi lirik lagu yang sedang diputar. Nyesss, sepertinya ini menegur saya. Manusia … manusia …Gampang sekali dibisi syaitan.

Oce, saya sampai di sekolah pukul sembilan. Benar saja, acara memang belum dimulai. Saya disambut teman saya yang masih kelas sebelas. Ada beberapa anak kelas sebelas yang hadir dalam acara tersebut demi menyaksikan sahabat-sahabat SCI mereka diwisuda. “Terima kasih sudah mau difoto. Silakan ke sana, SCI paling pojok,” katanya sambil menunjukkan arah.

Masa-masa sebelum pengalungan wisuda diisi dengan obrolan teman-teman sekelas. “Udah dapat tempat kost?” “Berkas yang itu kapan dikumpulin sih?” “Alamat lu yang di Bandung di mana?” Ya, kamu mengerti bagaimana mental saya saat itu.

Saya pindah ke barisan anak perempuan yang paling depan. Di depan saya, duduk para lelaki SCI yang sesekali mencuri pandang ke belakang, ke arah perempuan. Ada anak perempuan yang baru datang, lalu ada yang menimpali, “Wah, dia hari ini beda sekali, ya.” Lainnya diam saja. Sekali menoleh, lalu melihat ke depan lagi. Ah, mengapa konsep hijab paling dimengerti justru oleh orang-orang seperti mereka. Saya pun melihat sekitar saya. Siswa-siswi kelas lain duduknya campur. Di kelas saya, jarang sekali ada siswa-siswi yang duduk berdekatan. Memang, hanya orang-orang berpikirlah yang mampu menjalankan kesempurnaan.

Kelas saya diwisuda kedua dari terakhir, sebelum kelas internasional. Saya menitipkan kamera ke bapak teman saya. Kalau bapak saya entah duduk di mana. Saat berjalan ke tempat wisuda, saya melihat bapak saya asyik dengan bacaannya. ‘Oh, masih ada,’ ujar saya.

“Latansa Izzata, dengan nilai rata-rata ujian nasional …” suara dari pengeras suara itu memberikan aba-aba kepada saya untuk melangkah. Pak Kepala Sekolah mengalungi medali wisuda. Pak Penasihat Akademik memberi map. Bu Ketua Komite memberi mawar merah. Saya berhenti sejenak karena orang selanjutnya (tak tahu siapa dan apa jabatannya) sedang berbicara dengan orang di belakangnya. Wanita itu kemudian sadar bahwa saya ingin menyalaminya. “Selamat ya, Nak. Diterima di mana?” tanyanya sambil menggenggam tangan saya. Saya tersenyum, “Belum.” Wanita berkebaya ungu itu menatap dengan tatapan janggal. Saya memberi isyarat kalau tangan saya belum dilepas. “Oh ya,” beliau pun melepas tangan saya. Sebenarnya beliau mengucapkan sesuatu tapi saya lupa semoga apa.

Saya pun turun, mengintip nilai rapor semester akhir, lalu menutupnya kembali. Tiba-tiba bapak saya datang. “Udah, kan? Kamu mau foto di situ?” bapak saya menunjuk tempat dengan latar belakang rak buku lalu memberi saya uang. “Ayo kita foto,tapi antri-nya panjang,” kata saya. “Kamu kalau mau foto ya foto aja. Dah ya, ditinggal dulu, mau rapat,” kata beliau. Yah, tidak seru kalau saya foto sendiri.

Selanjutnya adalah sesi berfoto dengan teman-teman sekelas. Selesai berfoto, bapak teman saya memberi kamera ke seorang teman saya. “Maaf, ini bukan punya saya. Ini punya Latansa,” teman saya itu memberikan pada saya. “Waduh, berarti dari tadi saya salah foto. Itu isinya foto-foto kamu semua,” ujar beliau sambil menepuk kening. Aneh, hari itu saya ditimpa hal-hal tidak menyenangkan berkali-kali.

Setelah selesai acara, saya mengobrol dengan ibu teman saya. Katanya kalau nanti saat saya kuliah beliau menyarankan tinggal di sebelah tempat kost anaknya. Semoga bisa satu jurusan dengan anaknya. Setelah beliau berkata seperti itu, saya jadi ingin satu jurusan. Sulit memang, saya menaruh jurusan itu di pilihan kedua dan kuotanya dari SNMPTN Jalur Ujian Tertulis hanya dua belas orang.

Pulangnya, saya menempel kata-kata motivasi di kamar. Saya mencoba belajar. Menurut saya, inilah motivasi yang paling ampuh. Bukan dengan kata-kata yang dirangkai indah, video-video, atau teriakan penuh semangat. Justru obrolan teman sekelas, pertanyaan orang tak dikenal, serta tawaran tempat kost-lah yang membuat saya jadi belajar. Hebat, sejak saat itu racun semangat masih terasa efeknya, bahkan sampai sekarang. Alhamdulillah akhirnya saya bisa rajin belajar.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Romansa Enam Bertiga

Serba Pertama
Pertama kali saya gabung di Multiply waktu saya masih SMP dan sekarang saya sudah …. Ah, masih sebentar. Tanggalnya 25 Agustus 2008 (semoga tidak salah). Sayangnya saya tidak rajin menulis blog sehingga meski sudah lebih dari setahun, blog saya sedikit.

Kiriman saya yang pertama adalah sebuah blog yang berjudul Kini Latansa hadir di multiply. Kiriman itu dikirim tanggal 27 Agustus 2008 pukul 16.26 WIB. Saya bingung kenapa tidak ada tulisan selain judulnya. Mungkin karena waktu itu saya masih awam soal Multiply atau dulu belum ada catatan cepat (QN).

Jujur, saya tidak ingat kontak pertama saya. Lebih tepatnya tidak tahu. Begitu punya Multiply saya mengundang banyak orang untuk menjadi kontak dan keesokan harinya kontak saya sudah ada beberapa. Sebenarnya bisa saja saya mengeceknya di surat elektronik, tetapi ternyata sudah dihapus.

Belum ada yang namanya kopdar pertama. Sampai sekarang saya tidak pernah ikut kopdar. Saya ingin sekali kopdar, tapi adakah yang mau kopdar dengan saya? Paling-paling saya pernah tidak sengaja bertemu dengan Saudari Hasna di Masjid Sunda Kelapa dan Mbak Enif di Museum Fatahillah. Kalau yang lainnya bertemu di sekolah. Selain itu belum bertemu.

Kalau tidak salah lomba yang pertama saya ikuti itu lomba cerpen. Saya bahkan tidak ingat ceritanya tentang apa. Kalau tidak salah tentang gadis kecil yang mengidap penyakit. Saya lupa lanjutannya apa. Saya juga tidak ingat siapa yang mengadakan.

Mau tahu headshot saya yang pertama? Rupanya sudah saya hapus dari Multiply. Tadinya ada di foto profil. Di foto itu usia saya masih 12 tahun. Heran, waktu itu banyak orang yang mengira saya berusia 20-40 tahun. Padahal jelas-jelas saya pakai headshot anak kecil. Kalau penasaran bisa lihat di sini. Bila sudah melihat disarankan untuk segera menutupnya.

Semua Tentang Kontak
Kontak terlama yang masih aktif itu Mas Bambang Priantono. Dari dulu sampai sekarang beliau masih aktif nge-MP. Saya bingung kenapa orang-orang yang dulunya sangat aktif sekarang sudah tidak kelihatan lagi.

Kontak yang paling sering ditemui kirimannya itu Tuan Francis Yip. Namun, sampai sekarang saya belum paham beliau itu sebenarnya berjualan apa. Mungkin karena kirimannya terlalu banyak hingga setiap saya melihatnya langsung saya lewati.

Kontak yang tempat tinggalnya ingin saya kunjungi itu semuanya. Semua orang sangat spesial. Setidaknya saya masih bisa mengunjungi tempat tinggal mereka yang di Kampung Multiply. Tinggal klik alamatnya langsung sampai.

Dulu, setiap ada orang yang mampir ke tempat saya selalu saya undang untuk menjadi kontak. Jadi, hingga sekarang masih banyak yang masih pending. Tidak ada yang ingin sekali untuk dia approve.

Kalau ditanya siapa kontak yang ingin ditemui ya jawabannya semua. Apalagi saya tidak pernah kopdar. Semoga nanti ada yang mengajak saya kopdar dan saya bisa menghadirinya. Namun yang paling ingin saya temui itu Saudari Aulia Nastiti. Sebenarnya dia teman sekolah saya. Entah sekolah saya terbuat dari apa sehingga biar satu sekolah pun belum tentu sering bertemu.

Kontak terakhir yang memberikan sesuatu pada saya itu banyak. Tergantung sesuatunya itu apa. Kalau kontak yang terakhir memberikan buku pada saya itu Mb4h Farid Ikhsan Asbani. Itu sudah lama, hadiah lomba yang diadakannya. Waktu itu saya pulang sekolah, mbak di rumah mengatakan kalau ada yang mengirim sesuatu pada saya, barangkali surat cinta. Sebenarnya waktu itu semangat, ‘Wah, siapa tuh? Kenapa nggak langsung ketemu aku aja?’ Saya kecewa ternyata itu buku yang dikirim Mas Farid. Mungkin karena nama pengirimnya adalah nama laki-laki langsung menyimpulkan begitu. Lagipula mana ada surat cinta setebal itu.

Semua Tentang Aktivitas MP Terbaru
Berhubung saya tidak pernah diskusi di MP, jadi tidak ada yang paling seru. Bagaimana bisa diskusi ya, komentar saya saja pendek-pendek.

OOT terakhir yang paling gila itu ‘yang sabar ya’. Saya sering mengirim itu pada kontak-kontak saya meski sering kali tidak nyambung sama sekali dengan kirimannya. Kalau kamu dapat komentar seperti ini, pokoknya yang sabar ya.

Kegiatan MPers terakhir yang terakhir saya ikuti itu ya ini, romansa enam bertiga. Saya dapat timpukan dari Mas Chusnul Mustain. Saya juga tidak ingin secara khusus menimpuk orang, jadi yang baca ini semustinya membuat ini juga, tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Silakan baca ketentuannya di sini.

Tolong beri tahu tentang komentar terusan di lapak orang terakhir yang dilakukan. Komentar terusan itu komentar balasan atau apa ya?

Kiriman paling mencerahkan hari saya terakhir kali itu video kiriman Bunda Yulia R. Liman. Video tentang kopi dan wadahnya. Pengaruhnya, setelah saya menonton itu saya jadi ingin meminum kopi. Sabar …

Hal terakhir yang saya bagikan di Multiply adalah Tentang SNMPTN, Saya, dan Kamu. Ketika saya selesai mengetik blog itu, saya sampai di titik tidak lagi meratapi SNMPTN. Rasanya plong! Saya ditanamkan pengertian dari situ. Kejadian itu memang sebentar, tapi hikmah dari kejadian itu berusia lama.

Ingat ya, semustinya yang melihat kiriman ini membuat kiriman seperti ini juga.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tentang SNMPTN, Saya, dan Kamu

Sebelumnya, saya bercerita tentang SNMPTN Jalur Undangan., tentang keoptimisan saya, tentang angan-angan saya, juga harapan saya. Setelah itu, tibalah saat eksekusi. Sebuah malam yang dingin. Langit pekat tampak akan hujan. Jam GMT +7 menunjukkan pukul 19.00.

Kakak mengetik nomor pendaftarannya lalu memasukkan tanggal lahir. Tidak lolos seleksi. Deg! Bagaimana bisa? Bukankah PTN keduanya itu hanyalah sebuah PTN biasa? Saya terpaku. Bagaimana ini? Kalau saya diterima kasihan dia, kalau saya tidak diterima kasihan orang tua saya. “Dien, ayo buka punyamu! Buka, Dien!” teriak kakak. Sungguh, saya ingin membukanya tanpa ada orang lain yang melihat.

Ketika saya buka, hasilnya sama. Tidak lolos juga. Di luar dugaan, bagaimana bisa? Ah, sudahlah, semuanya bisa saja terjadi. Saya pun membuka forum SCI. Ramai kami berkumpul di situ. Masing-masing dari kami disuruh melapor. UI! UI! ITB! UI! ITB! Saya hanya bisa menjawab belum. Ponsel saya bergetar terus tanda SMS masuk. Semuanya menanyakan hal yang sama. Saya membalas semua dengan kata maaf. Begitu juga dengan kotak dialog chat, tambah banyak saja yang bertanya. Saya ditelepon untuk ditanyai, “Kok bisa?” Mana saya tahu? Langit yang tadinya mendung, menitikkan air hujannya.

Sebenarnya saya tahu kenapa. Saya dan kakak menaruh FK di pilihan pertama. Walaupun seharusnya kami diterima di pilihan kedua, kenyataannya tidak. Berkas kami—juga orang-orang yang belum beruntung lainnya—langsung dibuang begitu kami tidak diterima di pilihan pertama. Apa pun pilihan kedua kami, sebagus apa pun nilai rapor kami.

Awalnya, kehidupan di sekolah semakin hari hanya sedikit perubahannya. Namun, setelah malam itu hari-hari di sekolah terasa berat. Sama beratnya bagai di awal SMA. Mungkin agak ringan karena saya tidak perlu terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Sejak malam itu, saya tidak enak lagi datang ke sekolah. Memang, saya tidak perlu datang ke sekolah karena sudah lulus. Meski begitu, saya suka menemui teman-teman saya, yang kini status mereka adalah adik kelas.

Setiap bertemu seseorang, dia pasti akan bertanya pada saya, “Latansa masuk mana?” Saya pun menjawab sambil mencoba tersenyum, “Belum.” Kemudian biasanya orang itu terdiam sejenak mencerna makna kalimat saya. “Semangat, Sa! Masih banyak kesempatan! Kamu pasti bisa!” Begitulah yang terjadi dari teman-teman, senior, junior, juga guru-guru saya.

Kehidupan di tempat bimbel pun juga terasa tak bersahabat. Kelas yang tadinya ramai oleh celotehan, lemparan bantal, dan tawa lelucon kini tidak lagi. Sepi. Hanya tersisa tiga orang di kelas saya. Kami duduk berjauhan, menyudutkan diri di sudut ruangan, duduk memeluk kaki sambil membaca buku. Kakak pengajar bertanya, “Lho, kok cuma bertiga? Yang lain mana?” Kami tiga berpandangan sambil mengisyaratkan, ‘Siapa mau jawab?’ Hening sejenak. Teman saya angkat suara, “‘Kan, yang lainnya udah diterima, Kak.” Berat rasanya.

Sungguh, saya tidak bersedih karena saya tidak diterima. Saya tidak pernah menangisi hal itu. Hanya saja mental saya kurang kuat menerima dampaknya. Ada hampir seratus orang di sekolah saya yang sudah diterima di perguruan tinggi tetapi tidak termasuk nama saya. Pertanyaan-pertanyaan Latansa masuk mana, obrolan teman-teman sekelas yang berganti topik, serta kesendirian yang tidak jelas. Saya tidak tahu bagaimana mental saya kalau tidak ada orang-orang yang menyemangati saya. Mungkin lebih buruk.

Saya pun akhirnya mengikuti SNMPTN Jalur Ujian Tertulis, sesuatu yang tidak ingin saya ikuti sebelumnya. Saya perlu cepat-cepat mendaftar karena pendaftarannya akan ditutup beberapa hari lagi. Di bank, saya melihat banyak sekali orang-orang tidak beruntung lainnya. Saya tahu alasannya bukan karena tidak cukup nilai, berkas mereka juga langsung dibuang begitu tidak diterima di pilihan pertama. Saya juga bertemu teman saya, “Latansa? Nggak diterima?” Ditambah lagi saat saya membeli PIN, saya ditemani teman saya yang dulu pernah memaksa saya berjanji menemaninya kalau membeli PIN. Sayang, dia sudah diterima di Universitas Indonesia lewat Jalur Undangan.

Di rumah pun tak jauh beda.
Bapak saya (P): “Di sekolahmu yang masuk FKUI lewat undangan ada berapa?”
Saya (L): “Satu.”
P: “Itu yang masuk FKUI dari 78 anaknya teman papi, kepala KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara—pen.).”
L: “Dia cerita-ceritatah kalau anaknya masuk FKUI?”
P: “Nggak, dia bilang dia habis nyari tempat kost. Terus tanya anaknya diterima di mana. Katanya FKUI. Ternyata anaknya 78 juga.”
Sungguh tidak memperbaiki keadaan.

Saya pun menjalani ujian SNMPTN di SMA Negeri 79, hanya beda satu nomor dari sekolah saya. Sekolah tersebut berlokasi di bilangan Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Saya bareng dengan kakak. Kami memang sengaja memperhitungkan sedemikian rupa bagaimana caranya supaya kami dapat satu lokasi dan lokasi tersebut dekat dari rumah. Kami menunggu waktu pendaftaran yang tepat meski menunda itu berisiko. Terlambat beberapa menit saja bisa membuat lokasinya sangat jauh. Hebat, kalkulasi kakak berhasil. Banyak teman saya yang dapat lokasi ujiannya di Jakarta Timur dan tidak ada temannya yang kebetulan satu lokasi.

Di hari pertama saya mengerjakan Tes Potensi Akademik dan Tes Bidang Studi Dasar (Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris). Tidak ada pertanyaan sinonim atau antonim juga gambar. Padahal itu favorit saya. Teks Bahasa Indonesia dan Inggris pun menyita banyak waktu saya.

Di hari kedua saya mengerjakan Tes Bidang Studi IPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi) dan Tes Bidang Studi IPS (Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi). Saya telah menghitung berapa nomor per pelajarannya yang perlu saya jawab. Saya kaget karena orang lain menjawab lebih banyak. Saya tak berani menjawab banyak karena bisa mengurangi poin kalau salah.

Setelah itu, perjuangan saya belum usai. Saya masih ingin kuliah di FKUI dan berencana mengejarnya di Seleksi Masuk UI (Jalur Ujian Mandiri). Entah mengapa saya beranggapan ada peluang besar menanti saya. Saya memang mengejar prestise, tapi bukan untuk diri saya. Ini untuk agama saya, organisasi saya, keluarga saya, juga cita-cita besar saya. Sungguh, sejak kecil saya tak pernah ingin menjadi dokter. Kasus-kasus malapraktik sudah cukup membuat saya ketakutan. Namun, ada banyak misi yang saya emban dapat terlaksana dengan sukses apabila prestise saya baik. Semoga kalian mengerti.

Saya pun menatap dinding, lalu menemukan tulisan: “Berapa banyak ujian yang dirasakan seseorang hampir saja memutuskan harapannya, kemudian ia melihat ternyata ujian itulah yang dapat menumbuhkan kebaikan dari hidupnya.” Teman saya pernah memarahi saya atas tindakan yang diniliainya cukup konyol. “Pokoknya, kalau kamu diterima di undangan pilihan kedua, ketiga, seterusnya, kamu harus lepas! Apa-apaan kamu pilih jurusan begituan! Kenapa sih kamu nggak yakin sama dirimu sendiri? Kamu berhak dan sangat harus mendapat jurusan yang lebih baik! Nggak yakin di ujian tertulis? Kenapa? Wong, kamu nggak perlu jawab semua,” cecarnya bahkan lebih panjang lagi.

Baca juga:
DAFTAR SISWA YANG MASUK KE PERGURUAN TINGGI
Maaf
Tiga Jam Lagi, Semoga Diberi yang Terbaik

Leave a comment

Filed under Uncategorized