Tentang SNMPTN, Saya, dan Kamu

Sebelumnya, saya bercerita tentang SNMPTN Jalur Undangan., tentang keoptimisan saya, tentang angan-angan saya, juga harapan saya. Setelah itu, tibalah saat eksekusi. Sebuah malam yang dingin. Langit pekat tampak akan hujan. Jam GMT +7 menunjukkan pukul 19.00.

Kakak mengetik nomor pendaftarannya lalu memasukkan tanggal lahir. Tidak lolos seleksi. Deg! Bagaimana bisa? Bukankah PTN keduanya itu hanyalah sebuah PTN biasa? Saya terpaku. Bagaimana ini? Kalau saya diterima kasihan dia, kalau saya tidak diterima kasihan orang tua saya. “Dien, ayo buka punyamu! Buka, Dien!” teriak kakak. Sungguh, saya ingin membukanya tanpa ada orang lain yang melihat.

Ketika saya buka, hasilnya sama. Tidak lolos juga. Di luar dugaan, bagaimana bisa? Ah, sudahlah, semuanya bisa saja terjadi. Saya pun membuka forum SCI. Ramai kami berkumpul di situ. Masing-masing dari kami disuruh melapor. UI! UI! ITB! UI! ITB! Saya hanya bisa menjawab belum. Ponsel saya bergetar terus tanda SMS masuk. Semuanya menanyakan hal yang sama. Saya membalas semua dengan kata maaf. Begitu juga dengan kotak dialog chat, tambah banyak saja yang bertanya. Saya ditelepon untuk ditanyai, “Kok bisa?” Mana saya tahu? Langit yang tadinya mendung, menitikkan air hujannya.

Sebenarnya saya tahu kenapa. Saya dan kakak menaruh FK di pilihan pertama. Walaupun seharusnya kami diterima di pilihan kedua, kenyataannya tidak. Berkas kami—juga orang-orang yang belum beruntung lainnya—langsung dibuang begitu kami tidak diterima di pilihan pertama. Apa pun pilihan kedua kami, sebagus apa pun nilai rapor kami.

Awalnya, kehidupan di sekolah semakin hari hanya sedikit perubahannya. Namun, setelah malam itu hari-hari di sekolah terasa berat. Sama beratnya bagai di awal SMA. Mungkin agak ringan karena saya tidak perlu terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Sejak malam itu, saya tidak enak lagi datang ke sekolah. Memang, saya tidak perlu datang ke sekolah karena sudah lulus. Meski begitu, saya suka menemui teman-teman saya, yang kini status mereka adalah adik kelas.

Setiap bertemu seseorang, dia pasti akan bertanya pada saya, “Latansa masuk mana?” Saya pun menjawab sambil mencoba tersenyum, “Belum.” Kemudian biasanya orang itu terdiam sejenak mencerna makna kalimat saya. “Semangat, Sa! Masih banyak kesempatan! Kamu pasti bisa!” Begitulah yang terjadi dari teman-teman, senior, junior, juga guru-guru saya.

Kehidupan di tempat bimbel pun juga terasa tak bersahabat. Kelas yang tadinya ramai oleh celotehan, lemparan bantal, dan tawa lelucon kini tidak lagi. Sepi. Hanya tersisa tiga orang di kelas saya. Kami duduk berjauhan, menyudutkan diri di sudut ruangan, duduk memeluk kaki sambil membaca buku. Kakak pengajar bertanya, “Lho, kok cuma bertiga? Yang lain mana?” Kami tiga berpandangan sambil mengisyaratkan, ‘Siapa mau jawab?’ Hening sejenak. Teman saya angkat suara, “‘Kan, yang lainnya udah diterima, Kak.” Berat rasanya.

Sungguh, saya tidak bersedih karena saya tidak diterima. Saya tidak pernah menangisi hal itu. Hanya saja mental saya kurang kuat menerima dampaknya. Ada hampir seratus orang di sekolah saya yang sudah diterima di perguruan tinggi tetapi tidak termasuk nama saya. Pertanyaan-pertanyaan Latansa masuk mana, obrolan teman-teman sekelas yang berganti topik, serta kesendirian yang tidak jelas. Saya tidak tahu bagaimana mental saya kalau tidak ada orang-orang yang menyemangati saya. Mungkin lebih buruk.

Saya pun akhirnya mengikuti SNMPTN Jalur Ujian Tertulis, sesuatu yang tidak ingin saya ikuti sebelumnya. Saya perlu cepat-cepat mendaftar karena pendaftarannya akan ditutup beberapa hari lagi. Di bank, saya melihat banyak sekali orang-orang tidak beruntung lainnya. Saya tahu alasannya bukan karena tidak cukup nilai, berkas mereka juga langsung dibuang begitu tidak diterima di pilihan pertama. Saya juga bertemu teman saya, “Latansa? Nggak diterima?” Ditambah lagi saat saya membeli PIN, saya ditemani teman saya yang dulu pernah memaksa saya berjanji menemaninya kalau membeli PIN. Sayang, dia sudah diterima di Universitas Indonesia lewat Jalur Undangan.

Di rumah pun tak jauh beda.
Bapak saya (P): “Di sekolahmu yang masuk FKUI lewat undangan ada berapa?”
Saya (L): “Satu.”
P: “Itu yang masuk FKUI dari 78 anaknya teman papi, kepala KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara—pen.).”
L: “Dia cerita-ceritatah kalau anaknya masuk FKUI?”
P: “Nggak, dia bilang dia habis nyari tempat kost. Terus tanya anaknya diterima di mana. Katanya FKUI. Ternyata anaknya 78 juga.”
Sungguh tidak memperbaiki keadaan.

Saya pun menjalani ujian SNMPTN di SMA Negeri 79, hanya beda satu nomor dari sekolah saya. Sekolah tersebut berlokasi di bilangan Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Saya bareng dengan kakak. Kami memang sengaja memperhitungkan sedemikian rupa bagaimana caranya supaya kami dapat satu lokasi dan lokasi tersebut dekat dari rumah. Kami menunggu waktu pendaftaran yang tepat meski menunda itu berisiko. Terlambat beberapa menit saja bisa membuat lokasinya sangat jauh. Hebat, kalkulasi kakak berhasil. Banyak teman saya yang dapat lokasi ujiannya di Jakarta Timur dan tidak ada temannya yang kebetulan satu lokasi.

Di hari pertama saya mengerjakan Tes Potensi Akademik dan Tes Bidang Studi Dasar (Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris). Tidak ada pertanyaan sinonim atau antonim juga gambar. Padahal itu favorit saya. Teks Bahasa Indonesia dan Inggris pun menyita banyak waktu saya.

Di hari kedua saya mengerjakan Tes Bidang Studi IPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi) dan Tes Bidang Studi IPS (Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi). Saya telah menghitung berapa nomor per pelajarannya yang perlu saya jawab. Saya kaget karena orang lain menjawab lebih banyak. Saya tak berani menjawab banyak karena bisa mengurangi poin kalau salah.

Setelah itu, perjuangan saya belum usai. Saya masih ingin kuliah di FKUI dan berencana mengejarnya di Seleksi Masuk UI (Jalur Ujian Mandiri). Entah mengapa saya beranggapan ada peluang besar menanti saya. Saya memang mengejar prestise, tapi bukan untuk diri saya. Ini untuk agama saya, organisasi saya, keluarga saya, juga cita-cita besar saya. Sungguh, sejak kecil saya tak pernah ingin menjadi dokter. Kasus-kasus malapraktik sudah cukup membuat saya ketakutan. Namun, ada banyak misi yang saya emban dapat terlaksana dengan sukses apabila prestise saya baik. Semoga kalian mengerti.

Saya pun menatap dinding, lalu menemukan tulisan: “Berapa banyak ujian yang dirasakan seseorang hampir saja memutuskan harapannya, kemudian ia melihat ternyata ujian itulah yang dapat menumbuhkan kebaikan dari hidupnya.” Teman saya pernah memarahi saya atas tindakan yang diniliainya cukup konyol. “Pokoknya, kalau kamu diterima di undangan pilihan kedua, ketiga, seterusnya, kamu harus lepas! Apa-apaan kamu pilih jurusan begituan! Kenapa sih kamu nggak yakin sama dirimu sendiri? Kamu berhak dan sangat harus mendapat jurusan yang lebih baik! Nggak yakin di ujian tertulis? Kenapa? Wong, kamu nggak perlu jawab semua,” cecarnya bahkan lebih panjang lagi.

Baca juga:
DAFTAR SISWA YANG MASUK KE PERGURUAN TINGGI
Maaf
Tiga Jam Lagi, Semoga Diberi yang Terbaik

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s