Wis = Uda

SCI di Bulan Mei 2011 …

Dulu sekali, saya sangat ingin menceritakan tentang wisuda SMA saya. Saya sangat ingin menceritakan betapa senangnya lulus SMA. Namun itu dulu. Setelah merasakan bagaimana rasanya diwisuda saya jadi tidak ingin menceritakan wisuda ini kepada siapa-siapa. Biar begitu saya tahu kalau kamu pasti ingin mengetahui cerita saya. Ya, bukan? Mengaku sajalah. Kalau tidak, katakan saja iya supaya saya senang.

Hari itu Kamis tanggal 26 Mei 2011. Di awal pagi, saya sedang bercanda dengan adik-adik saya. Tiba-tiba saya melihat bapak saya memakai pakaian rapi.

Lho, kamu kok nggak mandi? Katanya mau wisuda,” ujar bapak saya.
‘Kan wisudanya nanti jam sembilan.”
“Ya udah, siap-siap sana!”
“Ini jam berapa? Baru jam enam.”
“Ya mestinya kita udah sampai sana jam delapan.” Bagaimanapun, saya tetap saja malas-malasan.

Saya pun akhirnya berangkat pukul setengah delapan. Saya memakai kebaya dan membawa ransel yang berisi baju ganti karena saya tahu pasti saya ditinggal. Nantinya saya akan pulang sendiri. Saya tahu di tengah acara pasti orang tua saya menghilang.

Ternyata, jalanan macet. Memang begitu, justru kalau tidak macet baru boleh heran. Di perjalanan saya diceramahi pentingnya berangkat pagi. Saya hanya bisa memasang tampang bosan sambil mengucap dalam hati, “Pun kalau kita dah sampai sana acara juga belum dimulai.”

Di tengah kebosanan yang melanda, saya malah dikirimi pesan maaf-tidak-dapat-menyaksikan-kebahagiaanmu. Saya menatap kosong lama sekali. Saya ‘kan sengaja pakai kebaya ini supaya serasi sama pakaianmu … Kemudian terlintas angan-angan lainnya. Why are you so sad … And why is it so bad … When some one leaves you behind … Won’t you ever know … Don’t you realize … It’s just a part of life … When you fall in love … With some one some time … It’s smile with a broken heart … Begitulah bunyi lirik lagu yang sedang diputar. Nyesss, sepertinya ini menegur saya. Manusia … manusia …Gampang sekali dibisi syaitan.

Oce, saya sampai di sekolah pukul sembilan. Benar saja, acara memang belum dimulai. Saya disambut teman saya yang masih kelas sebelas. Ada beberapa anak kelas sebelas yang hadir dalam acara tersebut demi menyaksikan sahabat-sahabat SCI mereka diwisuda. “Terima kasih sudah mau difoto. Silakan ke sana, SCI paling pojok,” katanya sambil menunjukkan arah.

Masa-masa sebelum pengalungan wisuda diisi dengan obrolan teman-teman sekelas. “Udah dapat tempat kost?” “Berkas yang itu kapan dikumpulin sih?” “Alamat lu yang di Bandung di mana?” Ya, kamu mengerti bagaimana mental saya saat itu.

Saya pindah ke barisan anak perempuan yang paling depan. Di depan saya, duduk para lelaki SCI yang sesekali mencuri pandang ke belakang, ke arah perempuan. Ada anak perempuan yang baru datang, lalu ada yang menimpali, “Wah, dia hari ini beda sekali, ya.” Lainnya diam saja. Sekali menoleh, lalu melihat ke depan lagi. Ah, mengapa konsep hijab paling dimengerti justru oleh orang-orang seperti mereka. Saya pun melihat sekitar saya. Siswa-siswi kelas lain duduknya campur. Di kelas saya, jarang sekali ada siswa-siswi yang duduk berdekatan. Memang, hanya orang-orang berpikirlah yang mampu menjalankan kesempurnaan.

Kelas saya diwisuda kedua dari terakhir, sebelum kelas internasional. Saya menitipkan kamera ke bapak teman saya. Kalau bapak saya entah duduk di mana. Saat berjalan ke tempat wisuda, saya melihat bapak saya asyik dengan bacaannya. ‘Oh, masih ada,’ ujar saya.

“Latansa Izzata, dengan nilai rata-rata ujian nasional …” suara dari pengeras suara itu memberikan aba-aba kepada saya untuk melangkah. Pak Kepala Sekolah mengalungi medali wisuda. Pak Penasihat Akademik memberi map. Bu Ketua Komite memberi mawar merah. Saya berhenti sejenak karena orang selanjutnya (tak tahu siapa dan apa jabatannya) sedang berbicara dengan orang di belakangnya. Wanita itu kemudian sadar bahwa saya ingin menyalaminya. “Selamat ya, Nak. Diterima di mana?” tanyanya sambil menggenggam tangan saya. Saya tersenyum, “Belum.” Wanita berkebaya ungu itu menatap dengan tatapan janggal. Saya memberi isyarat kalau tangan saya belum dilepas. “Oh ya,” beliau pun melepas tangan saya. Sebenarnya beliau mengucapkan sesuatu tapi saya lupa semoga apa.

Saya pun turun, mengintip nilai rapor semester akhir, lalu menutupnya kembali. Tiba-tiba bapak saya datang. “Udah, kan? Kamu mau foto di situ?” bapak saya menunjuk tempat dengan latar belakang rak buku lalu memberi saya uang. “Ayo kita foto,tapi antri-nya panjang,” kata saya. “Kamu kalau mau foto ya foto aja. Dah ya, ditinggal dulu, mau rapat,” kata beliau. Yah, tidak seru kalau saya foto sendiri.

Selanjutnya adalah sesi berfoto dengan teman-teman sekelas. Selesai berfoto, bapak teman saya memberi kamera ke seorang teman saya. “Maaf, ini bukan punya saya. Ini punya Latansa,” teman saya itu memberikan pada saya. “Waduh, berarti dari tadi saya salah foto. Itu isinya foto-foto kamu semua,” ujar beliau sambil menepuk kening. Aneh, hari itu saya ditimpa hal-hal tidak menyenangkan berkali-kali.

Setelah selesai acara, saya mengobrol dengan ibu teman saya. Katanya kalau nanti saat saya kuliah beliau menyarankan tinggal di sebelah tempat kost anaknya. Semoga bisa satu jurusan dengan anaknya. Setelah beliau berkata seperti itu, saya jadi ingin satu jurusan. Sulit memang, saya menaruh jurusan itu di pilihan kedua dan kuotanya dari SNMPTN Jalur Ujian Tertulis hanya dua belas orang.

Pulangnya, saya menempel kata-kata motivasi di kamar. Saya mencoba belajar. Menurut saya, inilah motivasi yang paling ampuh. Bukan dengan kata-kata yang dirangkai indah, video-video, atau teriakan penuh semangat. Justru obrolan teman sekelas, pertanyaan orang tak dikenal, serta tawaran tempat kost-lah yang membuat saya jadi belajar. Hebat, sejak saat itu racun semangat masih terasa efeknya, bahkan sampai sekarang. Alhamdulillah akhirnya saya bisa rajin belajar.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s