Monthly Archives: July 2011

Gara-Gara Mentor

Peringatan keras: hati-hati dengan mentor kalian!


Setiap pekannya, sekolah saya mengadakan mentoring yang disebut KALAM (Kajian Islam Mingguan). Pembimbingnya disebut mentor dan yang dibimbing disebut mentee. Setiap kelompoknya begitu akrab seperti keluarga.

Saya pernah membaca kalau di keluarga kita ada yang menderita suatu penyakit, kemungkinan kita terserang penyakit itu menjadi lebih besar. Kita jadi sebal kenapa kita mewarisi gen tersebut. Ternyata, terkadang bukan gen-lah faktor utama penyebabnya, tetapi kebiasaan. Bagaimana cara kita makan, gaya hidup kita, serta kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan juga diwarisi dari keluarga kita.

Dalam perjalanan ke kantin, saya mengobrol dengan salah seorang saudari (S).

L : Dulu waktu semester 1 sama semester 2, mentorku anak Hukum UI, jadinya aku diterima di Hukum UI. Waktu semester 3, mentorku anak Akuntansi UI, jadinya aku juga diterima di Akuntansi UI.

S : Oh, jadi harusnya tuh Latansa cari mentor yang dari kedokteran biar diterima di kedokteran!

L : Ya maunya sih gitu, tapi gimana? Aku baru sadarnya sekarang.

Tiba-tiba muncul seorang anak (A).

A : Kak Latansa kuliah di mana sekarang?

L : Akuntansi UI.

A : Terus, ikut STAN nggak?

L : Nggak.

A : Yeee nggak ikut. Padahal di blognya tulisannya STAN, STAN, STAN.

L : Ya gimana? Saya nggak memenuhi syarat.

A : Hah? Syarat apaan?

L : Syarat umur. Kalau mau, saya harus nunggu setahun baru bisa.

A : Hah? Umur juga dilihat? Demi apa? Saya juga nggak bisa ikut dong!

L : Bisa dong, kenapa nggak bisa?

A : Kan saya SCI juga.

L : Terus kenapa kalau SCI?

A : Umurnya nggak cukup juga.

L : Lho, kita kan lahir di tahun yang sama! Kan tahun depan itu umur kita …

A : Nggak bisa! Kan saya lahirnya Desember!

S : Gini lho Tans, dia kan lahirnya Desember jadi dihitungnya belum.

L : Oh iya ya. Saya bulan Agustus makanya bisa. Peraturannya kan sampai bulan September jadi saya boleh ikut kalau tahun depan.

A : Nyebelin banget sih pake ngelihat umur segala. (Sambil menatap kosong dan bersandar di dinding)

S : Ya ampun, gara-gara Latansa sih! Mentornya nggak bisa daftar gara-gara nggak cukup umur jadinya mentee-nya nggak bisa daftar karena nggak cukup umur juga.

L : Wah iya juga. Yang sabar ya. ITB aja! Ikut Tahun Berikutnya.

Kesimpulannya, gen kita mungkin tidak sama, tetapi kebiasaan dan corak pikir itu terwariskan.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Galautothemax

Ini baru galau yang sebenarnya.

Seharusnya, saya sudah berhenti galau setelah membuat pilihan saya mau masuk mana waktu SNMPTN Tertulis tempo hari. Apalagi, saya sudah membuat surat keputusan. Tinggal bayar (hah? Tinggal bayar?) lalu daftar ulang. Kemudian saya menjalani masa-masa menjadi mahasiswi baru.

Hukum Oh Hukum
Hal yang rasakan setelah diterima di Hukum UI adalah kekecewaan umat. Maaf kalau itu terdengar berlebihan. Namun, itulah yang terjadi pada saya. Saya hidup di lingkungan yang peduli dengan saya (walau mereka tahu sifat-sifat buruk saya). Mereka terlihat sangat menyayangkan pilihan saya. Tua, muda, laki-laki, perempuan, hampir semuanya begitu. Bahkan, orang yang baru mengenal saya juga menyayangkannya dan menghasut saya untuk meninggalkannya. Lho, Anda punya hak apa mengatur-atur hidup saya?

Memang, tidak semua kecewa. Beruntung saya lahir dari orang tua yang demokratis dan menghormati pilihan anak-anak mereka. Seperti di surat awal tahun ini, orang tua saya selalu bangga dengan anak-anaknya. Di samping itu, tentu saja orang-orang yang senang saya diterima di hukum adalah mahasiwa-mahasiswi hukum yang mengenal saya. Senang dapat kawan seperjuangan baru sepertinya.

Kekecewaan umat itu mampu membuat saya sering mengerutkan dahi dan berbicara berapi-api. “Justru orang-orang baik harus terjun ke situ supaya hukum Indonesia jadi baik!” begitu ucap saya. Agak geli juga karena saya belum jadi orang baik. Ya yang penting sudah ada niat menjadi orang baik sudah bagus, ‘kan? Pintar ngeles. Kekecewaan umat itu juga mampu mendorong saya untuk ikut tes lagi.

SIMAK UI
Minggu ceria, begitulah seharusnya. Pagi itu seharusnya saya masih malas-malasan tapi apa daya ada tes Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI). Entah mengapa saya seperti tidak niat ikut tes itu. Berawal dari masih tidurnya saya padahal sejak beberapa menit sebelumnya sudah sampai di lokasi ujian. Mama saya pun tak sabar untuk segera membangunkan saya. Langkah saya pun lemas untuk masuk ke tempat itu. Pada saat ujian, saya banyak melamun dan mencoret-coret kertas soal. Bahkan, saya tidak selesai membaca semua soal. Saat istirahat saya lebih tertarik untuk jajan daripada mengulangi pelajaran.

Seberapa pun tidak niatnya saya hari itu, saya sangat yakin diterima. Memang benar kalau saya diterima. Saya diterima di jurusan akuntansi. Karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk menetap di hukum.

Pindah
Ya, orang tua saya menyarankan untuk mengambil akuntansi saja. Tidak ada unsur paksaan, tapi saya tidak tega. Tidak tega pada semua orang, termasuk saya sendiri. Pada akhirnya, saya benar-benar pindah.

G
W

T
A
K
U
T

Iya, saya takut. Saya suka pura-pura berani di depan orang lain supaya orang itu tidak takut. Namun, sungguh saya takut. Saya takut.

Saya takut menjadi dewasa meski itu sebuah keniscayaan. Saya takut idealisme saya dirobohkan orang hingga saya bertanya, ‘Inikah yang ideal?’

Bagaimanapun, dunia kuliah dan segala problematikanya sedang merayap menghampiri saya.

Baca juga:
Surat Kecil dari Papi

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Akhirnya Saya Tahu Besok Harus ke Mana 3

SURAT KEPUTUSAN
MAKHLUK YANG DISEBUT MANUSIA
PLANET BUMI TERCINTA
NOMOR: 331/SK/MP/2011

Tentang
PEMILIHAN PROGRAM STUDI LATANSA I. D. E.

MAKHLUK YANG DISEBUT MANUSIA

Menimbang: a. bahwa berdasarkan pengumuman-pengumuman tentang Program Studi yang bisa saya ambil telah diumumkan;
b. bahwa untuk melanjutkan kuliah harus menetapkan pilihan;
c. sehubungan dengan butir a dan b, perlu diterbitkan surat keputusannya.

Mengingat: a. Keputusan orang tua nomor 4868/SK/OT/2011tentang pemilihan prodi;
b. saran Penasihat Akademik, guru Bimbingan Konseling, dan orang-orang terdekat;
c. penghitungan peluang masa depan cerah.

M E M U T U S K A N :

Menetapkan:
Pertama: Latansa I. D. E. akan melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi;
Kedua: Dengan diterbitkannya surat keputusan ini, maka surat keputusan nomor 325/SK/MP/2011 tanggal 30 Juni 2011 dinyatakan tidak berlaku lagi;
Ketiga: Surat keputusan ini dibuat dengan ketentuan bahwa segala sesuatunya akan diatur dan diperbaiki sebagaimana mustinya, apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini.

Ditetapkan di: Tangerang
Pada tanggal: 21 Juli 2011
Makhluk,

Latansa I. D. E.
NPM. (dirahasiakan)

Tembusan:
1. Facebook
2. Twitter
3. Yahoo!

Baca juga:
Akhirnya Saya Tahu Besok Harus Ke Mana
Akhirnya Saya Tahu Besok Harus Ke Mana 2

1 Comment

Filed under Uncategorized

Tentang SIMAK

Aku tak pernah menjadi murid yang terpandai
Menunggu lama slalu membuatku bosan
Kubawa pergi mimpiku berlalu


Akhirnya, hasil tes terakhir yang saya ikuti diumumkan. Apa hasilnya? Saya diterima. Ya, sebenarnya feeling saya berkata selalu berkata seperti itu tetapi feeling saya juga sering berkata kalau saya tidak diterima di pilihan pertama.
Begitulah. Kini saya jadi agak terbebani dengan orang-orang yang yakin dengan diri saya. Wahai kalian, bagaimana kalian bisa yakin sedang saya sendiri tidak mampu untuk yakin?
Selanjutnya, saya berharap untuk tetap ditunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk, bukan hanya benar atau salah. Saya juga percaya kehidupan kuliah nanti jauh lebih indah dari kehidupan di SCI. Namun, kalau seindah kehidupan di Rohis 78, ya saya tidak tahu.
Sebenarnya, saya diterima di mana? Di jurusan akuntansi. Tadinya mau saya ambil saja tetapi ternyata saya diterima di kelas paralel. Sebelumnya saya juga sudah dua kali diterima di Akuntansi UI. Pertama, di Akuntansi Universitas Indonusa, yang sekarang menjadi Universitas Esa Unggul. Kedua, di Akuntansi UI Negeri. Saya sekarang berjodoh dengan Akuntansi UI tanpa embel-embel ‘Negeri’ dan bukan universitas swasta.
Tidak apa-apa.Saya akan merancang jalan ke surga lewat ini. Tetap semangat!
Gedung fakultas saya dari kejauhan.
Hari-hari ke depan mungkin saya akan sering-sering menatap papan ini.
Teman setia yang kini satu fakultas dengan saya. Tetap semangat, Kakakku!
Cikiciki bombom out the door
I’ll never gonna get you anyway
Cikiciki bom I’m outta here
I’ll never gonna get you anyway

Memilihmu perlu kemampuan yang total
Gitarku saja tak cukup tuk jadi andalan
Memilihmu terpaksa menjadi pilihan
Hanya dirimu yang mengusik mimpi-mimpi

Aku tak pernah jadi pilihan terbaik
Mungkin aku sebaiknya bangun dari tidurku
Dan bawa mimpiku berlalu


Baca juga:

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Mau Dibawa ke Mana

SCI di Bulan Juni 2011…
Kalau kabar sebelumnya tentang kelulusan kami, sekarang adalah kabar tentang studi kami. Ada yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi (PT) Negeri seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ada juga yang melanjutkan ke PT luar negeri seperti lewat beasiswa Mitsui Bussan (Jepang) dan PT luar negeri lainnya (swasta) seperti Institut Manajemen Telkom (IM Telkom), Universitas Katolik Atma Jaya (Unika Atma Jaya), dan Deutsche Internationale Schule Jakarta (DIS Jakarta). Selain itu ada yang masih berjuang dan (mungkin) luar negeri. Semangat! Semoga mendapat yang terbaik!

Ajib Setiawan Nugroho Teknik Elektro ITS
Alif Rizki Bastoni STEI ITB
Andreas Dymasius FTI ITB
Andri Priyono Matematika UI
Anindia Aulia Indraswari MBTI IM Telkom
Ayu Diar Sari Akuntansi UI
Citra Hafilah Shabrina Keperawatan UI
Eka Henny Suryani (mungkin) di luar negeri
Elcha Pend. Dokter UKRIDA
Emmanuela Hartono Teknik Informatika UI
Erdevin Prima Basten FTMD ITB
Fabiola Kristi Akuntansi UI
Faisal Ibrahim Planologi UGM
Gisela Vania Aline FTI ITB
Grace Anastasia Teknik Industri UI
Jessica Sariana Teknik Mesin Unika Atma Jaya
Kamila Auliarahma Widyanto STEI ITB
Kezia Jessica Pend. Dokter Unika Atma Jaya
Latansa I. D. E. Akuntansi UI
Maxs Christian FTI ITB
Mery FMIPA ITB
Michelle Josephine Gunawan DIS Jakarta
Rohendy Michael FTI ITB
Setiawan Saputra (mungkin) di luar negeri
Siti Martina Meliana Maryono Soedibyo Beasiswa Mitsui Bussan (Jepang)
Yangyang Supriyanto (mungkin) di luar negeri

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Balik ke SMA

hehehe belum cukup umur yaaaaa :p
hahaha udah lahir tahun 199*, pake ikut aksel segala sih :p
iya emang latansa nih,, gw sih kalo bisa lama2in masa anak2,, hehe, yg ini malahhh ==
balik ke SMA lagi gih tan.. wkwkw
aksel lagi, biar umur lulusnya pas wkwkwk
Entah mengapa, akhir-akhir ini saya jadi sensitif sama yang namanya usia. Orang-orang sekitar saya jadi sering menyinggung usia saya. Kenapa masih saja banyak yang bertindak subjektif? Bukankah inti dari ajaran tauhid adalah objektivitas?
Berawal (sebenarnya bukan yang pertama) dari keisengan saya mendaftar banyak PTN. Semua PTN yang pendaftarannya sebelum pengumuman SNMPTN jalur tertulis saya ikuti. Meski pada akhirnya, dari sekian banyak itu hanya dua yang saya ikuti tesnya.
Walau sudah pengumuman SNMPTN jalur tertulis, saya masih berencana melanjutkan keisengan saya. Saya ingin mendaftar ke STAN. Jangan tanya kenapa karena jawabannya sama seperti mengapa saya mendaftarkan diri di program vokasi UI, yaitu iseng. Namun, keisengan saya terhambat karena saya tidak memenuhi satu syarat. Teringat ocehan saya di masa lalu pada saudari saya, “Sebenarnya, ada satu syarat yang memberatkan aku untuk daftar STAN. Padahal bagi orang lain syarat itu bukanlah apa-apa.” Kini, saya mengerti makna ocehan saya kala itu. Dulu saya kurang mengerti kenapa saya mengoceh seperti itu. Saya mencari-cari manakah syarat yang memberatkan itu di syarat-syarat pada tahun-tahun lalu. Sekarang saya mengerti karena ada syarat baru. Ya, syarat usia tersebut dengan sukses menghambat keisengan saya.
Dalam obrolan, teman-teman suka menjelek-jelekkan saya. Kata mereka, saya mengalami ‘School by Accident’ sehingga terpleset. Ada juga yang menyarankan saya kembali ke SMA lalu masuk kelas akselerasi. Mungkin kata-kata mereka didengar malaikat, sehingga para malaikat mengaminkan.
Begitu ceritanya hingga saya pun kembali ke SMA. Kembali memakai kemeja putih yang sakunya berwarna oranye. Kembali ke gedung yang catnya berwarna oranye. Kembali hadir di Masa Orientasi Peserta Didik Baru yang serba oranye. Kembali menggila. Jangan salah sangka, saya berstatus tamu yang sedang melihat-lihat. Sudah itu pulang.
Ya begitulah, semuanya dimulai sejak belasan tahun yang lalu, diperparah dengan keputusan satu setengah tahun lalu.
Inikah yang terbaik? Mungkin. Telah sejak belasan tahun yang lalu orang tua saya mencoba menggagalkan. Namun, saya malah mengambil keputusan yang bertolak belakang. Meski begitu, saya tetap berdoa, “Allah, kalau memang ini tidak baik, gagalkan saja! Saya rela kok. Saya nanti akan langsung pindah ke IPS saja daripada menambah hancur nilai-nilai IPA saya.” Namun, nilai-nilai IPA saya malah jadi lumayan. Saya dapat teman-teman baik. Guru-guru saya tidak galak. Saya tidak lagi bermimpi buruk tentang sekolah. Meski tidak terlalu paham dengan materi yang diajarkan, semuanya berjalan dengan mulus.
Jujur, ini semua tidak ringan. Ketika anak lain seusia saya bisa bersenang-senang, saya harus belajar dan mengupayakan moral yang baik. Saya harus menambah kualitas diri untuk tidak lagi dianggap anak kecil yang sedang menceracau.
Sungguh, tak pernah ada yang memaksa saya untuk bersumpah ketika dalam kandungan untuk menjadi hamba yang setia bagi Tuhan . Tak pernah ada yang memaksa saya bersumpah bahwa tiada sembahan selain Tuhan. Tak pernah ada yang memaksa saya untuk membuat sasaran bahwa tahun 2020 hukum Allah telah tegak di tanah Indonesia. Tetap tak pernah ada yang memaksa walaupun saya sering harus meninggalkan sesuatu yang saya cintai.
Kemudian, ketika saya bertanya sudah benar atau belum, sebuah jawaban menghampiri saya. “Gunakanlah jalan cinta; yang mebuat anda kurang istirahat, lupa makan, kurang tidur, karena anda sedang melakukan yang anda cintai, agar anda menjadi pribadi yang bernilai bagi kehidupan dan kebaikan sesama.”
Terima kasih Allah. Semoga kegiatan ‘Balik ke SMA’ yang masih saya lakukan hingga beberapa hari ke depan mampu mengingatkan saya akan hakikat pencarian prestise dan harta yang sebenarnya. Semoga saya tidak berkonsisten pada kemaksiatan sekecil apa pun itu. Semoga Indonesia Emas 2020 terwujudkan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Surabaya Oh Surabaya

Sejak mengetahui adanya Temu Wajah Teman 2 (TeWaTe 2), saya menjadi sangat ingin ke Surabaya. Saya ingin ngebolang sambil bertemu beberapa kerabat. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang saya belum pernah lihat sebelumnya. Saya ingin ke sana dan hadir di TeWaTe 2.

Saya pun membuat rencana keberangkatan. Tadinya, saya mau pergi dengan teman saya yang kebetulan juga mau pergi ke sana. Teman saya itu iya-iya saja. Namun, setelah saya pikir-pikir lebih baik tidak bersamanya karena dia laki-laki. Takutnya jadi fitnah atau apa.

Selanjutnya, saya jadi berpikir lagi mau berangkat dengan siapa. Kalau berangkat sendiri pastilah proposal perizinan saya ditolak mentah-mentah oleh orang tua saya. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi dengan adik saya. Adik saya juga iya-iya saja.

Sayang sekali, mama saya malah berkata, “Apa? Kamu pergi sama Bili? Kamu nggak tahu apa? Perjalanannya itu tidak seperti yang kamu bayangkan!”
“Yah, Mama …,” ujar saya.
“Pokoknya Mama nggak mau tahu. Gini deh, kalau papimu ngizinin ya berangkatlah ko sana.”

Kemudian saya tidak bertanya ke bapak saya. Jawabannya pasti senada dengan mama saya. Akhirnya sambil merengut saya pun mengubur dalam-dalam keinginan saya untuk hadir di TeWaTe kali ini. Saya berharap saya bisa datang di Kopdar MPID 2011.

Untuk menghilangkan kesedihan saya, saya membuat agenda-agenda baru. Kebetulan juga ada berbagai acara yang musti saya hadiri. Saya jadi berpikir mungkin memang sebaiknya saya tidak jadi pergi. Karena TeWaTe 2 tanggal 10 Juli, saya juga membuat janji dengan teman-teman saya pada tanggal itu.
***

“Mbak, kamu jadi ke Surabaya?” tanya adik saya. Alis saya berdiri, memori saya berkata, ‘Duh, ni anak kok nanya ini.’ Teringat teman saya itu baru saja naik kereta ke Surabaya.
“Ya kalau jadi harusnya aku berangkat dari kemarin-kemarin,” kata saya.
“Sebenarnya dibolehin tau!” alis saya naik lagi, “Iya, dibolehin. Tanya aja mama!”
“Yah, kenapa baru bilang sekarang? Harusnya kan berangkatnya dari kemarin-kemarin. Tanggung banget kalau Cuma sebentar di sana. Habis acara Multiply-ku itu kita langsung pulang. Besoknya ‘kan kamu sekolah,” jawab saya.
“Ya kamunya juga sih. Lagian palingan nanti aku nggak belajar, ‘kan ada MOS.” Saya diam saja.
***

Dua hari sebelum TeWaTe 2, mama saya bertanya apakah saya jadi ke Surabaya atau tidak. Katanya nanti saya bersama kakak saya yang kebetulan juga mau ke Surabaya.

“Jadi atau nggak?” tanya mama.
“Yah, Mama …. Emang kalau iya aku berangkatnya kapan?”
“Besok. Ini papi bentar lagi beli tiket pesawat.”
“Aduh, aku bingung.”
“Gimana nih? Kalau iya ya iya, kalau nggak mama sekarang telepon papi.”
“Aku mikir dulu ya. Sejam.”

Tak lama kemudian.
“Yah kalau aku pulangnya tanggal segitu hancur semua agendaku,” kata saya.
“Jadi?” tanya mama.
“Nggak jadi aja deh.”
Kakak juga tidak jadi pergi.
***

Besok malamnya, saya dikirimi pesan, “Teman-teman, jangan lupa besok pukul 10 pagi Kopdar MPers Jatim (TeWaTe) di Taman Barunawati Perak Surabaya. Mohon on time yak. Makasih :D”

Saya hanya bisa meratapi.

Leave a comment

Filed under Uncategorized