Tentang SNMPTN, Saya, dan Kamu 2

Hah? Kamu ambil hukum?”
Lho, kamu SMA-nya IPA, ‘kan? Kok ambil hukum?”
Yah, kalau ambil hukum sih udah pasti keterima …”
“Pilihan keduanya apa? Hah? Teknik Industri? Nggak kebalik, tuh?”
Hari-hari saya setelah SNMPTN diisi dengan pertanyaan orang-orang sekitar saya tentang pilihan saya di SNMPTN Tertulis. Tanggapan mereka sangat jarang yang positif. Entahlah, apa sedang menjelek-jelekkan pilihan saya atau apa.
Saya tidak main-main kali iitu. Setelah pengumuman Jalur Undangan saya hanya memiliki waktu dua pekan untuk membenahi semuanya. Saya mengatur strategi untuk itu.
Pada hari pertama, saya memikirkan langkah awal dan hal-hal yang diperlukan. Saya mencari data-data tentang kuota, nilai-nilai uji coba selama ini, daftar passing grade, serta informasi-informasi tentang masing-masing jurusan.
Keesokan harinya, setelah hal-hal yang diperlukan terkumpul saya menentukan pilihan. Pertama, mengurutkan data. Kedua, menghitung besar peluang saya untuk diterima. Ketiga, menetapkan pilihan setelah menimbang risikonya. Malamnya, saya meminta masukan dari orang tua. Kemudian, inilah pilihan saya.
1. Ilmu Hukum UI
2. Teknik Industri UI
3. Pend. Dokter UIN Jakarta
Urutannya sekilas tampak terbalik. Namun, ini sudah melalui proses pemikiran yang tidak ringan dan debat yang tidak singkat. Pertama, saya ingin berkuliah di UI. Kedua, jika dibandingkan Tekin, saya lebih ingin mempelajari hukum. Terakhir, meski saya hampir bisa dikatakan tidak pernah belajar IPS, saya yakin nilai Tes Potensi Akademik dan Kemampuan Dasar saya mencukupi. Banyak yang mengatakan kalau passing grade Tekin lebih tinggi dari hukum. Ya, saya tahu itu dan saya juga tahu kalau nilai IPS tidak diakumulasikan dengan nilai IPA. Jadi, kalau ternyata nilai saya tidak cukup untuk hukum, saya tidak langsung tertendang ke pilihan tiga. Masih ada nilai IPA saya dan benar saja nilai IPA saya lebih tinggi dari IPA.
Oh ya, bagaimana dengan keinginan saya masuk kedokteran? Setelah saya hitung pun nilai saya memang belum cukup. Lagipula saya juga tidak bisa menyerap banyak pelajaran untuk mengejar ketertinggalan dalam keadaan mental sedang sangat turun.
Pengumuman pun tiba. Sesuai rencana, saya diterima di pilihan pertama. Ucapan-ucapan selamat berdatangan. Namun, ada satu perbincangan yang membuat saya tak henti memikirkannya. Pernyataan sederhana itu terasa ganjil.
Wah, Latansa masuk Hukum UI? Hebat, ya!” ujar salah seorang teman.
“Hebat apanya?” saya balik bertanya.
Nggak gampang lho masuk Hukum UI!”
Emang iya? Orang saya nggak belajar IPS sama sekali.”
“Yang benar?”
“Iya, sebelumnya saya belajar Fisika terus. Pas SNMPTN paling-paling soal IPS cuma saya isi per pelajarannya itu empat, lima, ya segitulah. Saya nggak berani banyak-banyak, ‘kan nebak.”
Ternyata, setelah saya cek lagi, saya menjawab lebih dari itu. Ada 36 nomor dari empat pelajaran yang diujikan dalam kemampuan IPS. Deg! Rata-rata per pelajarannya itu sembilan. Sekuat itukah ‘naluri menjawab benar’ saya?
Kemudian, saya merenung kembali, ‘Bagaimana bisa?’ Saya pun mencoba mereka ulang kejadian di SNMPTN. Begini, begini, habis itu begitu, dan ya! Saya tahu kenapa!
Pagi sebelum ujian hari pertama saya berkenalan dengan seorang peserta. Kami langsung akrab. Dia bercerita kalau dia pengurus Rohis. Sepanjang hari kami bersama terus hingga saya melihatnya naik angkot pulang. Entah mengapa saya merasa bahwa ruh-ruh kami telah bersepakat sebelum kami berkenalan.
Keesokan harinya, saya bersama dia lagi. Hari kedua adalah tes IPA dan IPS. Pada saat istirahat, saya melamun tidak jelas. Tiba-tiba lembaran-lembaran kertas terbang di mata saya dan mendarat di kedua tangan saya. Ya tidak begitu juga sih. Intinya teman saya itu mungkin kesal karena saya tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dia meminjamkan saya soal-soal IPS untuk dibaca. Dia tahu kalau saya tidak pernah belajar IPS dan tidak membawa materi IPS untuk dibaca.
Begitulah kira-kira. Sehingga pada akhirnya, soal-soal yang saya baca itu keluar di SNMPTN. Karena saya baru saja membacanya, saya bisa mengerjakannya. Pantas saja saya menjawab banyak.
Subhanallah, dengan modal beberapa menit belajar, saya bisa diterima di Ilmu Hukum UI. Saya jadi kasihan dengan FHUI.
Baca juga:

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s