Balik ke SMA

hehehe belum cukup umur yaaaaa :p
hahaha udah lahir tahun 199*, pake ikut aksel segala sih :p
iya emang latansa nih,, gw sih kalo bisa lama2in masa anak2,, hehe, yg ini malahhh ==
balik ke SMA lagi gih tan.. wkwkw
aksel lagi, biar umur lulusnya pas wkwkwk
Entah mengapa, akhir-akhir ini saya jadi sensitif sama yang namanya usia. Orang-orang sekitar saya jadi sering menyinggung usia saya. Kenapa masih saja banyak yang bertindak subjektif? Bukankah inti dari ajaran tauhid adalah objektivitas?
Berawal (sebenarnya bukan yang pertama) dari keisengan saya mendaftar banyak PTN. Semua PTN yang pendaftarannya sebelum pengumuman SNMPTN jalur tertulis saya ikuti. Meski pada akhirnya, dari sekian banyak itu hanya dua yang saya ikuti tesnya.
Walau sudah pengumuman SNMPTN jalur tertulis, saya masih berencana melanjutkan keisengan saya. Saya ingin mendaftar ke STAN. Jangan tanya kenapa karena jawabannya sama seperti mengapa saya mendaftarkan diri di program vokasi UI, yaitu iseng. Namun, keisengan saya terhambat karena saya tidak memenuhi satu syarat. Teringat ocehan saya di masa lalu pada saudari saya, “Sebenarnya, ada satu syarat yang memberatkan aku untuk daftar STAN. Padahal bagi orang lain syarat itu bukanlah apa-apa.” Kini, saya mengerti makna ocehan saya kala itu. Dulu saya kurang mengerti kenapa saya mengoceh seperti itu. Saya mencari-cari manakah syarat yang memberatkan itu di syarat-syarat pada tahun-tahun lalu. Sekarang saya mengerti karena ada syarat baru. Ya, syarat usia tersebut dengan sukses menghambat keisengan saya.
Dalam obrolan, teman-teman suka menjelek-jelekkan saya. Kata mereka, saya mengalami ‘School by Accident’ sehingga terpleset. Ada juga yang menyarankan saya kembali ke SMA lalu masuk kelas akselerasi. Mungkin kata-kata mereka didengar malaikat, sehingga para malaikat mengaminkan.
Begitu ceritanya hingga saya pun kembali ke SMA. Kembali memakai kemeja putih yang sakunya berwarna oranye. Kembali ke gedung yang catnya berwarna oranye. Kembali hadir di Masa Orientasi Peserta Didik Baru yang serba oranye. Kembali menggila. Jangan salah sangka, saya berstatus tamu yang sedang melihat-lihat. Sudah itu pulang.
Ya begitulah, semuanya dimulai sejak belasan tahun yang lalu, diperparah dengan keputusan satu setengah tahun lalu.
Inikah yang terbaik? Mungkin. Telah sejak belasan tahun yang lalu orang tua saya mencoba menggagalkan. Namun, saya malah mengambil keputusan yang bertolak belakang. Meski begitu, saya tetap berdoa, “Allah, kalau memang ini tidak baik, gagalkan saja! Saya rela kok. Saya nanti akan langsung pindah ke IPS saja daripada menambah hancur nilai-nilai IPA saya.” Namun, nilai-nilai IPA saya malah jadi lumayan. Saya dapat teman-teman baik. Guru-guru saya tidak galak. Saya tidak lagi bermimpi buruk tentang sekolah. Meski tidak terlalu paham dengan materi yang diajarkan, semuanya berjalan dengan mulus.
Jujur, ini semua tidak ringan. Ketika anak lain seusia saya bisa bersenang-senang, saya harus belajar dan mengupayakan moral yang baik. Saya harus menambah kualitas diri untuk tidak lagi dianggap anak kecil yang sedang menceracau.
Sungguh, tak pernah ada yang memaksa saya untuk bersumpah ketika dalam kandungan untuk menjadi hamba yang setia bagi Tuhan . Tak pernah ada yang memaksa saya bersumpah bahwa tiada sembahan selain Tuhan. Tak pernah ada yang memaksa saya untuk membuat sasaran bahwa tahun 2020 hukum Allah telah tegak di tanah Indonesia. Tetap tak pernah ada yang memaksa walaupun saya sering harus meninggalkan sesuatu yang saya cintai.
Kemudian, ketika saya bertanya sudah benar atau belum, sebuah jawaban menghampiri saya. “Gunakanlah jalan cinta; yang mebuat anda kurang istirahat, lupa makan, kurang tidur, karena anda sedang melakukan yang anda cintai, agar anda menjadi pribadi yang bernilai bagi kehidupan dan kebaikan sesama.”
Terima kasih Allah. Semoga kegiatan ‘Balik ke SMA’ yang masih saya lakukan hingga beberapa hari ke depan mampu mengingatkan saya akan hakikat pencarian prestise dan harta yang sebenarnya. Semoga saya tidak berkonsisten pada kemaksiatan sekecil apa pun itu. Semoga Indonesia Emas 2020 terwujudkan.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s