Galautothemax

Ini baru galau yang sebenarnya.

Seharusnya, saya sudah berhenti galau setelah membuat pilihan saya mau masuk mana waktu SNMPTN Tertulis tempo hari. Apalagi, saya sudah membuat surat keputusan. Tinggal bayar (hah? Tinggal bayar?) lalu daftar ulang. Kemudian saya menjalani masa-masa menjadi mahasiswi baru.

Hukum Oh Hukum
Hal yang rasakan setelah diterima di Hukum UI adalah kekecewaan umat. Maaf kalau itu terdengar berlebihan. Namun, itulah yang terjadi pada saya. Saya hidup di lingkungan yang peduli dengan saya (walau mereka tahu sifat-sifat buruk saya). Mereka terlihat sangat menyayangkan pilihan saya. Tua, muda, laki-laki, perempuan, hampir semuanya begitu. Bahkan, orang yang baru mengenal saya juga menyayangkannya dan menghasut saya untuk meninggalkannya. Lho, Anda punya hak apa mengatur-atur hidup saya?

Memang, tidak semua kecewa. Beruntung saya lahir dari orang tua yang demokratis dan menghormati pilihan anak-anak mereka. Seperti di surat awal tahun ini, orang tua saya selalu bangga dengan anak-anaknya. Di samping itu, tentu saja orang-orang yang senang saya diterima di hukum adalah mahasiwa-mahasiswi hukum yang mengenal saya. Senang dapat kawan seperjuangan baru sepertinya.

Kekecewaan umat itu mampu membuat saya sering mengerutkan dahi dan berbicara berapi-api. “Justru orang-orang baik harus terjun ke situ supaya hukum Indonesia jadi baik!” begitu ucap saya. Agak geli juga karena saya belum jadi orang baik. Ya yang penting sudah ada niat menjadi orang baik sudah bagus, ‘kan? Pintar ngeles. Kekecewaan umat itu juga mampu mendorong saya untuk ikut tes lagi.

SIMAK UI
Minggu ceria, begitulah seharusnya. Pagi itu seharusnya saya masih malas-malasan tapi apa daya ada tes Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI). Entah mengapa saya seperti tidak niat ikut tes itu. Berawal dari masih tidurnya saya padahal sejak beberapa menit sebelumnya sudah sampai di lokasi ujian. Mama saya pun tak sabar untuk segera membangunkan saya. Langkah saya pun lemas untuk masuk ke tempat itu. Pada saat ujian, saya banyak melamun dan mencoret-coret kertas soal. Bahkan, saya tidak selesai membaca semua soal. Saat istirahat saya lebih tertarik untuk jajan daripada mengulangi pelajaran.

Seberapa pun tidak niatnya saya hari itu, saya sangat yakin diterima. Memang benar kalau saya diterima. Saya diterima di jurusan akuntansi. Karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk menetap di hukum.

Pindah
Ya, orang tua saya menyarankan untuk mengambil akuntansi saja. Tidak ada unsur paksaan, tapi saya tidak tega. Tidak tega pada semua orang, termasuk saya sendiri. Pada akhirnya, saya benar-benar pindah.

G
W

T
A
K
U
T

Iya, saya takut. Saya suka pura-pura berani di depan orang lain supaya orang itu tidak takut. Namun, sungguh saya takut. Saya takut.

Saya takut menjadi dewasa meski itu sebuah keniscayaan. Saya takut idealisme saya dirobohkan orang hingga saya bertanya, ‘Inikah yang ideal?’

Bagaimanapun, dunia kuliah dan segala problematikanya sedang merayap menghampiri saya.

Baca juga:
Surat Kecil dari Papi

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s