Monthly Archives: August 2011

Selamat Idul Fitri 1432 H

Selamat Idul Fitri …

Semoga kita kembali fitrah dengan melepas belenggu ketakutan irasional dan sering-sering mendengar suara hati .

Wabishah bin Ma’bad ra berkata, “Aku mendatangi Rosulullah saw beliau berkata, “Apakah anda datang untuk bertanya tentang al-birr (kebaikan)?” Saya menjawab, “Ya.” Rosulullah saw bersabda, Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah ketika jiwa dan hati menjadi tenang kepadanya. Sedangkan al-itsm (dosa) adalah yg membingungkan jiwa dan meragukan hati. Meskipun manusia memberi fatwa kepadamu.” (HR Muslim)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ultah Ketiga MP Saya: K-A-L-U-T

“Kasihan kamu. Mental tidak sesuai dengan tingkat intelektual. Secara intelektual mungkin kamu mampu kuliah, tetapi secara mental belum tentu. Lagipula usiamu …”

Yampun, masih saja ada yang mempermasalahkan usia. Mental, intelektual, huh!

“Tuh, kan, saya benar. Buktinya saya lagi ngomong serius kamu malah kayak anak autis gitu.”

Saya terhenyak. Memangnya saya sedang apa? Mata saya langsung tertuju ke tangan. Tangan saya bergerak-gerak memukulkan penggaris ke karpet. Untuk apa? Tidak tahu. Au-tis?

“Saat kuliah nanti, akan banyak pergerakan yang menawarkan diri dan mencari massa. Sulit untuk menghadapi itu semua …”

Pening. Bayangan-bayangan buruk mulai berkelebat, hedonisme, liberalisme, materialisme, ekstrem kanan, ekstrem kiri, tradisionalisme, ilmiahisme, komunisme, atheisme. Semuanya bercampur. Wajah mereka tampak sama. Ergh, mana yang kuikuti?

***
“Dien, orang tuamu sefikrah sama kamu, nggak?”
“Ah, fikrah?”
“Iya, fikrah.”
“Kalau aku sama kamu, sefikrah, nggak?”
“Ya itu sih nggak usah ditanya.”
“Maksudnya?”
“Ya sefikrahlah!”
“Kalau kamu tahu aku nggak sefikrah sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya saya dalam hati.

Fikrah bagi saya adalah pemikiran (hanya ganti imbuhan). Pemikiran yang mendasari atas segala sesuatu sikap kita mungkin berbeda. Sikap saya dalam menghadapi perbedaan fikrah adalah memilih salah satu. Ya, salah satu. Cukup satu.

Lalu, bagaimana pendapatmu jika ada orang yang sejak awal berniat tidak setia pada pilihannya. Meski pilihan itu sudah diketahuinya sejak balita, ia tetap berniat tidak setia. Meski ia sudah menjalani pilihan itu bertahun-tahun lamanya, ia tetap berniat tidak setia. Meski ia kini berada di tingkatan yang cukup tinggi, ia tetap berniat tidak setia. Meski ia terlihat cukup aktif, ia tetap berniat tidak setia. Mengapa bisa?

Pernah saya menanyakan alasan itu padanya, “Saya sejak awal tidak yakin dengan kebenaran pemikiran ini. Terbukti dengan seperti berputar-putarnya kita pada masalah-masalah yang terjadi. Tidak tampaknya pemecahan masalah yang efektif. Begitulah pendangan saya akan pemikiran ini. Yang saya lihat hanyalah pengaderan massa sebanyak-banyaknya, tetapi massa tersebut tidak tahu mau melakukan apa. Parahnya lagi, di beberapa kasus , banyak massa yang merasa tidak diberi tahu tujuan pemikiran ini. Lalu, apa gunanya?”

Saya terdiam sejenak, “Kenapa kamu ikuti?”

Menghirup nafas, “Waktu itu, saya masih belum menemukan pemikiran yang sesuai. Saya waktu itu terlalu muda untuk bisa memutuskan harus berbuat apa. Namun, satu hal yang pasti. Saya meneliti dahulu setiap doktrin (apalah kau sebut itu) yang saya dapatkan. Itu yang membuat saya terlihat seperti belum tersentuh pemikiran ini. Perlu waktu lama untuk menetapkan apakah saya lakukan atau tidak. Saya terlihat terlambat karena teman-teman saya langsung melakukan begitu disampaikan. Hingga kini, siapapun dia, sesalih apapun, tetap saya tidak langsung percaya dengan omongannya. Kenapa saya ikuti? Saya melihat pemikiran ini banyak benarnya meski saya tetap yakin pasti ada salahnya.”

“Kamu memulai penjelasan dengan ‘waktu itu’. Apakah hari ini kondisinya berbeda?”

Tersenyum simpul, “Tentu saja. Saya terlalu lelah dengan pemikiran ini. Tujuan yang mengabur, itu yang sulit untuk kumaafkan. Sebenarnya, tujuan itu ada, tapi jalan yang ditempuh oleh pemikiran ini terasa tidak sinkron. Itulah kesalahan pemikiran ini. Akhirnya saya tahu. Ah, saya terlalu lelah untuk berputar-putar.”

“Selanjutnya, apa?”

Tersenyum kembali, “Saya sangat bersyukur menemukan pemikiran yang tidak memaksakan kita untuk menerima apapun secara mentah-mentah atau begitu saja. Pemikiran yang saya temui ini memiliki tujuan yang jelas dan jalur tempuh yang semuanya telah diperhitungkan. Semua pandangan saya yang kebanyakan berbeda dengan pandangan pemikiran saya sebelumnya selalu membuat hati saya kalut. Saya khawatir kalau-kalau saya menciptakan pemikiran baru yang nantinya menyimpang jauh dari kondisi seharusnya. Namun, apa yang terjadi? Saya bahagia bahwa pandangan-pandangan saya mendapat pembenaran dari pemikiran ini. Penelitian yang mereka beberkan dan caranya yang sistematis membuat saya yakin bahwa inilah kebenaran.”

“Lalu?”

“Saya akan bersetia pada pemikiran ini. Bukan bersetia sepenuhnya, tetapi tetap tidak meninggalkan kebiasaan menguji. Ya, saya terlalu sering menguji dan terlalu sering terpana karena pemikiran ini lulus uji. Kesetiaan saya adalah untuk pemikiran yang seluruhnya logis, tidak boleh setengah-setengah.”

“Bagaimana?”

“Bagaimana apa?”

“Bagaimana dengan sikap orang-orang yang memiliki pemikiran ‘itu’ jika nantinya mereka tahu? Bukankah mereka merasa dikhianati?”

“Kalau saja, ya, kalau saja mereka bisa membuktikannya dengan logis … Sekali lagi, saya memang sejak awal berniat untuk tidak setia dengan pemikiran ini. Saya yakin ada pemikiran yang sesuai dengan inti ajaran agama ini sesungguhnya. Hanya saja waktu itu saya belum bertemu dengannya. Kalau mereka merasa dikhianati, janganlah begitu. Saya tetap pada agama saya, kesejahteraan sebagai rahmat untuk semesta alam. Pemikiran menentukan pemikiran.”

Saya diam sambil menatapnya dalam-dalam. Saya menatapnya dalam cermin. Fiuh, capek juga berbicara dengan diri sendiri.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Lari Sampai FE!

Itu teriakan salah satu komdis yang melihat saya yang tadinya lari lalu jalan cepat di pertengahan jalan menuju gedung Fakultas Ekonomi. Kamu tahu nggak sih kalau saya capek? Ingin sekali saya berteriak begitu tapi waktu telah mengejar saya.

Saya pun melihat Orientasi Pengenalan Kampus fakultas saya ini lebih manusiawi dan mendidik daripada Ospek fakultas lain. Saya diberikan tugas-tugas yang jumlahnya lumayan tapi proporsional juga. Selain itu ‘nyambung’ juga dengan kegiatan perkuliahan nantinya.

Atribut-atribut kami juga dengan hitungan yang cermat. setiap potongan dan goresannya terukur. Iyalah, calon ekonom harus teliti soal angka.


Goodie Bag, tempat menyimpan esai-esai.



Saya bingung kenapa cowok harus foto dengan cewek dan sebaliknya.

Bagian belakang namteg.


Teman saya ada yang berkomentar, “Apa? Kalian ‘kan ekonomi, harusnya baju sama tasnya nggak kayak gitu dong!”

Buku panduan OPK FEUI 2011.
Ini kertas-kertas yang saya dapat selama OPK. Harusnya lebih dari itu tapi sisanya tak tahu ke mana.

Oh ya, enaknya OPK ini, banyak hadiahnya lho! Tinggal jawab kuis, kasih pertanyaan, atau apalah! Sebenarnya buat kuis saya mau jawab semuanya tapi nanti dikira tamak (lho, itu bukannya hak?)

Hari pertama saya dapat buku FEUI untuk Indonesia, Ide, Gagasan, hingga Praxis dari Economica, klub jurnalistik FEUI. Sewaktu saya buka bukunya, saya kaget. Ternyata, semua jawaban esai hari pertama ada di situ. Memang lengkap sih, menjelaskan FEUI dari 1950 sampai 2010. Bahkan alumni-alumninya yang merupakan tokoh terkenal ada di situ juga.

Hari kedua, saya dapat map dari mana lupa (maaf ya). Lumayanlah, isinya banyak.
Economics goes marching in …

2 Comments

Filed under Uncategorized

Apa Sih Bagusnya UI?

Kenapa UI menjadi kampus terbaik di Indonesia? (Kata Pak Rektor)

Kenapa banyak anak-anak daerah yang datang dari jauh untuk kuliah di UI?

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Selamat Datang Gubernur BI!

Ini adalah kisah 10 tahun lalu, ketika Latansa I. D. E. belum jadi siapa-siapa.*

4 Agustus 2011 M, 4 Ramadhan 1432 H
Hari ini, saya dan kembaran saya (orang-orang menyebutnya begitu, saya sebenarnya tidak mau) pergi daftar ulang kuliah. Setelah hampir 6 tahun hidup dalam sekolah yang berbeda, kini kami berkuliah di universitas yang sama. Tadinya kami juga satu fakultas, untunglah surat keputusan yang telah dibuat mengubah segalanya. Bisa gawat kalau saya satu fakultas dengan dia. Keisengan saya akan terhambat dan layu sebelum berkembang.
Kami naik kereta setelah sebelumnya diturunkan di Stasiun Cawang. Sebelum masuk gedung kami disapa oleh dua mahasiswi SALAM UI. Apa itu? Cari saja di internet, hehe. Begitu kami masuk, kami diarahkan untuk duduk di deretan kursi. Kami menunggu lama di situ. Kebanyakan calon mahasiswa sibuk dengan ponselnya, ada yang mengerjakan tugas, yang sibuk berkenalan, ada juga yang menatap kosong bingung ingin melakukan apa. Saya sendiri membaca Koran Kampus.
Sejak pukul 7. 40 WIB, kami berpindah tempat kira-kira 10 kursi di sebelah kami setiap 8 menit. Kira-kira pukul 8. 13 saya menerima berkas pendaftaran dan mengisi berkas registrasi. Kembaran saya berkata kalau saya sembarangan mencentang. Seharusnya kotak centangan itu diisi oleh petugas, tapi saya dengan PD-nya mencentang sendiri.
Anehnya, di Loket Cek Berkas disuruh memberikan satu lembar fotokopi rapor kelas III yang dilegalisasi padahal itu tidak tercantum di pemberitahuan sebelumnya. Untung saja tidak wajib. Lagipula, saya tidak punya.
Selanjutnya kami pergi ke Loket Mengukur Jaket. Kami mencoba memakai jaket almamater dan mencatatkan ukurannya pada map berkas. Saya makin berhasrat untuk memberi emblem yang banyak pada jaket kuning yang bersinar itu.
Loket selanjutnya adalah Loket Foto/ Sidik Jari. Karena foto yang saya pakai sewaktu pendaftaran SIMAK sudah bagus, saya tidak perlu difoto. “Mbak, silakan maju,” begitu kata petugas. Saya rasa terlalu cepat karena saya baru saja duduk. Ketika saya lihat, orang-orang yang tadinya di depan saya telah pergi dan meninggalkan kursi-kursi antrean.
Di loket registrasi saya menyerahkan map berisi dokumen yang telah diperiksa di Loket Cek Berkas dan menerima bukti registrasi serta akun Sistem Informasi UI. ID yang saya dapat keren, mirip ID pos-el saya yang tidak terpakai.
Saya berjalan ke luar gedung untuk menunggu dibagikannya Kartu Identitas Mahasiswa (KIM) di loket selanjutnya. Di layar, saya melihat estimasi waktu yang harus saya tunggu. Waduh, masih 57 menit. Ternyata saya hanya perlu menunggu beberapa menit.
Loket terakhir yaitu Loket Kemahasiswaan. Saya menempel lagi dengan kembaran saya karena sewaktu dipanggil nama saya tepat dipanggil setelah namanya. Kami dibagikan tiket Pelatihan Pembangunan Karakter. Setelah itu kami mendengar sebuah kaset yang memakai manusia sebagai pemutarnya.
“Selamat datang di Loket Kemahasiswaan, kami dari panitia OKK (Orientasi Kehidupan Kampus—pen.) akan menjelaskan sedikit tentang OKK. Sebelumnya saya akan membagikan formulir isian dari paguyuban tapi mohon jangan diisi di sini. Dengarkan saya baik-baik, …”
Kami pun keluar dari sana. Rupanya di pekarangan kami digiring untuk mendatangi stan OKK dan stan fakultas. Di stan OKK, kami dijelaskan tentang tugas-tugas OKK. Setelah itu ditawari kaos OKK. Senior menagih uang kepada saya. “Lho, kalian tetanggaan?” begitu katanya saat kembaran yang membayar kaos saya.
Beranjak dari situ kami ke stan fakultas masing-masing. Saya mengikuti arahan orang-orang yang meneriakkan ekonomi. Saya pun berjalan kea rah stan Fakultas Ekonomi. “Selamat datang Ekonomi! Selamat datang Gubernur BI!” sambut para senior.
Begitulah hari pertama kehidupan saya di kampus. Dalam perjalanan kembali, saya masih berpikir tentang bau yang saya cium di sana. Bau itu paling menusuk di area stan fakultas. Sungguh, saya merasa sangat terganggu dengan bau itu. Bau itu pernah saya cium di sekolah saya sebelumnya, tetapi terlalu samar dan jarang tercium. Bau itu juga pernah saya cium di kampus-kampus universitas atau institut lain tetapi tidak se-mengganggu di Universitas Indonesia. Saya mencoba menebak bau apa gerangan. Sebuah jawaban tiba-tiba melintas di pikiran saya. Hmm, mungkin bau pergerakan ideologi.
<img border="0" class="alignmiddleb" *Anggap saja ini tahun 2021
Baca juga:

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Maafkan Kami, Ramadan

Seperti tema suatu majalah, ya sudahlah.








Maafkan kami …

Leave a comment

Filed under Uncategorized