Selamat Datang Gubernur BI!

Ini adalah kisah 10 tahun lalu, ketika Latansa I. D. E. belum jadi siapa-siapa.*

4 Agustus 2011 M, 4 Ramadhan 1432 H
Hari ini, saya dan kembaran saya (orang-orang menyebutnya begitu, saya sebenarnya tidak mau) pergi daftar ulang kuliah. Setelah hampir 6 tahun hidup dalam sekolah yang berbeda, kini kami berkuliah di universitas yang sama. Tadinya kami juga satu fakultas, untunglah surat keputusan yang telah dibuat mengubah segalanya. Bisa gawat kalau saya satu fakultas dengan dia. Keisengan saya akan terhambat dan layu sebelum berkembang.
Kami naik kereta setelah sebelumnya diturunkan di Stasiun Cawang. Sebelum masuk gedung kami disapa oleh dua mahasiswi SALAM UI. Apa itu? Cari saja di internet, hehe. Begitu kami masuk, kami diarahkan untuk duduk di deretan kursi. Kami menunggu lama di situ. Kebanyakan calon mahasiswa sibuk dengan ponselnya, ada yang mengerjakan tugas, yang sibuk berkenalan, ada juga yang menatap kosong bingung ingin melakukan apa. Saya sendiri membaca Koran Kampus.
Sejak pukul 7. 40 WIB, kami berpindah tempat kira-kira 10 kursi di sebelah kami setiap 8 menit. Kira-kira pukul 8. 13 saya menerima berkas pendaftaran dan mengisi berkas registrasi. Kembaran saya berkata kalau saya sembarangan mencentang. Seharusnya kotak centangan itu diisi oleh petugas, tapi saya dengan PD-nya mencentang sendiri.
Anehnya, di Loket Cek Berkas disuruh memberikan satu lembar fotokopi rapor kelas III yang dilegalisasi padahal itu tidak tercantum di pemberitahuan sebelumnya. Untung saja tidak wajib. Lagipula, saya tidak punya.
Selanjutnya kami pergi ke Loket Mengukur Jaket. Kami mencoba memakai jaket almamater dan mencatatkan ukurannya pada map berkas. Saya makin berhasrat untuk memberi emblem yang banyak pada jaket kuning yang bersinar itu.
Loket selanjutnya adalah Loket Foto/ Sidik Jari. Karena foto yang saya pakai sewaktu pendaftaran SIMAK sudah bagus, saya tidak perlu difoto. “Mbak, silakan maju,” begitu kata petugas. Saya rasa terlalu cepat karena saya baru saja duduk. Ketika saya lihat, orang-orang yang tadinya di depan saya telah pergi dan meninggalkan kursi-kursi antrean.
Di loket registrasi saya menyerahkan map berisi dokumen yang telah diperiksa di Loket Cek Berkas dan menerima bukti registrasi serta akun Sistem Informasi UI. ID yang saya dapat keren, mirip ID pos-el saya yang tidak terpakai.
Saya berjalan ke luar gedung untuk menunggu dibagikannya Kartu Identitas Mahasiswa (KIM) di loket selanjutnya. Di layar, saya melihat estimasi waktu yang harus saya tunggu. Waduh, masih 57 menit. Ternyata saya hanya perlu menunggu beberapa menit.
Loket terakhir yaitu Loket Kemahasiswaan. Saya menempel lagi dengan kembaran saya karena sewaktu dipanggil nama saya tepat dipanggil setelah namanya. Kami dibagikan tiket Pelatihan Pembangunan Karakter. Setelah itu kami mendengar sebuah kaset yang memakai manusia sebagai pemutarnya.
“Selamat datang di Loket Kemahasiswaan, kami dari panitia OKK (Orientasi Kehidupan Kampus—pen.) akan menjelaskan sedikit tentang OKK. Sebelumnya saya akan membagikan formulir isian dari paguyuban tapi mohon jangan diisi di sini. Dengarkan saya baik-baik, …”
Kami pun keluar dari sana. Rupanya di pekarangan kami digiring untuk mendatangi stan OKK dan stan fakultas. Di stan OKK, kami dijelaskan tentang tugas-tugas OKK. Setelah itu ditawari kaos OKK. Senior menagih uang kepada saya. “Lho, kalian tetanggaan?” begitu katanya saat kembaran yang membayar kaos saya.
Beranjak dari situ kami ke stan fakultas masing-masing. Saya mengikuti arahan orang-orang yang meneriakkan ekonomi. Saya pun berjalan kea rah stan Fakultas Ekonomi. “Selamat datang Ekonomi! Selamat datang Gubernur BI!” sambut para senior.
Begitulah hari pertama kehidupan saya di kampus. Dalam perjalanan kembali, saya masih berpikir tentang bau yang saya cium di sana. Bau itu paling menusuk di area stan fakultas. Sungguh, saya merasa sangat terganggu dengan bau itu. Bau itu pernah saya cium di sekolah saya sebelumnya, tetapi terlalu samar dan jarang tercium. Bau itu juga pernah saya cium di kampus-kampus universitas atau institut lain tetapi tidak se-mengganggu di Universitas Indonesia. Saya mencoba menebak bau apa gerangan. Sebuah jawaban tiba-tiba melintas di pikiran saya. Hmm, mungkin bau pergerakan ideologi.
<img border="0" class="alignmiddleb" *Anggap saja ini tahun 2021
Baca juga:

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s