Ultah Ketiga MP Saya: K-A-L-U-T

“Kasihan kamu. Mental tidak sesuai dengan tingkat intelektual. Secara intelektual mungkin kamu mampu kuliah, tetapi secara mental belum tentu. Lagipula usiamu …”

Yampun, masih saja ada yang mempermasalahkan usia. Mental, intelektual, huh!

“Tuh, kan, saya benar. Buktinya saya lagi ngomong serius kamu malah kayak anak autis gitu.”

Saya terhenyak. Memangnya saya sedang apa? Mata saya langsung tertuju ke tangan. Tangan saya bergerak-gerak memukulkan penggaris ke karpet. Untuk apa? Tidak tahu. Au-tis?

“Saat kuliah nanti, akan banyak pergerakan yang menawarkan diri dan mencari massa. Sulit untuk menghadapi itu semua …”

Pening. Bayangan-bayangan buruk mulai berkelebat, hedonisme, liberalisme, materialisme, ekstrem kanan, ekstrem kiri, tradisionalisme, ilmiahisme, komunisme, atheisme. Semuanya bercampur. Wajah mereka tampak sama. Ergh, mana yang kuikuti?

***
“Dien, orang tuamu sefikrah sama kamu, nggak?”
“Ah, fikrah?”
“Iya, fikrah.”
“Kalau aku sama kamu, sefikrah, nggak?”
“Ya itu sih nggak usah ditanya.”
“Maksudnya?”
“Ya sefikrahlah!”
“Kalau kamu tahu aku nggak sefikrah sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya saya dalam hati.

Fikrah bagi saya adalah pemikiran (hanya ganti imbuhan). Pemikiran yang mendasari atas segala sesuatu sikap kita mungkin berbeda. Sikap saya dalam menghadapi perbedaan fikrah adalah memilih salah satu. Ya, salah satu. Cukup satu.

Lalu, bagaimana pendapatmu jika ada orang yang sejak awal berniat tidak setia pada pilihannya. Meski pilihan itu sudah diketahuinya sejak balita, ia tetap berniat tidak setia. Meski ia sudah menjalani pilihan itu bertahun-tahun lamanya, ia tetap berniat tidak setia. Meski ia kini berada di tingkatan yang cukup tinggi, ia tetap berniat tidak setia. Meski ia terlihat cukup aktif, ia tetap berniat tidak setia. Mengapa bisa?

Pernah saya menanyakan alasan itu padanya, “Saya sejak awal tidak yakin dengan kebenaran pemikiran ini. Terbukti dengan seperti berputar-putarnya kita pada masalah-masalah yang terjadi. Tidak tampaknya pemecahan masalah yang efektif. Begitulah pendangan saya akan pemikiran ini. Yang saya lihat hanyalah pengaderan massa sebanyak-banyaknya, tetapi massa tersebut tidak tahu mau melakukan apa. Parahnya lagi, di beberapa kasus , banyak massa yang merasa tidak diberi tahu tujuan pemikiran ini. Lalu, apa gunanya?”

Saya terdiam sejenak, “Kenapa kamu ikuti?”

Menghirup nafas, “Waktu itu, saya masih belum menemukan pemikiran yang sesuai. Saya waktu itu terlalu muda untuk bisa memutuskan harus berbuat apa. Namun, satu hal yang pasti. Saya meneliti dahulu setiap doktrin (apalah kau sebut itu) yang saya dapatkan. Itu yang membuat saya terlihat seperti belum tersentuh pemikiran ini. Perlu waktu lama untuk menetapkan apakah saya lakukan atau tidak. Saya terlihat terlambat karena teman-teman saya langsung melakukan begitu disampaikan. Hingga kini, siapapun dia, sesalih apapun, tetap saya tidak langsung percaya dengan omongannya. Kenapa saya ikuti? Saya melihat pemikiran ini banyak benarnya meski saya tetap yakin pasti ada salahnya.”

“Kamu memulai penjelasan dengan ‘waktu itu’. Apakah hari ini kondisinya berbeda?”

Tersenyum simpul, “Tentu saja. Saya terlalu lelah dengan pemikiran ini. Tujuan yang mengabur, itu yang sulit untuk kumaafkan. Sebenarnya, tujuan itu ada, tapi jalan yang ditempuh oleh pemikiran ini terasa tidak sinkron. Itulah kesalahan pemikiran ini. Akhirnya saya tahu. Ah, saya terlalu lelah untuk berputar-putar.”

“Selanjutnya, apa?”

Tersenyum kembali, “Saya sangat bersyukur menemukan pemikiran yang tidak memaksakan kita untuk menerima apapun secara mentah-mentah atau begitu saja. Pemikiran yang saya temui ini memiliki tujuan yang jelas dan jalur tempuh yang semuanya telah diperhitungkan. Semua pandangan saya yang kebanyakan berbeda dengan pandangan pemikiran saya sebelumnya selalu membuat hati saya kalut. Saya khawatir kalau-kalau saya menciptakan pemikiran baru yang nantinya menyimpang jauh dari kondisi seharusnya. Namun, apa yang terjadi? Saya bahagia bahwa pandangan-pandangan saya mendapat pembenaran dari pemikiran ini. Penelitian yang mereka beberkan dan caranya yang sistematis membuat saya yakin bahwa inilah kebenaran.”

“Lalu?”

“Saya akan bersetia pada pemikiran ini. Bukan bersetia sepenuhnya, tetapi tetap tidak meninggalkan kebiasaan menguji. Ya, saya terlalu sering menguji dan terlalu sering terpana karena pemikiran ini lulus uji. Kesetiaan saya adalah untuk pemikiran yang seluruhnya logis, tidak boleh setengah-setengah.”

“Bagaimana?”

“Bagaimana apa?”

“Bagaimana dengan sikap orang-orang yang memiliki pemikiran ‘itu’ jika nantinya mereka tahu? Bukankah mereka merasa dikhianati?”

“Kalau saja, ya, kalau saja mereka bisa membuktikannya dengan logis … Sekali lagi, saya memang sejak awal berniat untuk tidak setia dengan pemikiran ini. Saya yakin ada pemikiran yang sesuai dengan inti ajaran agama ini sesungguhnya. Hanya saja waktu itu saya belum bertemu dengannya. Kalau mereka merasa dikhianati, janganlah begitu. Saya tetap pada agama saya, kesejahteraan sebagai rahmat untuk semesta alam. Pemikiran menentukan pemikiran.”

Saya diam sambil menatapnya dalam-dalam. Saya menatapnya dalam cermin. Fiuh, capek juga berbicara dengan diri sendiri.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s