Monthly Archives: September 2011

BOP-Berkeadilan, Adilkah? #kamimenggugat

“Civitas UI bukanlah anggota DPR yang bahu-membahu menutupi boroknya.”
–Faisal Basri dalam sidang paripurna MWA 14 September 2011

“Enak ya kalian mahasiswa baru, baru masuk sudah diberi tontonan seperti ini,” ujar salah satu pegawai Fakultas Ekonomi ketika saya sedang menyaksikan aksi.

Ada banyak polemic yang ada di UI. JIka media akhir-akhir ini dihebohkan dengan pemberian gelar Doktor Honoris Causa bidang kemanusiaan pada Raja Arab Saudi (padahal jelas-jelas TKI banyak yang ditelantarkan), itu hanya sebagian kecil. Sebenarnya jauh lebih besar.

Saya sedang tidak ingin menceritakannya satu-satu. Saya akan menceritakan salah satunya, BOP-Berkeadilan.

Saya tidak merasa bahwa BOP-B itu adil. Menurut info yang saya terima, biaya kuliah di UI sebagian dibiayai oleh rakyat. Untuk itu, seharusnya biaya kuliah di UI murah. Kenyataannya tidak.

Sewaktu saya diterima di Ilmu Hukum, dijelaskan kalau uang pangkal sebesar 10 juta, biaya per semesternya 5 juta, dan ada biaya untuk asuransi, jaket kuning, dan lain-lain sebesar 600 ribu. Setelah itu di bawahnya ada tulisan pemilihan mekanisme pembayaran, (1) Membayar tunai, (2) Cicilan penuh, dan (3) BOP-Berkeadilan yang diberikan waktu kalau tidak salah tiga hari untuk memilihnya.

Setelah dibukanya pengumuman, malamnya saudari saya mengirim pesan.

fwd: Teman-Teman Mahasiswa Baru SNMPTN ndangan, jika ada teman yang diterima di UI via SNMPTN jalur tertulis, mohon bantu ingatkan mereka untuk mengajukan BOP-Berkeadilan, ya. Mekanisme ini bukan mekanisme keringanan, melainkan mekanisme penyesuaian besaran biaya sesuai dengan keadaan ekonomi pengajunya dan sangat terbuka untuk diajukan oleh SELURUH mahasiswa baru S1 reguler UI 2011.

nb: turutin aja berbagai persyaratan berkasnya, jika ternyata masih belum sesuai dgn kantong kita, masih bisa diajukan banding.

selamat ya teman2! semoga ridho Allah selalu menyertai segala jerih payahmu

Syukran jazakumullah khair

Ketika saya melihat persyaratan BOP-Berkeadilan, saya menghembuskan napas panjang. Ada banyak persyaratannya, salah satunya adalah keterangan miskin dari Ketua RT. “Yah, mana mau Pak RT diajakin beginian,” kata kembaran saya. Orang tua pun berkata, “Ambil yang cicilan penuh aja, lagian buat ngurus berkas-berkas BOP-B cuma dikasih waktu empat hari.”

Jadilah saya memilih cicilan penuh. Awalnya, saya diberikan waktu lima belas hari untuk membayar cicilan pertama. Dua hari berikutnya, ketentuan berubah. Saya diberi waktu hingga akhir bulan. Oce, itu artinya saya bisa menunggu pengumuman SIMAK UI dulu. Siapa tahu saya diterima di jurusan lain.

Pengumuman SIMAK pun tiba. Saya diterima di Akuntansi yang paralel. Saat melihat halaman pengumumannya, saya bergumam, “Kok ada yang beda ya?” Saya pun membuka browser lain. Saya membuka situs UI juga tetapi dengan nomor login yang hukum. “Oh, bedanya tidak ada kotak mekanisme pembayaran,” kata saya. Kata lainnya harus tunai.

Program parallel adalah program untuk segala umur dan menyubsidi teman-teman regular supaya bisa membayar lebih murah. Dengan asumsi segala umur artinya orang yang sudah punya penghasilan, biaya pun besar. Padahal orang-orag parallel kebanyakan yang baru lulus.

Perbedaan biaya
Ilmu Hukum Reguler Akuntansi Paralel
Uang pangkal Rp 10 juta Rp 25 juta
Per semester Rp 5 juta Rp 10,5 juta
Biaya dll Rp 600 ribu Rp 0
Total Rp15.600.000,00 Rp35.500.000,00
Selisih: Rp19.900.000,00

Perbedaan yang cukup lumayan. Apalagi teman saya yang mengambil program Kelas Khusus Internasional (KKI) biaya per semesternya 28 juta Rupiah.

Hingga tulisan ini saya publikasikan, belum ada laporan keuangan yang jelas.

#kamimenggugat

*Semoga saja semester depan biaya per semester tidak sampai 5 juta.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

IN*-DO*-NE*

Tadi saya iseng buka Twitter. Salah satu Trending Topic-nya IN-DO-NE. Tadi malam juga begitu, tapi saya pikir wajar saja. Semalam Indonesia melawan Bahrain. Pantas saja kalau frasa tersebut, Alfred Riedl, dan Wim Rijsbergen juga menjadi tren.

Awalnya, saya mengira kalau Malaysia kembali berulah. Namun, saya tidak langsung men-judge begitu. Salah satu materi prakuliah mengajarkan untuk tidak langsung men-judge (tolong jangan ngomongin kuliah dulu dong, masih pingin libur nih). Karena tadi malam saya mengantuk jadi saya tidak sempat melakukan kroscek.

Agak tidak mungkin kalau Malaysia yang melakukannya. Orang Malaysia itu sedikit, apalagi yang main Twitter. Lagipula kenapa yang ditulis itu IN-DO-NE, biasanya ‘kan Indon? Lagipula mengapa harus ada tanda hubung di situ? Jangan-jangan ada yang salah dengan orang Indonesia.

Pagi ini saya ingin mengecek. Saya mengklik tulisan itu dan melihat bagaimana Tweets-nya.

what? TTWW is IN-DO-NE where are SI-A ? that aren’t perfect word! IN-DO-NE-SI-A THAT’S THE PERFECT ONE!
7 jam yang lalu
Di-retweet 100+ kali

Apa? Saudara-saudari, ternyata yang membuat IN-DO-NE langgeng menjadi TT justru orang Indonesia sendiri. Lihat saja, Tweet tersebut bertuliskan IN-DO-NE dan di-retweet lebih dari seratus kali.

Oke, kemudian bagaimana awal mulanya bisa menjadi tren?

@rifkyfinaldi ada yg nyebut IN-DO-NE-SI-A ada lagi yg nyebut IN-DO-NE-SIA. ya iyalah ga kebaca belakangnya -___-

Bahkan, ada juga yang menulis In do ne siaaa …

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Senandung Maaf

Senandungkan lagu ini
Atas rindu di hati

Entah mengapa aku rindu, rinduuu sekali. Semuanya berjalan seperti keinginan dengan begitu saja. Pertemuan yang sebenarnya disengaja, perbincangan, perkunjungan, perjalanan, pertemanan, perjamuan, semuanya terjadi begitu saja.

Berlutut di lantai bumi
Bersedih menyepi

Beginilah pekerjaan aku sekarang. Berkumpul bersama teman-teman dan tenggelam dalam keramaian tak bisa menghilangkan kesedihan. Ingin menangis sejadi-jadinya tetapi air mata tak bisa keluar. Akhirnya aku memilih untuk menyendiri.

Toreh kisah senandung kasih
Maafkan tuan aku berjanji

Sumpah yang aku sepakati ini adalah sumpah seumur hidup. Sumpah ini diulang berkali-kali. Sumpah ini mampu memberikan energi untuk tetap hidup dalam kedamaian, kedamaian yang sebenarnya. Sungguh, aku tidak ingin menukar kedamaian ini dengan apapun.

Tak mau menuai murka
Untukmu oh kawan

Oh, kawan! Aku masih ingat kata-katamu. Kalau itu nantinya terjadi, kita tetap saudara, bukan? Entah mengapa aku juga cemburu. Sangat disayangkan, cemburunya tidak jelas. Berpura-pura tidak mendengar itu ternyata lebih sulit lagi.

Berbisik di dalam hati
Kumohon maafkan
berbagi peluh menuju cita
Daku membasuh keringat luka

Maafkan aku. Aku berharap dua kata itu sampai pada kedua telingamu dan masuk dalam jiwamu. Biarlah dua kata itu mengudara lalu menembus batas jarak di antara kita. Aku hanya ingin mengingatkan kalau kita berada dalam satu cita. Aku juga tidak mau menambah sayatan untuk lukamu yang masih menganga.

Du du du du……………..

Merpati di atas dahan
Menyusun sarangnya
Kukembalikan hatimu
Seperti semula

Aku akan terbang tinggi ke tempat nun jauh di sana. Aku telah menyusun sarang di sana. Sarangku berbahan benih-benih yang kini telah menjadi tumbuhan layu. Kuambil ranting dan daunnya yang masih kecil-kecil itu. Tumbuhan yang telah tiada itu mati muda di wilayah yang keras ini.

Hapuskanlah lagu terangi cinta
Meniti lagu menyemat suka

Du du du du……………..

Gelombang nestapa…..
Gelombang nestapa…..
Gelombang nestapaku harap sirna

Gelombang nestapa…..
Gelombang nestapa…..
Gelombang nestapaku harap sirna

Terima kasih atas semuanya.

*Kata-kata bergaris miring adalah lirik Senandung Maaf oleh White Shoes And The Couple Company

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Apa Sih Bagusnya UI? 2

Sebelum KAMABA (Kegiatan Awal Mahasiswa Baru), pertanyaan tersebut menjadi sebuah pertanyaan besar dalam hidup saya. Saya juga menulis pertanyaan tersebut di Multiply. Saya bertambah bingung, respon yang diberikan teman-teman Multiply terkesan sepakat kalau UI itu bagus. Apa sih bagusnya UI?

Banyak orang yang mengatakan bahwa UI itu kampus terbaik se-Indonesia. Terbaik se-Indonesia? Kalau yang terbaik saja seperti ini, kasihan sekali Negara tersebut. Pantas saja banyak yang berminat kuliah di luar negeri.

Ada orang-orang yang datang jauh-jauh bahkan dari luar Jawa hanya untuk berkuliah di UI. Mereka belajar sekuat tenaga dan jiwa untuk menembus seleksi yang ditengarai begitu ketat. Sebenarnya apa yang mereka kejar?

Setelah saya membaca lagi kalimat-kalimat barusan terkesan kalau saya iri dengan anak-anak yang diterima di UI. Fiuh, padahal saya sendiri kuliah di UI. Sebab kemunculan pertanyaan ini justru karena saya diterima.

Baiklah, ceritanya begini. Saya pernah mengikuti Ujian Saringan Masuk salah satu Perguruan Tinggi Swasta. Saya mengerjakannya dengan asal-asalan. Saya langsung tidur begitu selesai menghitamkan. Bosan tidur saya mengumpulkannya. Rupanya saya yang paling pertama mengumpulkan. Belakangan saya mengetahui saya diterima di jurusan akuntansi.

Saya juga pernah mengikuti Ujian Saringan Masuk PTN lain. Ini tidak jauh beda dengan USM PTS barusan. Dari waktu yang diberikan, sepertiganya saya gunakan untuk mengerjakan soal, sepertiga lain untuk tidur, dan sisanya tidak saya gunakan karena saya keluar. Belakangan saya juga mengetahui saya diterima di jurusan akuntansi.

Kelihatannya saya tidak pernah serius ya? Sebenarnya ada beberapa kali yang serius. Waktu SNMPTN Undangan (mekanismenya mirip PMDK) saya sangat serius. Belakangan saya mengetahui saya tidak diterima.

Waktu SNMPTN Tertulis saya serius. Sebenarnya keseriusan saya juga masih diragukan. Saya baru belajar materi IPS beberapa menit sebelum mengerjakan soal karena saya mengambil jurusan IPA saat sekolah. Alhamdulillah sekali ternyata soal-soal yang saya pelajari muncul. Belakangan saya mengetahui saya diterima di Ilmu Hukum UI.

Waktu Seleksi Masuk (SIMAK) UI saya agak serius. Keseriusan saya makin lama menurun. Bahkan parameter yang saya gunakan adalah saat pelaksanaan saya tidur atau tidak. Sebelum SIMAK, selama satu bulan saya belajar fisika dan kimia dengan sungguh-sungguh. Pelajaran-pelajaran lainnya tidak sempat saya pelajari. Saat hari-H, saya masih tidur sementara saya sudah sampai di lokasi ujian. Perlu waktu lama untuk membangunkan saya. Saat istirahat saya sibuk berwisata kuliner mengunjungi pedagang kaki lima di sekitar. Sewaktu ujian saya terlalu banyak melamun. Apalagi ketika Mata Ujian IPS, kemuakan saya sudah mencapai puncak. Mungkin itu karena saya tidak terlalu bisa mata ujian sebelumnya, IPA dan Kemampuan Dasar. Saya baru mengerjakan beberapa lembar tetapi bel sudah berbunyi. Saya pasrah. Belakangan saya mengetahui saya diterima di Akuntansi UI.

Dari itu semua, kita dapat membuat kesimpulan. Jika saya sangat serius, saya tidak diterima. Jika saya serius, saya diterima di Ilmu Hukum. Jika saya agak atau tidak serius, saya diterima di Akuntansi. Sempat bingung juga mengapa saya tidak pernah diterima di jurusan IPA.

Oke, balik lagi ke ‘apa sih bagusnya UI’. Saya bingung mengapa orang yang baru belajar beberapa menit sebelum ujian justru diterima. Saya bingung mengapa orang yang membaca soalnya tidak sampai selesai bisa diterima. Apa bedanya dengan PT lain?

Saya bingung lalu saya bertanya pada Allah, “Apa sih bagusnya UI?” Teman-teman kos saya juga mempunyai pertanyaan yang sama. Mungkin itu karena mereka tidak mengerjakan tes. Mereka diterima lewat jalur undangan.

Saat paduan suara saya bertemu dengan tiga ribuan mahasiswa baru. Di sana pelatih paduan suara mengucapkan selamat karena telah diterima di kampus terbaik negeri ini. Saya melihat wajah –wajah di sekitar saya bahagia dan bangga. Saya berbisik dalam hati, “Ada ribuan orang yang tersesat duduk di sini.” Pelatih menjelaskan prestasi-prestasi yang diraih dan saya pun tercengang.

Saat Pembukaan Pelatihan Pembangunan Karakter, Pak Rektor menjelaskan prestasi-prestasi yang diraih UI dengan lebih baik. Beliau juga menjelaskan tentang rencana pembangunan infrastruktur kampus yang mengagumkan.

Kegiatan-kegiatan lain seperti Orientasi Belajar Mahasiswa, Temu Anak Rohis, Orientasi Pengenalan Kampus, Orientasi Kehidupan Kampus, dan Silaturahmi Akbar yang saya ikuti seolah menjawab pertanyaan saya. Saya jadi percaya kalau perubahan Indonesia yang lebih besar dari peristiwa 98 bermula dari sini.

Muncul pertanyaan baru, mengapa orang seperti saya bisa diterima di tempat yang mengagumkan ini? Ternyata ada banyak orang di luar sana yang berdoa mengharapkan kebaikan untuk saya.

Ada juga pertanyaan lain, mengapa jika tidak tahu apa bagusnya UI saya ingin kuliah di UI? Saya memprediksi kalau perubahan Indonesia yang lebih besar dari peristiwa 98 bermula di sini. Saya ingin terlibat di dalamnya. Itu juga menjadi sebab mengapa saya tidak mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi di luar negeri.

Kata-kata di iklan susu ini bisa menggambarkannya.


kuingin menjalani hidupku.

membuka mataku untuk semua kemungkinan.

menempuh jalan yang belum pernah ditempuh.

dan bertemu wajah wajah baru.

merasakan hal baru, menggapai bintang di langit.

aku berjanji untuk menemukan diriku.

berdiri tegak penuh percaya diri.

dan meraih semua mimpi.

LIFE IS AN ADVENTURE.

Leave a comment

Filed under Uncategorized