Apa Sih Bagusnya UI? 2

Sebelum KAMABA (Kegiatan Awal Mahasiswa Baru), pertanyaan tersebut menjadi sebuah pertanyaan besar dalam hidup saya. Saya juga menulis pertanyaan tersebut di Multiply. Saya bertambah bingung, respon yang diberikan teman-teman Multiply terkesan sepakat kalau UI itu bagus. Apa sih bagusnya UI?

Banyak orang yang mengatakan bahwa UI itu kampus terbaik se-Indonesia. Terbaik se-Indonesia? Kalau yang terbaik saja seperti ini, kasihan sekali Negara tersebut. Pantas saja banyak yang berminat kuliah di luar negeri.

Ada orang-orang yang datang jauh-jauh bahkan dari luar Jawa hanya untuk berkuliah di UI. Mereka belajar sekuat tenaga dan jiwa untuk menembus seleksi yang ditengarai begitu ketat. Sebenarnya apa yang mereka kejar?

Setelah saya membaca lagi kalimat-kalimat barusan terkesan kalau saya iri dengan anak-anak yang diterima di UI. Fiuh, padahal saya sendiri kuliah di UI. Sebab kemunculan pertanyaan ini justru karena saya diterima.

Baiklah, ceritanya begini. Saya pernah mengikuti Ujian Saringan Masuk salah satu Perguruan Tinggi Swasta. Saya mengerjakannya dengan asal-asalan. Saya langsung tidur begitu selesai menghitamkan. Bosan tidur saya mengumpulkannya. Rupanya saya yang paling pertama mengumpulkan. Belakangan saya mengetahui saya diterima di jurusan akuntansi.

Saya juga pernah mengikuti Ujian Saringan Masuk PTN lain. Ini tidak jauh beda dengan USM PTS barusan. Dari waktu yang diberikan, sepertiganya saya gunakan untuk mengerjakan soal, sepertiga lain untuk tidur, dan sisanya tidak saya gunakan karena saya keluar. Belakangan saya juga mengetahui saya diterima di jurusan akuntansi.

Kelihatannya saya tidak pernah serius ya? Sebenarnya ada beberapa kali yang serius. Waktu SNMPTN Undangan (mekanismenya mirip PMDK) saya sangat serius. Belakangan saya mengetahui saya tidak diterima.

Waktu SNMPTN Tertulis saya serius. Sebenarnya keseriusan saya juga masih diragukan. Saya baru belajar materi IPS beberapa menit sebelum mengerjakan soal karena saya mengambil jurusan IPA saat sekolah. Alhamdulillah sekali ternyata soal-soal yang saya pelajari muncul. Belakangan saya mengetahui saya diterima di Ilmu Hukum UI.

Waktu Seleksi Masuk (SIMAK) UI saya agak serius. Keseriusan saya makin lama menurun. Bahkan parameter yang saya gunakan adalah saat pelaksanaan saya tidur atau tidak. Sebelum SIMAK, selama satu bulan saya belajar fisika dan kimia dengan sungguh-sungguh. Pelajaran-pelajaran lainnya tidak sempat saya pelajari. Saat hari-H, saya masih tidur sementara saya sudah sampai di lokasi ujian. Perlu waktu lama untuk membangunkan saya. Saat istirahat saya sibuk berwisata kuliner mengunjungi pedagang kaki lima di sekitar. Sewaktu ujian saya terlalu banyak melamun. Apalagi ketika Mata Ujian IPS, kemuakan saya sudah mencapai puncak. Mungkin itu karena saya tidak terlalu bisa mata ujian sebelumnya, IPA dan Kemampuan Dasar. Saya baru mengerjakan beberapa lembar tetapi bel sudah berbunyi. Saya pasrah. Belakangan saya mengetahui saya diterima di Akuntansi UI.

Dari itu semua, kita dapat membuat kesimpulan. Jika saya sangat serius, saya tidak diterima. Jika saya serius, saya diterima di Ilmu Hukum. Jika saya agak atau tidak serius, saya diterima di Akuntansi. Sempat bingung juga mengapa saya tidak pernah diterima di jurusan IPA.

Oke, balik lagi ke ‘apa sih bagusnya UI’. Saya bingung mengapa orang yang baru belajar beberapa menit sebelum ujian justru diterima. Saya bingung mengapa orang yang membaca soalnya tidak sampai selesai bisa diterima. Apa bedanya dengan PT lain?

Saya bingung lalu saya bertanya pada Allah, “Apa sih bagusnya UI?” Teman-teman kos saya juga mempunyai pertanyaan yang sama. Mungkin itu karena mereka tidak mengerjakan tes. Mereka diterima lewat jalur undangan.

Saat paduan suara saya bertemu dengan tiga ribuan mahasiswa baru. Di sana pelatih paduan suara mengucapkan selamat karena telah diterima di kampus terbaik negeri ini. Saya melihat wajah –wajah di sekitar saya bahagia dan bangga. Saya berbisik dalam hati, “Ada ribuan orang yang tersesat duduk di sini.” Pelatih menjelaskan prestasi-prestasi yang diraih dan saya pun tercengang.

Saat Pembukaan Pelatihan Pembangunan Karakter, Pak Rektor menjelaskan prestasi-prestasi yang diraih UI dengan lebih baik. Beliau juga menjelaskan tentang rencana pembangunan infrastruktur kampus yang mengagumkan.

Kegiatan-kegiatan lain seperti Orientasi Belajar Mahasiswa, Temu Anak Rohis, Orientasi Pengenalan Kampus, Orientasi Kehidupan Kampus, dan Silaturahmi Akbar yang saya ikuti seolah menjawab pertanyaan saya. Saya jadi percaya kalau perubahan Indonesia yang lebih besar dari peristiwa 98 bermula dari sini.

Muncul pertanyaan baru, mengapa orang seperti saya bisa diterima di tempat yang mengagumkan ini? Ternyata ada banyak orang di luar sana yang berdoa mengharapkan kebaikan untuk saya.

Ada juga pertanyaan lain, mengapa jika tidak tahu apa bagusnya UI saya ingin kuliah di UI? Saya memprediksi kalau perubahan Indonesia yang lebih besar dari peristiwa 98 bermula di sini. Saya ingin terlibat di dalamnya. Itu juga menjadi sebab mengapa saya tidak mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi di luar negeri.

Kata-kata di iklan susu ini bisa menggambarkannya.


kuingin menjalani hidupku.

membuka mataku untuk semua kemungkinan.

menempuh jalan yang belum pernah ditempuh.

dan bertemu wajah wajah baru.

merasakan hal baru, menggapai bintang di langit.

aku berjanji untuk menemukan diriku.

berdiri tegak penuh percaya diri.

dan meraih semua mimpi.

LIFE IS AN ADVENTURE.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s