Monthly Archives: October 2011

Akuntansi = Luar Biasa 2

Baru saja, saya menulis judul. Air mata sudah menetes. Hari-hari yang saya lalui terasa sulit padahal seharusnya tidak. Begitu banyak orang yang menawarkan pertolongan untuk menguraikan benang-benang masalah. Namun, di hadapan mereka saya tersenyum lebar juga tertawa, mencoba meyakinkan bahwa tidak terjadi apa-apa.

Saya membutuhkan waktu untuk diam sejenak. Diam sejenak dari segala aktivitas yang mencabik-cabik hati. Diam sejenak dari kegiatan yang niatnya sebagian sudah terkoyak. Saya butuh diam sejenak untuk mencari tahu, seimbangkah ini?

Sering saya didesak untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa senyuman lebar juga suara tawa saya yang saya berikan tak cukup untuk meyakinkan mereka kalau saya baik-baik saja. Saya hanya bisa berkata, “Saya belum mengerti pelajaran-pelajaran sulit ini.”

Sungguh, saya tidak berbohong. Jika bohong didefinisikan sebagai perkataan yang tak sesuai fakta, benar bahwa saya tidak berbohong. Hanya saja, yang saya lakukan adalah menutupi kebenaran. Saya menutupi kebenaran dengan suatu kebenaran lain yang sebenarnya tidak berkaitan.

Masalah-masalah pelik yang saya hadapi kini sebenarnya tidak berkaitan dengan pelajaran. Saya bisa saja menjadi orang yang gila belajar untuk menyelesaikannya. Bahkan, tak usah begitu pun dapat selesai. Namun, saya terlalu lama bergumul dengan gejala-gejala sehingga permasalahan tak kunjung usai.

Kemudian, muncullah sebuah pertanyaan: apa sebenarnya masalah-masalah yang ada? Sulit untuk mengungkapkan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan. Belasan tahun lamanya saya terbiasa berpura-pura tidak terjadi apa-apa lalu menyelesaikan masalah saya sendiri sehingga orang-orang tak perlu tahu. Namun, bagaimana dengan kini? Ketika masalah-masalah itu datang seperti buku-buku tebal yang jatuh dari langit dan menimpaku, menghunjamku di saat yang tidak tepat, saya hanya bisa jatuh terjerembab dengan dagu berdarah.

Saya butuh berteriak, menggerakkan rahang yang mungkin patah lalu mengeluarkan suara, merintih memanggil nama orang yang bisa menolong. Namun, siapa? Ibu-ayahku pergi, berada jauh dari jalan tempatku terjatuh. Kakakku pun mungkin akan segera pergi, hanya menunggu belasan hari lagi. Adik-adikku kebingungan bagaimana memahami peliknya kehidupan orang dewasa. Sulit bagi saya untuk mengandalkan teman karena lama sudah tertanam dalam bawah sadarku bahwa saya sedang menyusun konspirasi dan hanya orang-orang tertentu yang boleh tahu. Kemudian, mengapa tidak mengandalkan mitra penyusun konspirasi? Saya hanya bisa berkata, ‘Haruskah mereka mengetahui pengkhianatan yang telah saya lakukan? Bukankah inti dari semua permasalahan ini justru pengkhianatan itu?’

Bahkan, ‘buku’-ku tak cukup jadi andalan. Saya tak pernah yakin ia bisa amanah meski dirinya dilengkapi perlindungan kata sandi.

Siapakah kini yang bisa kupercaya? Bahkan, diri saya sendiri sulit untuk kupercayai. Di tengah kekacauan yang menyiksa, terdengar senandung, “Adakah kaurasakan, kadang hati dan fikiran tak selalu sejalan seperti yang kauharapkan? Tuhan, tolong tunjukkan. Apa yang ‘kan datang? Hikmah dari semua misteri yang tak pernah terpecahkan?”


__________________________
Tulisan ini ditulis dalam keadaan beberapa menit lagi UTS, kamar kosan hancur, cucian yang belum dicuci, badan yang belum mandi, baju yang belum disetrika, dan hal-hal lain yang terlalu panjang untuk dijelaskan. Bagaimanapun, semoga saya mendapat 100 di UTS nanti.

Saya merasa harus tetap menulis karena saya sejak dulu telah menyusun karir saya dan tidak mau sekarang hancur sia-sia. Saya percaya bahwa nantinya saya akan menjadi penulis (laporan keuangan) yang profesional. *Abaikan kata-kata dalam kurung

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Akuntansi = Luar Biasa

Dan sekarang aku telah tidur sendiri di kamarku
yang gelap dan dingin, penuh angan-angan
Dan sekarang aku telah pulang kembali ke rumah
yang kotor dan kecil, penuh cita-cita
Di sinilah, di kamarku yang gelap ini
Aku ingin menumpahkan kerinduanku
Di sinilah di kamarku yang dingin ini
Aku ingin menangis di pangkuan-Mu

Akhir-akhir ini setiap kali ada orang yang menanyakan kabar kepada saya, maka saya menjawab, “Luar biasa!” Jawaban yang cukup ambigu (amat bikin gundah). Jawaban itu sama ambigunya seperti menjawab soal ke manakah perginya titik Equilibrium jika supply curve dan demand curve shift outward. Jawaban singkatnya yaitu depend.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Sebelumnya ada banyak tulisan di bawah.Sekarang tulisan itu sudah saya hapus. Entahlah, tulisan-tulisan itu terasa tidak pantas untuk diperbincangkan. Seperti akan menambah ketidakterdefinisian keadaan saya.

Tadinya setelah setengah bulan lebih tidak menulis apa-apa di Multiply, saya ingin menulis sesuatu. Namun ternyata yang terjadi sesuatu banget. Saya bingung antara mengabarkan saya baik-baik saja atau tidak. Antara iya dan tidak.

Kemudian saya pun menulis sebait lirik lagu Hidup III. Memang, ada yang tak seimbang. Saya rasa itu adalah hasrat dan beban. Saya tidak tahu mana yang lebih berat. Jiwa saya juga mulai rapuh, bagai belum siap untuk menghadapi semua.

Kehidupan saya yang baru–kuliah–rasanya lain. Perkiraan saya pada waktu sekolah tentang kuliah itu santai ternyata ditolak mentah-mentah. Ada senior yang berkata bahwa ia menangis ketika kuliah semester pertama. Saat beliau menceritakan itu, saya hanya bergumam, ‘Ah, kalau aku nggak mungkin nangis. Ngapain juga nangisin hal macam ini.’ Rupanya saya kena batunya. Beberapa hari setelah saya bergumam, saya menangis.

Saya belum bisa mengerti kenapa sejak SD saya selalu ditimpa hal seperti ini. Pergi pagi, pulang ketika matahari mencium cakrawala atau jauh setelah itu. Terjaga di malam hari sambil merindukan keindahan Sabtu sore.

Seharusnya saya tak perlu menangis. Seharusnya saya tahu apa yang harus saya lakukan. Seharusnya saya biasa saja. Seharusnya, seharusnya, seharusnya … Nyatanya tidak. Ada beberapa yang mengganjal.

Karena sungguh, masalahnya bukan hanya soal kuliah. Namun, jauh lebih kompleks dari itu semua. Ada banyak masalah yang menumpuk menjadi satu, menghunjam kepalaku, jantungku, tubuhku pada waktu yang tidak tepat. Ingin saya urai, tapi tak sempat, tak mampu.

Padahal, saya tahu solusinya. Saya hanya butuh teman bicara. Mungkin bisa saja saya abaikan hunjaman itu. Kemudian melangkah di bawah sinar mentari seperti tidak terjadi apa-apa. Namun, saya sudah lelah berpura-pura. Saya lelah memakai topeng easygoing padahal yang saya hadapi adalah sesuatu yang rumit. Saya lelah menderita ketakutan-ketakutan tidak logis. Saya lelah menyimpan semuanya sendiri. Saya butuh teman bicara.

Apapun yang terjadi, dosen yang menakutkan, mata kuliah yang sulit dimengerti, teman-teman yang jarang ideal, kost-an yang hancur, perasaan yang tidak menentu, malam-malam yang mencekam, saya merasa bahwa saya memang sudah seharusnya kuliah di Akuntansi UI.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Hidup III

Lihatlah kedua belah tanganku
Yang kini nampak mulai gemetaran
Sebab ada yang tak seimbang
Antara hasrat dan beban
Atau karena jiwaku yang kini mulai rapuh
Gampang diguncangkan angin
Lihatlah bilik di jantungku
Denyutnya tak rapi lagi
Seperti akan segera terhenti
Kemudian sepi dan mati
–Ebiet G. Ade

Leave a comment

Filed under Uncategorized