Akuntansi = Luar Biasa

Dan sekarang aku telah tidur sendiri di kamarku
yang gelap dan dingin, penuh angan-angan
Dan sekarang aku telah pulang kembali ke rumah
yang kotor dan kecil, penuh cita-cita
Di sinilah, di kamarku yang gelap ini
Aku ingin menumpahkan kerinduanku
Di sinilah di kamarku yang dingin ini
Aku ingin menangis di pangkuan-Mu

Akhir-akhir ini setiap kali ada orang yang menanyakan kabar kepada saya, maka saya menjawab, “Luar biasa!” Jawaban yang cukup ambigu (amat bikin gundah). Jawaban itu sama ambigunya seperti menjawab soal ke manakah perginya titik Equilibrium jika supply curve dan demand curve shift outward. Jawaban singkatnya yaitu depend.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Sebelumnya ada banyak tulisan di bawah.Sekarang tulisan itu sudah saya hapus. Entahlah, tulisan-tulisan itu terasa tidak pantas untuk diperbincangkan. Seperti akan menambah ketidakterdefinisian keadaan saya.

Tadinya setelah setengah bulan lebih tidak menulis apa-apa di Multiply, saya ingin menulis sesuatu. Namun ternyata yang terjadi sesuatu banget. Saya bingung antara mengabarkan saya baik-baik saja atau tidak. Antara iya dan tidak.

Kemudian saya pun menulis sebait lirik lagu Hidup III. Memang, ada yang tak seimbang. Saya rasa itu adalah hasrat dan beban. Saya tidak tahu mana yang lebih berat. Jiwa saya juga mulai rapuh, bagai belum siap untuk menghadapi semua.

Kehidupan saya yang baru–kuliah–rasanya lain. Perkiraan saya pada waktu sekolah tentang kuliah itu santai ternyata ditolak mentah-mentah. Ada senior yang berkata bahwa ia menangis ketika kuliah semester pertama. Saat beliau menceritakan itu, saya hanya bergumam, ‘Ah, kalau aku nggak mungkin nangis. Ngapain juga nangisin hal macam ini.’ Rupanya saya kena batunya. Beberapa hari setelah saya bergumam, saya menangis.

Saya belum bisa mengerti kenapa sejak SD saya selalu ditimpa hal seperti ini. Pergi pagi, pulang ketika matahari mencium cakrawala atau jauh setelah itu. Terjaga di malam hari sambil merindukan keindahan Sabtu sore.

Seharusnya saya tak perlu menangis. Seharusnya saya tahu apa yang harus saya lakukan. Seharusnya saya biasa saja. Seharusnya, seharusnya, seharusnya … Nyatanya tidak. Ada beberapa yang mengganjal.

Karena sungguh, masalahnya bukan hanya soal kuliah. Namun, jauh lebih kompleks dari itu semua. Ada banyak masalah yang menumpuk menjadi satu, menghunjam kepalaku, jantungku, tubuhku pada waktu yang tidak tepat. Ingin saya urai, tapi tak sempat, tak mampu.

Padahal, saya tahu solusinya. Saya hanya butuh teman bicara. Mungkin bisa saja saya abaikan hunjaman itu. Kemudian melangkah di bawah sinar mentari seperti tidak terjadi apa-apa. Namun, saya sudah lelah berpura-pura. Saya lelah memakai topeng easygoing padahal yang saya hadapi adalah sesuatu yang rumit. Saya lelah menderita ketakutan-ketakutan tidak logis. Saya lelah menyimpan semuanya sendiri. Saya butuh teman bicara.

Apapun yang terjadi, dosen yang menakutkan, mata kuliah yang sulit dimengerti, teman-teman yang jarang ideal, kost-an yang hancur, perasaan yang tidak menentu, malam-malam yang mencekam, saya merasa bahwa saya memang sudah seharusnya kuliah di Akuntansi UI.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s