Monthly Archives: November 2011

Ah, Baru Saja

Baru saja saya memejamkan mata, tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Saya ambil, lalu baca. “Materials for 28 Nov 2011”. Ada email masuk dari dosen. Ngantuk banget ini, gak pingin belajar.

Apalagi baca isinya:
Please find enclosed materials for session VIII – 28 Nov 2011
 
There will be 10 minutes quiz on the Nov 21 materials.

Ditambah lagi, saya tidak punya printer untuk mencetak handout-nya.

Ah, baru saja memejamkan mata.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kuda Kurangajar

Akhir-akhir ini saya merasa dihadapkan dengan banyak sekali pilihan. Pilihan-pilihan itu seperti berebut meminta saya untuk memilih mereka. Saya sangat ingin memilih semua, tetapi ternyata tak bisa. Bahkan seringkali hanya satu yang boleh dipilih.

Seperti hari itu. Mendungnya yang kelabu membuat diri saya juga kelabu di kampus abu-abu. Beruntung di kampus abu-abu ini saya mempelajari teknik membuat keputusan yang bijaksana. Orang rasional berpikir pada margin.

Sore itu saya memutuskan untuk pergi dengan teman saya ke sebuah desa. Pilihan yang sesungguhnya sulit manakala bayangan kamar kos menari-nari di atas kepala saya. Saya berbisik, ‘Kasurku, mungkin belum saatnya kita bertemu.’

Teman saya itu, ya begitu. Di tengah pusaran orang-orang yang gila belajar ia rela merelakan waktunya untuk hal-hal lain.

Dagang
Ia suka sekali berdagang cemilan yang bermerek Moring Sesuatu. Moring artinya ciMOl keRING, sebuah camilan yang terbuat dari aci (tepung sagu) yang dipanggang hingga kering seperti keripik lalu dibumbui. Ia berdagang itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena uang beasiswa sering terlambat turun.

Rapat
Ia suka sekali berorganisasi. Selain itu dia juga anggota BEM FEUI. Hampir tiap kali saya melihatnya pakai jaket, jaketnya adalah jaket abu-abu BEM yang di belakangnya bertuliskan ‘Center of Exellence’.

Mengajar
Di Depok, tepatnya Masjid Terminal Depok, ia mengajar untuk bimbingan masuk PTN tanpa dibayar. Semua pengajar adalah sukarelawan.

Cita-citanya adalah membangun masyarakat madani, masyarakat yang melek hukum, berpendidikan, dan mandiri secara finansial. Di tengah banyaknya persimpangan yang mampu membuatnya melenceng, dia tetap komit dengan cita-citanya.

Dia itu kuda kurangajar (KUliah-DAgang-KUliah-RApat-NGAJAR).

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Dedek (ddk)

Setelah berbulan-bulan saya hidup di fakultas abu-abu, panggilan saya makin macam-macam. Masih mending kalau Latansa atau L-Dien, itu nama asli saya. Namun, kalau panggilannya aneh begini, saya jadi suka ilfil sendiri.

Salah saya kalau saya jadi mahasiswa termuda* di fakultas ini? Salah teman-teman saya kalau mereka lebih tua dua bulan, setahun, dua tahun, tiga tahun, enam tahun, dan/ atau sebelas tahun dari saya? Jadi, ini sebenarnya salah siapa hingga saya dipanggil ‘Dedek’ di tempat kuliah?

Tahu, tidak? Kadang saya suka bingung sendiri kenapa semuanya terasa berbeda sekali di sini. Sadar atau tidak sadar masing-masing orang di sini sibuk dengan ideologinya masing-masing. Ada yang menyebarkannya, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. ada juga yang menikmati ideologinya itu sendiri.

Kemarin, saya membaca artikel tentang Billy Sidis, seorang laki-laki yang saat umurnya lima tahun sudah bisa membuat karya ilmiah. Mungkin bagi banyak orang, lima tahun adalah kali pertama bisa menulis karya ilmiah (pertama huruf k, kedua a, lalu, r, lalu y, … terakhir huruf h). Pada usia sebelas tahun sudah kuliah di Universitas Harvard (waktu itu UI belum terkenal sepertinya). Namun, karena perkembangan emosinya tidak sejalan dengan perkembangan intelektualnya, ia memilih keluar lalu bekerja sebagai buruh cuci hingga akhir hayatnya. Tragis.

Saya sangat tidak ingin sepertinya. Ya, walau lima tahun lebih tua dan bukan di Universitas Harvard, ketidaksinkronan emosi dan intelektual bisa saja terjadi. Panggilan dedek yang sangat ambigu (amat bikin gundah) sudah cukup untuk mengganggu saya.

Ah, Dedek … Ketika semakin bertambahnya orang yang memanggil saya ‘Dedek’, saya justru kehilangan panggilan ‘Dedek’ dari orang yang pertama kali memanggil saya dengan panggilan itu. Ah, tak apa, ‘kan? Tidak semua hasrat harus dituruti. Begitu juga dengan ‘Hasrat Hatiku’.

tiada yang tersembunyi
tak perlu mengingkari
rasa sakitmu, rasa sakitku

Saya baru sekarang mengerti makna lagu Peluk-nya Dewi Lestari dan Aqi Alexa itu. Kalau saya cerita soal ini, kesannya seperti munafik, begitu ya? Sudahlah, yang penting masih ada kesempatan untuk konsisten.

Ah, Dedek … Ah, *ati …
________________________________________________________
*Setidaknya hingga hari ini saya belum menemukan mahasiswa FEUI yang lebih muda dari saya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tanpa Judul

Dari kemarin pingin nulis blog tapi pas sempat nulis blog malah bingung mau nulis apa.

……………………………….

Leave a comment

Filed under Uncategorized