Dedek (ddk)

Setelah berbulan-bulan saya hidup di fakultas abu-abu, panggilan saya makin macam-macam. Masih mending kalau Latansa atau L-Dien, itu nama asli saya. Namun, kalau panggilannya aneh begini, saya jadi suka ilfil sendiri.

Salah saya kalau saya jadi mahasiswa termuda* di fakultas ini? Salah teman-teman saya kalau mereka lebih tua dua bulan, setahun, dua tahun, tiga tahun, enam tahun, dan/ atau sebelas tahun dari saya? Jadi, ini sebenarnya salah siapa hingga saya dipanggil ‘Dedek’ di tempat kuliah?

Tahu, tidak? Kadang saya suka bingung sendiri kenapa semuanya terasa berbeda sekali di sini. Sadar atau tidak sadar masing-masing orang di sini sibuk dengan ideologinya masing-masing. Ada yang menyebarkannya, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. ada juga yang menikmati ideologinya itu sendiri.

Kemarin, saya membaca artikel tentang Billy Sidis, seorang laki-laki yang saat umurnya lima tahun sudah bisa membuat karya ilmiah. Mungkin bagi banyak orang, lima tahun adalah kali pertama bisa menulis karya ilmiah (pertama huruf k, kedua a, lalu, r, lalu y, … terakhir huruf h). Pada usia sebelas tahun sudah kuliah di Universitas Harvard (waktu itu UI belum terkenal sepertinya). Namun, karena perkembangan emosinya tidak sejalan dengan perkembangan intelektualnya, ia memilih keluar lalu bekerja sebagai buruh cuci hingga akhir hayatnya. Tragis.

Saya sangat tidak ingin sepertinya. Ya, walau lima tahun lebih tua dan bukan di Universitas Harvard, ketidaksinkronan emosi dan intelektual bisa saja terjadi. Panggilan dedek yang sangat ambigu (amat bikin gundah) sudah cukup untuk mengganggu saya.

Ah, Dedek … Ketika semakin bertambahnya orang yang memanggil saya ‘Dedek’, saya justru kehilangan panggilan ‘Dedek’ dari orang yang pertama kali memanggil saya dengan panggilan itu. Ah, tak apa, ‘kan? Tidak semua hasrat harus dituruti. Begitu juga dengan ‘Hasrat Hatiku’.

tiada yang tersembunyi
tak perlu mengingkari
rasa sakitmu, rasa sakitku

Saya baru sekarang mengerti makna lagu Peluk-nya Dewi Lestari dan Aqi Alexa itu. Kalau saya cerita soal ini, kesannya seperti munafik, begitu ya? Sudahlah, yang penting masih ada kesempatan untuk konsisten.

Ah, Dedek … Ah, *ati …
________________________________________________________
*Setidaknya hingga hari ini saya belum menemukan mahasiswa FEUI yang lebih muda dari saya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s