#IMD2012 Ummi Aminah, Nilai Islam dalam Perfilman Indonesia

Ummi Aminah adalah seorang penceramah terkenal. Beliau sering diundang untuk mengisi majelis-majelis taklim. Isi ceramah-ceramahnya adalah tentang kebaikan hidup. Meski begitu, kehidupan keluarganya ternyata memiliki permasalahan yang rumit. Ketujuh anaknya bisa dikatakan bukan orang-orang yang sempurna.

Anak pertamanya yang bernama Umar adalah seorang yang kaya. Namun, kekayaan tersebut hanya dinikmati oleh anak istrinya. Adik-adiknya tidak ikut merasakan kekayaannya. Istrinya pun seorang yang terlalu takut kehilangan uang.

Keadaan sebaliknya justru dialami oleh anak keduanya yang bernama Aisyah. Rumahnya sederhana.

Zarika adalah seorang wanita cantik yang sibuk dengan pekerjaannya. Dia belum menikah. Meski begitu, kebutuhannya justru membuatnya mengambil langkah yang salah. Dia sering bepergian dengan Ivan, seorang laki-laki yang telah memunyai istri.

Anak yang paling berpengaruh dalam film ini adalah Zainal. Karena ketidaktahuannya, ia terlibat kasus pengedaran narkoba. Ditambah lagi polisi langsung menangkap ketika dia bertransaksi (tanpa ia sadari). Zainal pun masuk penjara dan mencoreng nama baik Ummi.

Lain lagi dengan Zubaidah. Seorang wanita tambun yang tidak berpenghasilan. Dia bingung mencari penghasilan. Entah dari mana, tiba-tiba ia berpikiran untuk menjadi asisten Ummi. Dia mendapat 10% dari uang lelah berceramah. Masalah tak juga selesai ketika Ummi dikasih satu juta Rupiah sehingga ia hanya mendapat seratus ribu Rupiah.

Ada lagi anaknya yang cukup unik. Zidan namanya. Zidan yang diperankan Ruben Onsu ini adalah seorang lelaki kemayu yang memunyai salon. Tokoh ini banyak dikritisi oleh penonton karena diperankan oleh seorang nonmuslim. Ada juga yang mempermasalahkan kalau bisa saja ada lelaki yang ikut kemayu gara-gara terinspirasi tokoh ini.

Anak terakhir yang bernama Ziah merupakan asisten Ummi sebelum Zubaidah. Dia harus rela ketika kakaknya memohon-mohon pada Ummi agar dijadikan asisten Ummi.

***

Setelah menonton film ini, saya jadi berpikir tentang etika. Bagaimanakah jika dalam film islami kita menggunakan aktor atau aktris yang nonmuslim? Atau bagaimana apabila kita bekerja sama dengan rumah produksi yang dimiliki orang nonmuslim? Bagaimana kalau ternyata ada peristiwa seorang Kristiani yang menonton film islami dan terkesan sehingga mengajak seluruh teman gerejanya menonton bersama film tersebut?


Aditya Gumay (director) dan Adenin (producer) memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Ya, satu hal yang perlu kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang universal. Sejatinya, semua film yang menyampaikan nilai-nilai kebaikan adalah film islami. Soal aktor yang nonmuslim itu tidak mengapa, lagipula di film ini tidak ada adegan aktor nonmuslim itu sedang salat atau sebagainya.

Kita juga boleh bekerja sama dengan nonmuslim. Orang itu mau membiayai pembuatan dan berkontribusi dalam pembuatan film islami. Dengan begitu, film ini dapat diluncurkan. Banyak orang yang mendapatkan kebaikan dari film ini, baik muslim maupun nonmuslim. Kebaikan dapat diterima semua orang. Muhammad sendiri pernah berkata jangan memerangi Yahudi jika dia tidak mengganggumu.

Jawaban tersebut membuat saya berpikir lagi tentang makna rahmat untuk seluruh alam. Bagaimana pun, menurut saya lebih baik bekerja sama dengan seorang muslim yang ingin menyebarkan kebaikan. Namun, ini tidak juga menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan nonmuslim mengingat misi kita adalah menjadi khalifah yang mampu membangun masyarakat yang baik.

Hal lain yang perlu dikritisi adalah profesi penceramah ternyata memiliki beban moral yang cukup berat. Dia harus mampu memberikan teladan baik dari dirinya maupun keluarganya. Kemudian, jika anak tidak berkelakuan baik, apakah itu salah orang tua?


“Tugas orang tua bukanlah berhasil melainkan bersungguh-sungguh,” jawab Astri Ivo. Dia melanjutkannya bahwa kasus orang tua yang beriman tetapi mempunyai anak yang tidak beriman itu bisa saja terjadi. Bahkan, orang sekaliber Nabi Nuh pun memiliki anak yang tidak beriman.

Itu jawaban yang bagus. Meski begitu sebenarnya muncul pertanyaan lain, lalu apakah indikator yang dapat menunjukkan bahwa orang tua telah bersungguh-sungguh? Apakah definisi bersungguh-sungguh yang sebenar-benarnya kalau bukan mengerahkan daya dan upaya untuk keberhasilan? Kalau yang ini saya belum punya jawabannya. Mungkin kamu dapat membantu.

***

Saya sangat senang dapat menjadi peserta acara Islamic Movie Days 2012 yang dipersembahkan oleh Forum Studi Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Acara movie screening dan talkshow yang diadakan hari ini (15 Maret 2012) di Auditorium R. Soeria Atmadja sangat berkesan. Apalagi dapat snack dan coffee break yang terdiri dari donat, air minum, teh, coklat panas, dan tiramisu serta majalah dan baju muslimah (masih banyak lagi). Hehe, besok ikut lagi, ah!

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s