[AK 17] #ImSickOf Kamu yang Ada di Situ

Kamu, ya, kamu yang ada di situ. Aku ingin berbicara denganmu. Menurutku kamu berbakat menjadi spionase. Tidak, tulisan-tulisanku bukan sebagai bahan untuk dimata-matai. Kamu memang mendapatkan banyak informasi dari sini, tapi akan selalu ada yang kurang jika kamu tidak pernah mencoba memberi tahuku apa yang kamu cari. Siapa tahu aku bisa membantu.
Namun, karena kamu sudah telanjur datang ke sini, akan kubuatkan sebuah apresiasi untukmu. Justru seharusnya aku memang bertahan karena ada orang-orang sepertimu, orang-orang yang mampir untuk lelah berpikir tanpa meninggalkan jejak kaki walau hampir. Bagaimanapun, aku dapat mencium bau tubuh kalian yang masih hinggap entah menempel di mana.
Aku bingung dengan orang yang menyuruh orang lain melihat dengan mata hati tapi dia sendiri tidak melihat dengan mata hati. Pernah aku bertanya pada temanku, disebut apakah? Temanku menjawab lanjiaolang, sebuah istilah orang-orang Hokkian yang tinggal di ranah Melayu. Mungkin kalau dicari padanan katanya di bahasa Indonesia kata munafik sepertinya cocok.
Orang seperti itu ternyata ada banyak. Jangan sampai kamu dan aku juga seperti mereka. Atau jangan-jangan, kamu justru bagian dari mereka? Sedang aku? Mudah-mudahan tidak begitu. Orang-orang seperti itu imannya bersifat maukuf.
Ditambah lagi, orang itu di mataku tampak seperti orang yang merapu belas kasih. Seolah, dia dibesarkan dalam lingkungan yang tak pernah mendengarkannya. Kini di usianya yang lumayan, dia melampiaskan apa yang ia tak dapat di masa kanak-kanak.
Kamu penasaran dengan orang itu? Akan kuberi tahu ciri utamanya. Pekerjaan yang sering dilakukannya adalah berukup. Nantinya, asap yang ia buat itu akan menutupi tubuhnya dengan pekat. Bau harum yang dihasilkan ia katakan sebagai sumber ketenangan. Akibatnya ia tidak bisa berpikir jernih karena asap dan bau itu terlalu mengintervensi dirinya secara tidak sadar.
Ciri keduanya adalah dia menyegel pemikirannya. Bisa dibilang… ortodoks, kolot, berpandangan kuno. Hei, bukannya aku sok modern, tapi apa susahnya menerima pembaharuan. Bagiku, ada hal-hal yang memang harus dipegang teguh sampai kapanpun, tapi tidak semua hal mesti begitu. Anehnya lagi, orang itu menyebut dirinya agen perubahan, tapi ya itu tadi. Dia menyegel seolah-olah hanya dirinya dan orang-orang sepertinya yang idenya benar.
Meski dia telah melakukan yang kusebut dalam ciri satu dan dua, sejatinya dia justru telah mengalami maserasi yang lagi-lagi tidak ia sadari. Tubuhnya melunak pada yang namanya kepentingan sesaat dan bukannya jangka panjang.
Orang itu jalannya mencaduk. Padahal, dia selalu berkata, ‘berjalanlah menunduk!’ Aku tak mengerti mengapa dia selalu begitu. Kesal, ya agak sedikit. Kata temanku, tingkat pendidikan yang tinggi tidak mampu membuatnya menjadi dewasa.
Orang itu, serta orang-orang yang seperti itu, justru bukannya memperbaiki malah merusak. Mereka memiliki visi membangun masyarakat madani, tapi apa yang dilakukannya? Mereka mengatakan tindakannya bertujuan untuk membangun dunia sampai tidak ada fitnah, tapi apa yang dilakukannya? Ingin rasanya kutaruh di sampaian.
Orang itu pondik. Sasaran tembaknya justru adalah anak-anak. Ya, kutegaskan kalau anak-anak. Mengapa kusebut anak-anak? Lihat saja. Menurut regulasi yang berlaku, orang-orang yang menjadi sasaran tembaknya terkategorikan sebagai anak-anak. Dia dengan ketidaktahumaluannya menyerang anak-anak. Tragis, anak-anak yang menang.
Orang itu berusaha mencari kawan seperjuangan untuk meningkar anak-anak. Berusaha menakut-nakuti dengan terror psikologis. Komplotan itu sungguh tidak tahu kalau anak-anak itu luar biasa. Tragis, anak-anak yang menang.
Bagiku, orang itu sebenarnya modular. Hanya saja, ia dengan segala ciri-cirinya itu, tampil dengan sok mengaku dirinya berbeda. Ah, sama saja. Sungguh sangat disayangkan, orang itu dan orang-orang seperti itu secara tidak sadar (lagi dan lagi) berteman dengan Lain Pengakuan Lain Tindakan.
Beranjak darinya, aku ingin membicarakan tentang anak-anak itu. Bagaikan cengkiak, mereka mampu bertahan meski dalam tanah. Semoga kamu dan akulah cengkiak itu. Aku sangat berharap kamu bukanlah sang ‘orang itu’ ataupun ‘orang-orang seperti itu’.
____________________
Anggap saja, ini sebuah tulisan filosofis.
Tentang kamu dan aku.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s