Monthly Archives: May 2012

Sebelum Tujuh Belas, Selamat Kerja Keras

“Apa sih yang sebenarnya membedakan diri kita setelah berusia tujuh belas tahun selain KTP?”
Postingan ini terinspirasi dari sebuah blog yang tidak sengaja saya lihat. Setelah saya baca itu, saya jadi ingin menulis ini. Blog itu secara tidak langsung membuat saya berpikir sesuatu. Banyak hal yang perlu saya lakukan (ternyata).
1. Memperbaiki Penampilan
Penampilan saya yang urakan ini sepertinya perlu dibenahi. Beberapa hari yang lalu, saya mewawancarai seorang manager perusahaan kelapa sawit. Ketika minta foto bersama, bapak itu berujar, “Hah? Minta foto tapi pake baju kayak gitu?” Saya pun melihat baju saya lalu bajunya. Sumpah, saya kaget sendiri kenapa bisa-bisanya saya memakai kaos sedangkan bapak itu memakai batik resmi.
Selain itu, saya akhir-akhir ini jadi iri dengan adik perempuan saya. Saya baru ngeh kalau dia jauh lebih bisa menjaga penampilan dari saya. Setidaknya, dia mandi dua hari sekali, pakai minyak wangi, bedak, pakaian yang selalu disetrika, dan tahu bagaimana harus bersikap. Kalau saya? #abaikan. Dan yang paling membuat saya iri adalah …. Bahkan, blog ini jauh lebih tua dari usia adik perempuan saya. ^*!((%@#$&) *tepokjidat*
2. Membuat SIM
Pokoknya…. (lanjutkan sendiri)
3. Membuat Buku Baru
Ini nih ya, rempong! Ketika saya mau menulis eh, dosen memberi tugas. Ketika saya mau menulis, bingung mau menulis apa. Ketika deadline sudah tiba eh, malah memperpanjang deadline. Kapan jadinya?
4. Lebih Sabar dan Konsisten
Seperti pada postingan sebelumnya, “You Only Live Once, tapi jika kamu memanfaatkannya dengan baik, satu saja cukup. Semoga kuat, semoga tegar. Ada sebait lirik lagu yang mewarnai belakangan ini, semoga saya juga bisa menulis dengan makna sedalam itu.
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia
5. Fokus pada Karir
Sebagai mahasiswa, saya harus tahu ingin menjadi mahasiswa seperti apa. Saya harus jadi mahasiswa berprestasi. Memang, tidak mungkin sebelum 17. Namun, semua berawal dari sekarang. Saya akan menulis banyak karya tulis dan memperbaiki moral. Ya Allah, bantu saya mengabaikan godaan-godaan yang akan membuat saya melenceng.
6. Memperbaiki Komunikasi
Suatu hari, bapak saya berkata pada istrinya (yang tentu saja kupanggil Mama), “Ma, Eldien ini habis lulus kerja apa ya dia? Atau dari sekarang kita bikinkan bisnis?” Mama menjawab, “Eldien itu sukanya pekerjaan yang berpikir, bukan pekerjaan yang perlu bertemu banyak orang, membangun relasi, atau semacamnya.”
Saya, mendengar semua itu, mengepalkan kedua tangan sambil berbisik, “CHALLENGE ACCEPTED”. Saya dan dua rekan saya sedang merintis bisnis dengan prospek cerah (dengan syarat telaten, biaya kas yang dibutuhkan sedikit tapi kalau tidak telaten IDE ini bisa diambil orang).
Juga, saya akan memperbaiki komunikasi dengan magang dua bulan ini. Semoga kemampuan berkomunikasi saya lebih baik dan jaringan saya bertambah luas. Tuluskan pula diri ini dalam berkarya.
7. Melakukan Poin 1-6
Kalau hanya saya tulis tapi tidak dilakukan, percuma saja bukan? Selamat bermujahadah!
Pesan untuk kamu (dan saya):
You are Only Young Once, tapi kamu bisa menjadi tidak dewasa selamanya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Disuruh menghadiri agenda dakwah pada hari yang sama dari banyak wilayah membuat saya …

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Berbagai Teori Tentang Orang Bodoh (Sebuah Revisi) #makeitcount

Bismillahirrahmanirrahim
“Ada orang yang memusuhi Islam diperangi oleh Nabi Muhammad. Sedangkan ada orang yang mengencingi masjid justru dimaafkan. Kamu tahu apa bedanya? Para sahabat dulu juga bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa kau larang kami menghardiknya?’ Rasulullah menjawab, ‘Sesungguhnya dia melakukan itu karena dia tidak tahu.’

Dia tidak tahu. Ya, jawaban itulah yang membedakan. Bertambahnya ilmu kita bukan untuk kesombongan tapi, justru beban di pundak kita menjadi lebih berat. Kita akan sangat berdosa apabila tidak menerapkannya.” –IE

Untuk melanjutkan membaca ini, sudilah kiranya kamu membuka tulisan saya yang ini. Karena ada beberapa kesalahan di situ, saya menulis revisinya. Ada beberapa kesalahan (yang ternyata) fatal. Jarak waktu dua tahun antara tulisan itu dengan ini membuat mereka sedikit berbeda.
Saya tidak ingat obrolan tentang hubungan tingkat kepintaran dan kejahatan itu terjadi kapan, kenapa, dengan siapa, dan bagaimana. Yang jelas, menurut saya kini, semakin meningkatnya kepintaran itu justru menurunkan tingkat kejahatan. Saya jadi ingat kata-kata mama, “Hanya orang cerdas yang dapat beragama secara kaffah (sempurna).”Dari itu saya membentuk pernyataan. Jika ada orang pintar tapi tidak religius, berarti kepintarannya tidak lengkap. Jika ada orang religius tapi tidak kepintaran, perlu dipertanyakan agamanya (jangan-jangan sebenarnya dia tidak beragama).
Sekali lagi, orang pintar itu memiliki potensi yang besar untuk menjadi orang yang baik. Jika saya dulu menguatkan argumen dengan contoh ilmu kalam, sepertinya saya waktu itu hanya copy paste tanpa memikirkannya lagi. Menurut situs jadilah.com hakikat ilmu kalam adalah sebagai berikut.
“Nama lain dari Ilmu Kalam : Ilmu Aqaid (ilmu akidah-akidah), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha Esa-an Tuhan), Ilmu Ushuluddin (Ilmu pokok-pokok agama). Disebut juga ‘Teologi Islam’. ‘Theos’= Tuhan; ‘Logos’= ilmu. Berarti ilmu tentang keTuhanan yang didasarkan atas prinsip-prinsip dan ajaran Islam; termasuk di dalamnya persoalan-persoalan ghaib. Menurut Ibnu Kholdun dalam kitab moqodimah mengatakan ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-keprcayaan iman dengan menggunakan dalil fikiran dan juga berisi tentang bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang mempunyai kepercayaan-kepercayaan menyimpang. Ilmu= pengetahuan; Kalam= pembicaraan’; pengetahuan tentang pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan Persoalan terpenting yang di bicarakan pada awal Islam adalah tentang Kalam Allah (Al-Qur’an); apakah azali atau non azali (Dialog Ishak bin Ibrahim dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Dasar Ajarannya; Dasar Ilmu Kalam adalah dalil-dalil fikiran (dalil aqli) Dalil Naqli (Al-Qur’an dan Hadis) baru dipakai sesudah ditetapkan kebenaran persolan menurut akal fikiran. (Persoalan kafir-bukan kafir)…… Jalan kebenaran; Pembuktian kepercayaan dan kebenaran didasarkan atas logika (Dialog Al-Jubbai dan Al-Asy’ari).”
Logika adalah alat untuk menemukan kebenaran. Seperti untuk mencapai suatu tempat dalam hutan yang dipenuhi pepohonan yang besar-besar, akan lebih mudah untuk melewatinya jika melalui jalan. Bisa dengan jalan setapak, memerhatikan letak bintang, atau arah angin. Hal lain yang juga penting adalah peta. Jalan dan peta bisa dianalogikan dengan dalil aqli (logika) dan dalil naqli (Alquran dan hadis).
Semoga kita mampu menggunakan jalan dan peta kita dengan baik serta menerapkannya sehingga tidak menjadi orang-orang jahiliyah. Berikut beberapa teori tentang jahiliyah. Sebenarnya tidak ada teori baru yang saya tambahkan. Tambahan ada di penjelasannya saja.
1. Teori Bapak Kebodohan
Ia bernama ‘Amr ibn Hisyam, lebih dikenal sebagai Abu Jahl, beberapa orang memanggilnya Abul Hakam. Itu artinya ia masuk dalam lingkaran pemerintahan (hukumah), memiliki hikmah kebijakan (Hakiim) dan memiliki kewenangan legislasi dan yudikasi karena kecerdasan dan ilmunya (Haakim).
Jahiliah bisa lahir dari rahim ketidaktahuan yang diiringi persangkaan, kedunguan dan logika yang dipaksakan, kesalahpahaman yang diwarisi temurun, tapi tak jarang dari oknum berpengetahuan yang sombong dan gengsi, atau kekuasaan menindas yang tak ingin kehilangan posisi. Karena gengsinya itu, Abu Jahl menolak kebenaran (meski ia tahu) untuk melanggengkan kekuasaannya.
2. Teori Makelar
‘Amr ibn Luhay, dikenal sebagai orang yang penuh kebajikan, penuh derma dan shadaqah, serta apresiatif dalam urusan agama. Suatu hari ia pergi ke Negeri maju bernama Syam, pulangnya ia membawa Hubal (patung berhala) yang aliran menyembah berhalanya diikuti dataran Hijjaz sampai Yaman. Bergabung dengan Manata, Lataa, dan Uzza. Ia juga melakukan penggalian berhala kaum Nuh yang konon di sekitar Jiddah, dia berhasil. Bahkan ritual haji pun diubah sehingga dibuat niatnya menjadi karena berhala. Dia bisa membuat banyak daerah menjadi penyembah berhala hanya sebab melihat negeri maju yang menyembah berhala dan menganggap itu kebenaran.
Pastikan kita memang menjadi makelar kebenaran. Jangan asal ikut-ikutan karena yang ada di hadapan kita itu tampak bagus. Kadang yang tampak bagus sebenarnya tidak bagus. Jiwa kritis diperlukan untuk menyaring kebenaran dan kesalahan. Tentu kita tidak mau menjadi jiwa perusak, bukan?
3. Teori Logika Perantara
Menurut teori ini, “Allah adalah Dzat yang menciptakan kita. Dia itu Maha Tinggi, Maha Mulia, dan Maha Suci. Kita hanya makhluk rendah, hina, dan penuh noda. Sungguh tak pantas makhluk yang rendah, hina, dan penuh noda, menengadah langsung. Jadi kita butuh perantara.”
Contohnya Al Lataa, ditafsir sebagai bentuk feminin dari kata Allah. Jika datang jamaah haji ke Makkah, mereka mampir ke rumah Lataa, menikmati roti, minum, dan meminta akomodasi.
Logikanya, “Mintalah hal yang remeh-temeh kepada Lataa. Minta kepada Allah tidak pantas. Pasti karena ‘jasanya’, Lataa sudah diberi banyak kewenangan oleh Allah di surga sana untuk menentukan nasib kita di dunia. Buat apa menyembah Allah kalau Lataa lebih pengertian?”
Teori ini mengingatkan saya mengapa ada orang yang mengultuskan nabinya. Persis seperti kata teman saya.
4. Teori Ajaran Nenek Moyang
Menurut teori ini, “Bapak-bapak kita berada di atas suatu nilai, dan kita akan mendapat petunjuk dengan mengikuti jejaknya. Salah satu penganut teori ini adalah Abu Thalib, biar pun Muhammad SAW menangis di sisinya untuk mengucapkan Laa Ilaha Illallah menjelang kematiannya, tapi gumaman terakhirnya adalah, “Tetap pada agama ‘Abdul Muthalib. Tetap pada millah nenek moyang.” Ayat ke-170 surah Al-Baqarah berbunyi, “Apakah demikian, walau pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”
Bisa jadi, orang tua kita, para pendahulu kita, tidak memahami kebenaran karena ketidaktahuannya. Namun, kita yang tahu kebenaran, akan menjadi jahiliyah jika mengikuti mereka.
5. Teori Bukit Shafa
Suatu hari, Muhammad SAW mengumpulkan Bangsa Quraisy di Bukit Shafa, lalu menjelaskan pada semuanya bahwa ia adalah pembawa kabar gembira. Namun Abu Lahab maju sambil
mengacungkan telunjuk ke wajah Rasulullah, “Binasa engkau Muhammad! Apakah untuk urusan seremeh ini kami semua kau kumpulkan!” Saat itu turun ayat, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa!”
Untuk apa Abu Lahab marah-marah? Ini dia. Apa jadinya bisnis peribadahan pagan yang menghidupi dirinya dan penduduk Makkah jika ajaran Muhammad itu diterima? Apa jadinya jika Quraisy tak lagi menjadi pemimpin seluruh jazirah dalam sistem kepercayaan yang menurut mereka adalah warisan Ibrahim meski ia sendiri ragu tentang itu? Apa jadinya jika budak sekedudukan dengan tuannya? Ah, ia tak bisa membayangkan betapa kacau hidupnya kelak. Laa ilaaha illallah berarti penghapusan terhadap segala klaim yang selama ini menjadi sumber penghidupan dan kedudukannya.
Ya, Abu Lahab tahu konsekuensi dari syahadat. Sungguh, dia sangat tahu makna syahadat. Dia tak mungkin lagi berbisnis patung berhala jika ia bersaksi bahwa tiada sembahan selain Tuhan.
6. Teori Fir’aunis
Teori yang dipelopori oleh Fir’aun ini memiliki unsur: menginjak, memperbudak, menyeleweng, dan mempertuhan diri.
Salah satu penganut teori ini adalah Napoleon Bonaparte, tepatnya 1798, Napoleon menyerbu Mesir, negeri kaum muslimin. Negeri di mana Fir’aun pernah mengabadikan namanya sebagai Sang Tiran. Mungkin ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa dari sinilah, -dari Fir’aun-, Napoleon belajar menjadi Tiran Eropa.
7. Teori Wacana
Teori ini mencoba memproduksi pemikiran jahiliyah dengan wacana, padahal wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan suatu masyarakat.
Inayet Nahvi pernah menulis sebuah buku berjudul ADL, Censors of The Universe. ADL, kependekan dari Anti Defamation League, adalah kumpulan aktivis pro-zionis di Amerika yang memusatkan kegiatannya pada propaganda melalui pers untuk mendukung Zionisme dan menangkis semua berita yang merugikan Israel dan Zionisme.
Di Indonesia sendiri pun begitu. Ada salah satu stasiun TV yang terlalu mengarahkan opini masyarakat sehingga masyarakat tidak diberi ruang terbuka untuk melihat suatu permasalahan dengan menyeluruh. Istilah humornya, “TV Oon, terlebay mengabarkan.” Di internet pun juga begitu. Sebuah situs e-mail yang banyak digunakan orang-orang seperti menyudutkan suatu pihak dan mengumbar budaya pop dengan kata-kata vulgar dan tema selebriti yang membuat orang tertarik meng-klik beritanya. Komentar-komentarnya justru memperlihatkan bahwa masih banyak orang yang belum benar-benar terdidik.
8. Teori Kaum Musa
Teori ini seperti beberapa pengikut Musa alaihissalam, mereka membersamai Musa a.s. dalam langkah kakinya saja, belum dalam keimanannya. Bisa diartikan, hanya mengaku beriman, tapi hatinya entah ke mana. Hal ini dibuktikan dengan perkataan, “Hai Musa, berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami …” Mungkin di dalam hati Musa berkata, ‘Lho, Tuhanku? Tuhanmu juga, ‘kan?’
9. Teori Ekonomi Pasar
Kata Abu Bakr Shiddiq, jika pasar memenangi Masjid, Masjid akan mati. Namun, jika Masjid memenangi pasar, pasar akan hidup.
Berhala-berhala itu namanya pasar (mall, plaza, hypermarket, supermarket, minimarket, dsb). Coba lihat, di mana-mana ia selalu ramai pengunjung. Demi mode dan trend rela bersusah payah. Hmmm… bersusah payah ditambah kepanasan.
Maksudnya di sini, kegiatan pemenuhan kebutuhan manusia akan dilakukan secara sewenang-wenang karena tidak untuk membangun masyarakat yang baik. Sedangkan jika hukum Allah mengenai ekonomi diterapkan secara sempurna, pasar menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan manusia secara optimal.
Yah, masih banyak yang lainnya. Semoga saja kita tidak menganut satu pun dari berbagai teori ini. Tulisan ini masih banyak kekurangannya, maafkan saja dan mohon dikoreksi ya.
Sumber gambar:

Leave a comment

Filed under Uncategorized

SCI dan AKUI

SCI, suatu hal yang istimewa seperti namanya. Sering disebut-sebut dalam blog saya sejak 2009. Bahkan, di tahun 2010 blog-blog saya kebanyakan bertema itu. Namun, di akhir tahun 2011 hal itu jarang terdengar, sekarat seiring dengan intensitas blog saya.
Cukup banyak pembaca blog saya yang sering membaca tema SCI. Apalagi saat tema ini baru diangkat. Bagi yang belum tahu SCI, SCI adalah singkatan dari Siswa Cerdas Istimewa, yaitu sebuah program SMA Negeri 78 Jakarta Barat yang menawarkan lama sekolah hanya 4 semester atau 2 tahun. Di sekolah lain program semacam ini juga dikenal sebagai kelas akselerasi atau percepatan.
Ini merupakan kisah yang menarik, di mana sisi lain kehidupan siswa-siswi di kelas SCI tidak terlihat dari luar. Contohnya adalah motivasi memilih SCI. Jika kalian mengira anak-anak SCI ini adalah orang-orang yang sangat study-oriented, coba pikir-pikir lagi. Sekitar 76,92% dari mereka menjawab memilih SCI karena bosan/ malas/ tidak suka sekolah. Tidak heran ada humor “SCI adalah kepanjangan dari Sekolah Cuma Iseng.”
Di masa kuliah saya, tulisan saya berkisar tentang kekecewaan saya terhadap kampus saya. Hal ini dikarenakan saya hanya membaca sebagian soal saja saat seleksi masuk (mood saya buruk kala itu) tetapi saya diterima di jurusan dan kampus yang cukup bonafid di Indonesia. Isi selanjutnya tentang Orientasi Pengenalan Kampus yang diceritakan ala kadarnya. Kemudian, isinya tulisan-tulisan absurd yang terkadang saya sendiri pun tidak mengerti. Sekarang? Bisa dibilang sekarat.
Ada banyak hal yang membuat kebiasaan menulis saya menjadi ‘ngadat’. Salah satunya adalah trade-off. Sering kali kita mengalami kondisi ketika kita tidak bisa memilih banyak hal karena keterbatasan. Itulah yang saya alami.
Nah, pilihan yang saya pilih adalah jarang menulis. Saat di SCI, saya sering tidur, tidak semangat belajar, setiap kali ujian semester hanya berharap jawaban yang saya bulatkan adalah jawaban yang benar. Keberuntungan sering menghampiri. Jawaban yang saya bulatkan itu sering benar. Saya tidak pernah mendapat nilai rapor di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal walau juga tidak bisa dibilang bagus. Sedang di perkuliahan, saya jarang tidur (jika kalian melihat saya tidur di kelas, intensitasnya jauh lebih rendah dibanding saat di SCI), semangat belajar, dan menjawab soal ujian dengan pemahaman, bukan dengan asal-asalan. Jujur saja, menulis itu memang banyak menyita waktu dan pikiran. Saya dulu sering tidur pukul 12 malam bukan karena mengerjakan tugas tapi menulis blog. Alhasil, saya tertidur di kelas. Saya juga jarang mempelajari ilmu pengetahuan alam karena kebanyakan isi blog saya tentang fenomena sosial. Makanya, nilai saya biasa-biasa saja. Alhamdulillah, di perkuliahan IPK saya cum laude dan semoga terus meningkat.
Akuntansi, jurusan yang saya ambil, membuat saya lebih sering menulis laporan keuangan daripada menulis blog. Selain itu juga membuat saya ketika memeriksa jurnal bukan lagi seperti editor yang memeriksa apakah ini koheren (ketersambungan makna) atau tidak, tapi seperti auditor yang memeriksa apakah ini balance atau tidak.
Kuliah saya sesungguhnya tidak kalah menarik untuk diceritakan. Ada banyak paradoks yang bertebaran di sini. Tentu saja, paradoks-paradoks itu membuat saya sering pusing. Sekarang saya jadi bertanya, bagaimana kalau paradoks-paradoks itu diceritakan saja? Lumayan kalau selera humor saya sedang tidak jayus, hal itu bisa ditertawakan bersama. Setidaknya kepusingan saya bisa terbagi.
Untuk itu, saya sedang mempertimbangkan untuk aktif lagi menulis blog. Saya tidak mau membuat pembaca kecewa. Saya juga tidak mau membuat diri saya kecewa. IPK saya harus semakin bagus. Mungkin seiring bertambahnya usia, saya bisa mengelolanya dengan lebih baik.
Indahnya SCI dikelompokkan dengan label sci. Kalau indahnya Akuntansi Universitas Indonesia akan saya kelompokkan dengan label akui. Sepintas mirip dengan merek air minum, ya? Ya sudahlah. Semoga kita semua bisa konsisten menapaki jalan ke tujuan yang benar-benar harus dituju.

2 Comments

Filed under Uncategorized

Karena Alasan, Kisah Tentang Kejadian Dini Hari

“Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.” (Tere-Liye: 2010)

Pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya yang sejenis. Saya bangun paling akhir, sesuai jam biologis saya. Orang-orang terlampau tak berani untuk membangunkan saya sebelumnya seperti tak berani menyuruh saya tetap terjaga di malam yang menurut saya sudah waktunya istirahat. Ketika saya bangun, saya baru tahu. Tak mengapa baru tahu, meski terlambat.
Ada sebuah kejadian tragis di dini hari yang menimpa teman-teman saya. Saya tidak tahu bagaimana persisnya perasaan kalian. Yang saya tahu, itu pasti tidak mudah. Raut wajah yang di-setting seperti wajah normal, mengisyaratkan ‘semua akan baik-baik saja’. Tidak tahu, saya memang tidak tahu.
***
Paragraf paling atas saya ambil dari buku berjudul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Seharusnya daun memang tak perlu membenci angin. Ada suatu hormon yang saya lupa namanya apa membuat daun meranggas. Sebuah hikmah sederhana: semua terjadi karena suatu alasan.
Memang, mungkin ada banyak alasan yang membuat hal ini terjadi. Entah itu hal kecil maupun hal besar. Tidak ada hal yang abadi kecuali keabadian itu sendiri. Semua akan pergi meninggalkan kita dengan permisi atau pun tidak.
Di antara sekian banyak alasan itu, salah satunya mengingatkan saya pada perbincangan lebih dari sebulan yang lalu. Sebuah perbincangan yang menurut saya memiliki andil yang besar pada kejadian buruk ini.
“Kak, kami mau minta donasi buat acara ini ke kakak-kakak alumni. Kakak jadi koordinator alumni, ya?” ujar salah seorang juniorku. Saya hanya mengangguk-angguk. Dia pun memberikan kepada saya beberapa amplop berisi surat donasi. Acara yang ia maksud itu adalah Festival Islam sekolah kami.
“Bisa ditargetin nggak, Kak?” lanjutnya lagi. Saya diam saja sambil menatapi amplop-amplop “Kalau lima juta gimana, Kak?” Lagi-lagi saya hanya mengangguk. Padahal, dalam hati saya berkecamuk, antara bisa dan tidak bisa. Bisa: saya dulu pernah melakukan ini dan seharusnya sekarang lebih dari itu. Tidak bisa: bagaimana mungkin, kalau konsep acaranya saja bisa jadi tidak diterima mereka? Entahlah, saya tidak tega memadamkan api semangat anak ini.
Tiga pekan kemudian, sebuah sms dari junior saya itu tiba. “kak, alumni kira2 donaturnya gmn kak? lancar?” Mak JLEB! Saya baru ngumpulin berapa? Ditambah lagi ada ribut-ribut yang tidak penting di kalangan alumni. Satu lagi! Saya baru saja dikasih tahu teman dekatnya kalau anak ini sedang sakit. Yampun, sakit pun masih memikirkan ini.
Saya pun mulai mengetik balasannya, “Nggak lancar. Mau saya urus lagi. Istirahat yg cukup ya, makan yg banyak” Saya tidak tahu lagi mau berkata apa.
“Sip kak, urus ya kak biar acaranya meriah, dan kakak kan janjiin 5 juta kan?” Giga JLEB! Kenapa musti disebut sih nominalnya? Saya memang pernah menginformasikan nominal ini ke beberapa orang, bahkan beberapa di antaranya menyebut nominal ini sebagai target tanpa diberi tahu sebelumnya. Oke, saya pun mulai mengatur ulang strategi. Harapan terbesar saya pun jatuh di acara musyawarah kerja forum alumni.
Malam hari, saat musyawarah kerja itu tiba, saya mengetikkan sms apakah masih perlu. “Gak usah. Kita udah cukup kok danusnya,” jawabnya. Saya pun mengurungkan niat. Padahal, saya sudah menyiapkan belasan amplop untuk disebar. Sekadar info, karena ransel saya jadi tidak muat, saya mampir ke sebuah minimarket untuk membeli tas go green guna menaruh amplop-amplop itu di dalamnya. Karena tas itu lumayan besar, saya memutuskan untuk menaruh beberapa barang seperti baju dan handuk. Serta saya memenuhinya dengan makanan ringan yang akhirnya saya tambahkan ke daftar belanjaan. Alhasil bawaan saya terlihat banyak.
Sekitar enam jam dari keputusan ‘tidak jadi’ itu, kejadian buruk menimpa. Sekitar 4 laptop, 3 ponsel, dan 6 dompet teman-teman alumni yang beda villa dengan saya hilang dicuri orang. Kejadian buruk di dini hari, terjadi dalam waktu beberapa kejap dan tidak ada yang tahu.
Saya tidak mampu memberi saran apa-apa. Menurut saya, kalian sudah tahu harus bertindak dan bersikap seperti apa. Mungkin di masa lalu kalian juga pernah mengalami hal ini. Jika saya harus memberi saran, paling-paling saya akan mengatakan, “Yang sabar ya.”
*Sudah tersimpan dalam dokumen saya berhari-hari, sebagai introspeksi untuk diri sendiri. Namun, malam ini akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikannya. Kalian juga perlu tahu.

Leave a comment

Filed under Uncategorized