Karena Alasan, Kisah Tentang Kejadian Dini Hari

“Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.” (Tere-Liye: 2010)

Pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya yang sejenis. Saya bangun paling akhir, sesuai jam biologis saya. Orang-orang terlampau tak berani untuk membangunkan saya sebelumnya seperti tak berani menyuruh saya tetap terjaga di malam yang menurut saya sudah waktunya istirahat. Ketika saya bangun, saya baru tahu. Tak mengapa baru tahu, meski terlambat.
Ada sebuah kejadian tragis di dini hari yang menimpa teman-teman saya. Saya tidak tahu bagaimana persisnya perasaan kalian. Yang saya tahu, itu pasti tidak mudah. Raut wajah yang di-setting seperti wajah normal, mengisyaratkan ‘semua akan baik-baik saja’. Tidak tahu, saya memang tidak tahu.
***
Paragraf paling atas saya ambil dari buku berjudul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”. Seharusnya daun memang tak perlu membenci angin. Ada suatu hormon yang saya lupa namanya apa membuat daun meranggas. Sebuah hikmah sederhana: semua terjadi karena suatu alasan.
Memang, mungkin ada banyak alasan yang membuat hal ini terjadi. Entah itu hal kecil maupun hal besar. Tidak ada hal yang abadi kecuali keabadian itu sendiri. Semua akan pergi meninggalkan kita dengan permisi atau pun tidak.
Di antara sekian banyak alasan itu, salah satunya mengingatkan saya pada perbincangan lebih dari sebulan yang lalu. Sebuah perbincangan yang menurut saya memiliki andil yang besar pada kejadian buruk ini.
“Kak, kami mau minta donasi buat acara ini ke kakak-kakak alumni. Kakak jadi koordinator alumni, ya?” ujar salah seorang juniorku. Saya hanya mengangguk-angguk. Dia pun memberikan kepada saya beberapa amplop berisi surat donasi. Acara yang ia maksud itu adalah Festival Islam sekolah kami.
“Bisa ditargetin nggak, Kak?” lanjutnya lagi. Saya diam saja sambil menatapi amplop-amplop “Kalau lima juta gimana, Kak?” Lagi-lagi saya hanya mengangguk. Padahal, dalam hati saya berkecamuk, antara bisa dan tidak bisa. Bisa: saya dulu pernah melakukan ini dan seharusnya sekarang lebih dari itu. Tidak bisa: bagaimana mungkin, kalau konsep acaranya saja bisa jadi tidak diterima mereka? Entahlah, saya tidak tega memadamkan api semangat anak ini.
Tiga pekan kemudian, sebuah sms dari junior saya itu tiba. “kak, alumni kira2 donaturnya gmn kak? lancar?” Mak JLEB! Saya baru ngumpulin berapa? Ditambah lagi ada ribut-ribut yang tidak penting di kalangan alumni. Satu lagi! Saya baru saja dikasih tahu teman dekatnya kalau anak ini sedang sakit. Yampun, sakit pun masih memikirkan ini.
Saya pun mulai mengetik balasannya, “Nggak lancar. Mau saya urus lagi. Istirahat yg cukup ya, makan yg banyak” Saya tidak tahu lagi mau berkata apa.
“Sip kak, urus ya kak biar acaranya meriah, dan kakak kan janjiin 5 juta kan?” Giga JLEB! Kenapa musti disebut sih nominalnya? Saya memang pernah menginformasikan nominal ini ke beberapa orang, bahkan beberapa di antaranya menyebut nominal ini sebagai target tanpa diberi tahu sebelumnya. Oke, saya pun mulai mengatur ulang strategi. Harapan terbesar saya pun jatuh di acara musyawarah kerja forum alumni.
Malam hari, saat musyawarah kerja itu tiba, saya mengetikkan sms apakah masih perlu. “Gak usah. Kita udah cukup kok danusnya,” jawabnya. Saya pun mengurungkan niat. Padahal, saya sudah menyiapkan belasan amplop untuk disebar. Sekadar info, karena ransel saya jadi tidak muat, saya mampir ke sebuah minimarket untuk membeli tas go green guna menaruh amplop-amplop itu di dalamnya. Karena tas itu lumayan besar, saya memutuskan untuk menaruh beberapa barang seperti baju dan handuk. Serta saya memenuhinya dengan makanan ringan yang akhirnya saya tambahkan ke daftar belanjaan. Alhasil bawaan saya terlihat banyak.
Sekitar enam jam dari keputusan ‘tidak jadi’ itu, kejadian buruk menimpa. Sekitar 4 laptop, 3 ponsel, dan 6 dompet teman-teman alumni yang beda villa dengan saya hilang dicuri orang. Kejadian buruk di dini hari, terjadi dalam waktu beberapa kejap dan tidak ada yang tahu.
Saya tidak mampu memberi saran apa-apa. Menurut saya, kalian sudah tahu harus bertindak dan bersikap seperti apa. Mungkin di masa lalu kalian juga pernah mengalami hal ini. Jika saya harus memberi saran, paling-paling saya akan mengatakan, “Yang sabar ya.”
*Sudah tersimpan dalam dokumen saya berhari-hari, sebagai introspeksi untuk diri sendiri. Namun, malam ini akhirnya saya putuskan untuk mempublikasikannya. Kalian juga perlu tahu.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s