Berbagai Teori Tentang Orang Bodoh (Sebuah Revisi) #makeitcount

Bismillahirrahmanirrahim
“Ada orang yang memusuhi Islam diperangi oleh Nabi Muhammad. Sedangkan ada orang yang mengencingi masjid justru dimaafkan. Kamu tahu apa bedanya? Para sahabat dulu juga bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa kau larang kami menghardiknya?’ Rasulullah menjawab, ‘Sesungguhnya dia melakukan itu karena dia tidak tahu.’

Dia tidak tahu. Ya, jawaban itulah yang membedakan. Bertambahnya ilmu kita bukan untuk kesombongan tapi, justru beban di pundak kita menjadi lebih berat. Kita akan sangat berdosa apabila tidak menerapkannya.” –IE

Untuk melanjutkan membaca ini, sudilah kiranya kamu membuka tulisan saya yang ini. Karena ada beberapa kesalahan di situ, saya menulis revisinya. Ada beberapa kesalahan (yang ternyata) fatal. Jarak waktu dua tahun antara tulisan itu dengan ini membuat mereka sedikit berbeda.
Saya tidak ingat obrolan tentang hubungan tingkat kepintaran dan kejahatan itu terjadi kapan, kenapa, dengan siapa, dan bagaimana. Yang jelas, menurut saya kini, semakin meningkatnya kepintaran itu justru menurunkan tingkat kejahatan. Saya jadi ingat kata-kata mama, “Hanya orang cerdas yang dapat beragama secara kaffah (sempurna).”Dari itu saya membentuk pernyataan. Jika ada orang pintar tapi tidak religius, berarti kepintarannya tidak lengkap. Jika ada orang religius tapi tidak kepintaran, perlu dipertanyakan agamanya (jangan-jangan sebenarnya dia tidak beragama).
Sekali lagi, orang pintar itu memiliki potensi yang besar untuk menjadi orang yang baik. Jika saya dulu menguatkan argumen dengan contoh ilmu kalam, sepertinya saya waktu itu hanya copy paste tanpa memikirkannya lagi. Menurut situs jadilah.com hakikat ilmu kalam adalah sebagai berikut.
“Nama lain dari Ilmu Kalam : Ilmu Aqaid (ilmu akidah-akidah), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha Esa-an Tuhan), Ilmu Ushuluddin (Ilmu pokok-pokok agama). Disebut juga ‘Teologi Islam’. ‘Theos’= Tuhan; ‘Logos’= ilmu. Berarti ilmu tentang keTuhanan yang didasarkan atas prinsip-prinsip dan ajaran Islam; termasuk di dalamnya persoalan-persoalan ghaib. Menurut Ibnu Kholdun dalam kitab moqodimah mengatakan ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-keprcayaan iman dengan menggunakan dalil fikiran dan juga berisi tentang bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang mempunyai kepercayaan-kepercayaan menyimpang. Ilmu= pengetahuan; Kalam= pembicaraan’; pengetahuan tentang pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan Persoalan terpenting yang di bicarakan pada awal Islam adalah tentang Kalam Allah (Al-Qur’an); apakah azali atau non azali (Dialog Ishak bin Ibrahim dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Dasar Ajarannya; Dasar Ilmu Kalam adalah dalil-dalil fikiran (dalil aqli) Dalil Naqli (Al-Qur’an dan Hadis) baru dipakai sesudah ditetapkan kebenaran persolan menurut akal fikiran. (Persoalan kafir-bukan kafir)…… Jalan kebenaran; Pembuktian kepercayaan dan kebenaran didasarkan atas logika (Dialog Al-Jubbai dan Al-Asy’ari).”
Logika adalah alat untuk menemukan kebenaran. Seperti untuk mencapai suatu tempat dalam hutan yang dipenuhi pepohonan yang besar-besar, akan lebih mudah untuk melewatinya jika melalui jalan. Bisa dengan jalan setapak, memerhatikan letak bintang, atau arah angin. Hal lain yang juga penting adalah peta. Jalan dan peta bisa dianalogikan dengan dalil aqli (logika) dan dalil naqli (Alquran dan hadis).
Semoga kita mampu menggunakan jalan dan peta kita dengan baik serta menerapkannya sehingga tidak menjadi orang-orang jahiliyah. Berikut beberapa teori tentang jahiliyah. Sebenarnya tidak ada teori baru yang saya tambahkan. Tambahan ada di penjelasannya saja.
1. Teori Bapak Kebodohan
Ia bernama ‘Amr ibn Hisyam, lebih dikenal sebagai Abu Jahl, beberapa orang memanggilnya Abul Hakam. Itu artinya ia masuk dalam lingkaran pemerintahan (hukumah), memiliki hikmah kebijakan (Hakiim) dan memiliki kewenangan legislasi dan yudikasi karena kecerdasan dan ilmunya (Haakim).
Jahiliah bisa lahir dari rahim ketidaktahuan yang diiringi persangkaan, kedunguan dan logika yang dipaksakan, kesalahpahaman yang diwarisi temurun, tapi tak jarang dari oknum berpengetahuan yang sombong dan gengsi, atau kekuasaan menindas yang tak ingin kehilangan posisi. Karena gengsinya itu, Abu Jahl menolak kebenaran (meski ia tahu) untuk melanggengkan kekuasaannya.
2. Teori Makelar
‘Amr ibn Luhay, dikenal sebagai orang yang penuh kebajikan, penuh derma dan shadaqah, serta apresiatif dalam urusan agama. Suatu hari ia pergi ke Negeri maju bernama Syam, pulangnya ia membawa Hubal (patung berhala) yang aliran menyembah berhalanya diikuti dataran Hijjaz sampai Yaman. Bergabung dengan Manata, Lataa, dan Uzza. Ia juga melakukan penggalian berhala kaum Nuh yang konon di sekitar Jiddah, dia berhasil. Bahkan ritual haji pun diubah sehingga dibuat niatnya menjadi karena berhala. Dia bisa membuat banyak daerah menjadi penyembah berhala hanya sebab melihat negeri maju yang menyembah berhala dan menganggap itu kebenaran.
Pastikan kita memang menjadi makelar kebenaran. Jangan asal ikut-ikutan karena yang ada di hadapan kita itu tampak bagus. Kadang yang tampak bagus sebenarnya tidak bagus. Jiwa kritis diperlukan untuk menyaring kebenaran dan kesalahan. Tentu kita tidak mau menjadi jiwa perusak, bukan?
3. Teori Logika Perantara
Menurut teori ini, “Allah adalah Dzat yang menciptakan kita. Dia itu Maha Tinggi, Maha Mulia, dan Maha Suci. Kita hanya makhluk rendah, hina, dan penuh noda. Sungguh tak pantas makhluk yang rendah, hina, dan penuh noda, menengadah langsung. Jadi kita butuh perantara.”
Contohnya Al Lataa, ditafsir sebagai bentuk feminin dari kata Allah. Jika datang jamaah haji ke Makkah, mereka mampir ke rumah Lataa, menikmati roti, minum, dan meminta akomodasi.
Logikanya, “Mintalah hal yang remeh-temeh kepada Lataa. Minta kepada Allah tidak pantas. Pasti karena ‘jasanya’, Lataa sudah diberi banyak kewenangan oleh Allah di surga sana untuk menentukan nasib kita di dunia. Buat apa menyembah Allah kalau Lataa lebih pengertian?”
Teori ini mengingatkan saya mengapa ada orang yang mengultuskan nabinya. Persis seperti kata teman saya.
4. Teori Ajaran Nenek Moyang
Menurut teori ini, “Bapak-bapak kita berada di atas suatu nilai, dan kita akan mendapat petunjuk dengan mengikuti jejaknya. Salah satu penganut teori ini adalah Abu Thalib, biar pun Muhammad SAW menangis di sisinya untuk mengucapkan Laa Ilaha Illallah menjelang kematiannya, tapi gumaman terakhirnya adalah, “Tetap pada agama ‘Abdul Muthalib. Tetap pada millah nenek moyang.” Ayat ke-170 surah Al-Baqarah berbunyi, “Apakah demikian, walau pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”
Bisa jadi, orang tua kita, para pendahulu kita, tidak memahami kebenaran karena ketidaktahuannya. Namun, kita yang tahu kebenaran, akan menjadi jahiliyah jika mengikuti mereka.
5. Teori Bukit Shafa
Suatu hari, Muhammad SAW mengumpulkan Bangsa Quraisy di Bukit Shafa, lalu menjelaskan pada semuanya bahwa ia adalah pembawa kabar gembira. Namun Abu Lahab maju sambil
mengacungkan telunjuk ke wajah Rasulullah, “Binasa engkau Muhammad! Apakah untuk urusan seremeh ini kami semua kau kumpulkan!” Saat itu turun ayat, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa!”
Untuk apa Abu Lahab marah-marah? Ini dia. Apa jadinya bisnis peribadahan pagan yang menghidupi dirinya dan penduduk Makkah jika ajaran Muhammad itu diterima? Apa jadinya jika Quraisy tak lagi menjadi pemimpin seluruh jazirah dalam sistem kepercayaan yang menurut mereka adalah warisan Ibrahim meski ia sendiri ragu tentang itu? Apa jadinya jika budak sekedudukan dengan tuannya? Ah, ia tak bisa membayangkan betapa kacau hidupnya kelak. Laa ilaaha illallah berarti penghapusan terhadap segala klaim yang selama ini menjadi sumber penghidupan dan kedudukannya.
Ya, Abu Lahab tahu konsekuensi dari syahadat. Sungguh, dia sangat tahu makna syahadat. Dia tak mungkin lagi berbisnis patung berhala jika ia bersaksi bahwa tiada sembahan selain Tuhan.
6. Teori Fir’aunis
Teori yang dipelopori oleh Fir’aun ini memiliki unsur: menginjak, memperbudak, menyeleweng, dan mempertuhan diri.
Salah satu penganut teori ini adalah Napoleon Bonaparte, tepatnya 1798, Napoleon menyerbu Mesir, negeri kaum muslimin. Negeri di mana Fir’aun pernah mengabadikan namanya sebagai Sang Tiran. Mungkin ada benarnya jika ada yang mengatakan bahwa dari sinilah, -dari Fir’aun-, Napoleon belajar menjadi Tiran Eropa.
7. Teori Wacana
Teori ini mencoba memproduksi pemikiran jahiliyah dengan wacana, padahal wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan suatu masyarakat.
Inayet Nahvi pernah menulis sebuah buku berjudul ADL, Censors of The Universe. ADL, kependekan dari Anti Defamation League, adalah kumpulan aktivis pro-zionis di Amerika yang memusatkan kegiatannya pada propaganda melalui pers untuk mendukung Zionisme dan menangkis semua berita yang merugikan Israel dan Zionisme.
Di Indonesia sendiri pun begitu. Ada salah satu stasiun TV yang terlalu mengarahkan opini masyarakat sehingga masyarakat tidak diberi ruang terbuka untuk melihat suatu permasalahan dengan menyeluruh. Istilah humornya, “TV Oon, terlebay mengabarkan.” Di internet pun juga begitu. Sebuah situs e-mail yang banyak digunakan orang-orang seperti menyudutkan suatu pihak dan mengumbar budaya pop dengan kata-kata vulgar dan tema selebriti yang membuat orang tertarik meng-klik beritanya. Komentar-komentarnya justru memperlihatkan bahwa masih banyak orang yang belum benar-benar terdidik.
8. Teori Kaum Musa
Teori ini seperti beberapa pengikut Musa alaihissalam, mereka membersamai Musa a.s. dalam langkah kakinya saja, belum dalam keimanannya. Bisa diartikan, hanya mengaku beriman, tapi hatinya entah ke mana. Hal ini dibuktikan dengan perkataan, “Hai Musa, berdoalah kepada Tuhanmu untuk kami …” Mungkin di dalam hati Musa berkata, ‘Lho, Tuhanku? Tuhanmu juga, ‘kan?’
9. Teori Ekonomi Pasar
Kata Abu Bakr Shiddiq, jika pasar memenangi Masjid, Masjid akan mati. Namun, jika Masjid memenangi pasar, pasar akan hidup.
Berhala-berhala itu namanya pasar (mall, plaza, hypermarket, supermarket, minimarket, dsb). Coba lihat, di mana-mana ia selalu ramai pengunjung. Demi mode dan trend rela bersusah payah. Hmmm… bersusah payah ditambah kepanasan.
Maksudnya di sini, kegiatan pemenuhan kebutuhan manusia akan dilakukan secara sewenang-wenang karena tidak untuk membangun masyarakat yang baik. Sedangkan jika hukum Allah mengenai ekonomi diterapkan secara sempurna, pasar menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan manusia secara optimal.
Yah, masih banyak yang lainnya. Semoga saja kita tidak menganut satu pun dari berbagai teori ini. Tulisan ini masih banyak kekurangannya, maafkan saja dan mohon dikoreksi ya.
Sumber gambar:

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s