Monthly Archives: June 2012

Anakmu Bukan Anakmu

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.
–Khalil Gibran

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Dihapus?

Setiap kali kamu melihat ke belakang

pastinya ada sedikit kekecewaan itu

Kamu akan mampu merasakan sebuah kelembutan

Nampak hidup bukan sesuatu yang sia-sia

–YUI

Sebenarnya, saya tidak mau cerita-cerita kalau postingan ‘itu’ dihapus. Namun, karena banyak yang tanya, jadinya saya kasih tahu saja kalau sudah dihapus.

Saya … sedang malas berkomentar apa-apa. Apalagi, saya pernah merasakan kondisi kedua belah pihak meski dalam versi yang berbeda, dizalimi dan terzalimi. Semoga saja saya tidak seperti pihak ketiga yang menzalimi.

Oh ya, saya bukan orang yang suka promosi, tapi karena saya punya akun Facebook dan Twitter, otomatis postingan-postingan saya di blog ini tersambung ke sana. Jadi … banyak yang baca.

Note: Kalau saja, kamu berhenti membuat akun baru dan membaca balasanku … Saya juga penasaran kenapa foto yang dipakai seperti berlatar belakang salah satu kantor si Empat Besar.

Gambar dari sini

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sang Pemenang

Aku terlahir ‘tuk jadi pemenang

Tak ‘kan pernah berpikir ‘tuk jadi pecundang
Hanya satu yang selalu kukenang
Saat sorak sorai hiruk berkumandang
–@ipphoright
Semoga di liburan kuliah ini saya bisa konsisten menghadiri Sekolah Kepribadian.
“… karena kesulitan hari ini jauh lebih mudah dari kesulitan sepuluh tahun lagi.”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Test

Banyak orang mem-posting kata test untuk mengetahui postingannya itu behasil di-post-kan atau tidak. Mengapa tidak mencoba menulis yang lain saja?

mmm

Leave a comment

Filed under Uncategorized

SNMPTN Tulis Tahun Ini = PHP

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya memutuskan untuk ikut SNMPTN lagi tahun ini. Kalau diterima, selisih yang bisa saya dapatkan sekitar Rp20 juta. Jumlah yang lumayan dibandingkan biaya SNMPTN yang tidak sampai 500 ribu (pendaftaran, bensin, waktu, dan lain-lain).
Saat mengerjakan Tes Potensi Akademik (TPA), saya tertawa-tawa saja. Bukannya sombong, tapi saya yang sudah terbiasa berlatih sejak SD merasa soal-soal tersebut tidak ada gregetnya. Soal-soal ini lebih mudah dari tahun lalu. Bahkan, menurut saya jauh lebih sulit soal ujian saringan masuk sebuah Madrasah Aliyah (SMA) yang pernah saya ikuti.
Setelah itu tes kemampuan dasar, terdiri dari matematika dasar, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Entahlah, lagi-lagi saya merasa soal-soal ini memang lebih mudah dari tahun lalu. Seingat saya tahun lalu saya harus menghitung atau membaca berulang-ulang untuk mengerjakannya.
Kemudian, tes kemampuan Ilmu Pengetahuan Sosial. Berhubung saya sudah setahun mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi, soal-soal ekonomi tidak terasa sulit. Soal-soal lain seperti sejarah, geografi, dan sosiologi saya kerjakan seperlunya saja.
Saya bingung. Tidak jelas, soalnya yang mudah atau saya mengerjakannya salah. Saya cek di Twitter, tidak ada yang mengeluh susah. Gawat. Ada yang berkicau: Alhamdulillah tadi ngerjainnya lancar, Cuma 3 soal yang nggak dijawab. Ketika saya cek di Facebook, guru bimbel saya (saat ikut bimbel tahun lalu) menulis, “… tapi ingat klo soal tampaknya mudah berarti saingan kita juga bisa ngerjaiinya…” Ternyata…
Ternyata soalnya memang mudah. Berarti, kalau saya diterima itu kewajaran, kalau tidak itu keterlaluan.
Sekian.
Semoga diterima.
Semoga IPK saya meningkat 4%.

Baca juga:

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Akhir-Akhir Ini Merenung di Waktu Malam (Aku Beranjak Dewasa)

Seperti yang pernah kuceritakan di suatu surat untuk kamu, ada orang-orang dewasa yang menyerang anak kecil (ah bukan, hanya secara undang-undang terkategorikan sebagai anak-anak) dengan cara yang tidak terhormat. Bukannya saya mau mengungkit-ungkit hal itu lagi, hanya saja, bagaimana kalau sepuluh tahun lagi saya begitu? Ya, apa artinya di sini saya menyayangkan sikapnya (sikap mereka) kalau ternyata saya sama saja?

Beberapa tahun yang lalu, ada hal yang sangat saya inginkan. Namun, bagi saya yang semuda dulu, sulit untuk membayangkan kalau saya akan menemukan hal itu. Saya berteman dengan teman-teman yang sungguh luar biasa. Mereka telah mendapatkannya walau dalam garis mulai yang berbeda. Sempat saya marah kepada Allah, kenapa mereka yang mendapat? Apakah garis mulaiku salah?
Beruntung, orang-orang kedamaian itu hadir menyelamatkan. Telah saya dapatkan mana jalan yang benar untuk dilalui dengan garis mulai yang sama dengan saya. Rasanya seperti menemukan oase di padang gersang. Saya pun jadi tahu, jalan itu akan menjadi tidak benar kalau garis mulainya saja salah (seperti teman-teman di paragraf sebelumnya).
Saya juga tahu, sangat tahu. Konsekuensinya sangat berat. Mungkin saya akan kehilangan keluarga dan teman. Tak apa bagi saya. Sumayyah dan Ammar putra Yasir saja tak merasa rugi kehilangan nyawa. Sebabnya, mereka tahu mereka tak akan rugi.
Pernah perasaan saya juga seperti tertikam. Banyak orang yang mengetahui jalan ini, tapi… ya, tapi mengapa lepas begitu saja? Mengapa begitu saja disia-siakan sedang saya harus susah payah hanya untuk sekadar menemukannya? Mengapa?
Rasanya dikhianati pun pernah juga saya dapatkan. Tak tanggung-tanggung, datangnya dari teman-teman dekat bahkan keluarga sendiri. Memang, sakit rasanya. Beruntung orang-orang yang berpikir jernih mendukung saya, “Tertawa saja, mana hal yang salah seperti yang mereka katakan? Orang-orang juga akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.”
Seperti diteror di sana-sini. Ah, sudahlah tak mau cerita itu.
Bagaimanapun, tak apa, ya, tak apa. Semua kesulitan itu bukan apa-apa dibanding kesulitan sepuluh tahun lagi, ketika saya dihadapkan dengan realita yang lebih pelik. Memang, hari ini saya bukan siapa-siapa. Lihat nanti, saya akan menjadi orang yang diperhitungkan. Surat untuk kamu kali ini akan jadi bukti untuk sepuluh tahun lagi. Bahwa, saya tahu dari sekarang kalau saya nantinya akan menjadi bukan orang sembarangan.
Saya berharap, saya bisa bertahan di jalan ini. Kalau kamu menggeleng-gelengkan kepala, ingatlah, kalau ini salah, saya sudah dari dulu keluar.
_________________________________________________
*Menulis ini sambil ditemani lagu Aku Beranjak Dewasa.
Di malam yang sunyi dan sesenyap ini

Dapatkah kumohon pada Yang Esa

Masihkah tampak manis raut wajahku

Masihkah seputih kapas dihatiku

Bilakah tak kukoyak mata hatiku

Oh mungkinkah


Begitu besarnya kasih-Mu untukku

Karunia dari-Mu setiap waktu

Tanpa-Mu tak ‘kan indah jalan hidupku

Tanpa-Mu tak ‘kan mudah nikmat rizkiku

Karena-Mu s’lalu bersyukur saat ini

Ku beranjak dewasa


Semoga hidup ini kulalui dengan hati

Yang seterang bintang-bintang indah bertaburan

Tanpa kecewa, amarah, rasa galau


Dan semoga selalu kujalani perintah-Mu

Tuhan bimbinglah diriku

Penuh kasih, Yang Maha Pengasih

Doaku selalu

Di malam ini
**Kadang kecewa, amarah, rasa galau itu perlu, kuatkan saya untuk menjadikan itu bermanfaat.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Definition of COMPLICATED

Tak tahu, itulah yang kini terjadi
Antara lupakan dengan tertempel di sini
Nyala yang entah sanggup menerangi
Induk semang yang anaknya mencari
Alangkah rumit peristiwa yang terjadi
Damai yang selalu ia dongengi
Amat merdu dari sekadar seruni
Nyanyian yang indah dilantuni
Dan sesuatu sekarang menyelimuti
Aromanya agak aneh jika dibaui
Namun mungkin hanya ego diri
Aku, kamu, dan dirinya sendiri
Rasanya tak perlu kupikirkan lagi

Leave a comment

Filed under Uncategorized