Akhir-Akhir Ini Merenung di Waktu Malam (Aku Beranjak Dewasa)

Seperti yang pernah kuceritakan di suatu surat untuk kamu, ada orang-orang dewasa yang menyerang anak kecil (ah bukan, hanya secara undang-undang terkategorikan sebagai anak-anak) dengan cara yang tidak terhormat. Bukannya saya mau mengungkit-ungkit hal itu lagi, hanya saja, bagaimana kalau sepuluh tahun lagi saya begitu? Ya, apa artinya di sini saya menyayangkan sikapnya (sikap mereka) kalau ternyata saya sama saja?

Beberapa tahun yang lalu, ada hal yang sangat saya inginkan. Namun, bagi saya yang semuda dulu, sulit untuk membayangkan kalau saya akan menemukan hal itu. Saya berteman dengan teman-teman yang sungguh luar biasa. Mereka telah mendapatkannya walau dalam garis mulai yang berbeda. Sempat saya marah kepada Allah, kenapa mereka yang mendapat? Apakah garis mulaiku salah?
Beruntung, orang-orang kedamaian itu hadir menyelamatkan. Telah saya dapatkan mana jalan yang benar untuk dilalui dengan garis mulai yang sama dengan saya. Rasanya seperti menemukan oase di padang gersang. Saya pun jadi tahu, jalan itu akan menjadi tidak benar kalau garis mulainya saja salah (seperti teman-teman di paragraf sebelumnya).
Saya juga tahu, sangat tahu. Konsekuensinya sangat berat. Mungkin saya akan kehilangan keluarga dan teman. Tak apa bagi saya. Sumayyah dan Ammar putra Yasir saja tak merasa rugi kehilangan nyawa. Sebabnya, mereka tahu mereka tak akan rugi.
Pernah perasaan saya juga seperti tertikam. Banyak orang yang mengetahui jalan ini, tapi… ya, tapi mengapa lepas begitu saja? Mengapa begitu saja disia-siakan sedang saya harus susah payah hanya untuk sekadar menemukannya? Mengapa?
Rasanya dikhianati pun pernah juga saya dapatkan. Tak tanggung-tanggung, datangnya dari teman-teman dekat bahkan keluarga sendiri. Memang, sakit rasanya. Beruntung orang-orang yang berpikir jernih mendukung saya, “Tertawa saja, mana hal yang salah seperti yang mereka katakan? Orang-orang juga akan tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.”
Seperti diteror di sana-sini. Ah, sudahlah tak mau cerita itu.
Bagaimanapun, tak apa, ya, tak apa. Semua kesulitan itu bukan apa-apa dibanding kesulitan sepuluh tahun lagi, ketika saya dihadapkan dengan realita yang lebih pelik. Memang, hari ini saya bukan siapa-siapa. Lihat nanti, saya akan menjadi orang yang diperhitungkan. Surat untuk kamu kali ini akan jadi bukti untuk sepuluh tahun lagi. Bahwa, saya tahu dari sekarang kalau saya nantinya akan menjadi bukan orang sembarangan.
Saya berharap, saya bisa bertahan di jalan ini. Kalau kamu menggeleng-gelengkan kepala, ingatlah, kalau ini salah, saya sudah dari dulu keluar.
_________________________________________________
*Menulis ini sambil ditemani lagu Aku Beranjak Dewasa.
Di malam yang sunyi dan sesenyap ini

Dapatkah kumohon pada Yang Esa

Masihkah tampak manis raut wajahku

Masihkah seputih kapas dihatiku

Bilakah tak kukoyak mata hatiku

Oh mungkinkah


Begitu besarnya kasih-Mu untukku

Karunia dari-Mu setiap waktu

Tanpa-Mu tak ‘kan indah jalan hidupku

Tanpa-Mu tak ‘kan mudah nikmat rizkiku

Karena-Mu s’lalu bersyukur saat ini

Ku beranjak dewasa


Semoga hidup ini kulalui dengan hati

Yang seterang bintang-bintang indah bertaburan

Tanpa kecewa, amarah, rasa galau


Dan semoga selalu kujalani perintah-Mu

Tuhan bimbinglah diriku

Penuh kasih, Yang Maha Pengasih

Doaku selalu

Di malam ini
**Kadang kecewa, amarah, rasa galau itu perlu, kuatkan saya untuk menjadikan itu bermanfaat.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s