Monthly Archives: August 2013

30 DAY CHALLENGE DAY 8: Menghapus Kontak? Salahkah Memainkan Gadget Sejak Kecil? Benarkah Anak yang Diasuh oleh Pengasuh Akan Menjadi Nakal?

Three things you want to say to different people

1.    Menghapus Kontak?
Sesungguhnya, jika A menghapus dengan SENGAJA B dari kontak ponselnya, A mencoba melumpuhkan ingatannya tentang B.

Now playing:
Lumpuhkanlah Ingatanku by Geisha
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya

2.    Salahkah Memainkan Gadget Sejak Kecil?
Beberapa hari lalu, saya berkunjung ke rumah salah satu kenalan saya, dia bercerita kalau dia melarang anaknya yang masih kecil memainkan iPad atau sejenisnya. Hal yang sama juga saya pernah dengar dari orang-orang lain.

Saya jadi ingat bagaimana orang tua saya mendidik anak-anaknya. Adik saya yang bulan depan berusia 4 tahun, sudah mahir memainkan tablet Android dan memilih game yang diinginkan di Play Store. Dia bisa men-download-nya sendiri. Biasanya dia meminta dibantu diejakan game apa yang diinginkan.

“Sayah mau dondot gem elo kiti yang lain lagi dong… elo kiti itu nulisnya jimana?” ujar adik saya. Saya pun mengejakan huruf-huruf dari Hello Kitty dan dia pelan-pelan menyentuh huruf-huruf tersebut, untungnya dia sudah bisa membaca huruf.

Umar bin Khatab, seorang bijak yang hidup di abad ke 7 Masehi, memberikan pernyataan yang sangat terkenal :
     “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”

Image

Kelakuan Adik Saya

Orang tua saya percaya ini. Dia mengajarkan anak-anaknya melek teknologi sedini mungkin. Dulu, saat awal SD, saya diajarkan bagaimana memainkan CD game dari komputer. Mulai dari menyalakan komputer, menginstall game, memahami instruksi dalam bahasa Inggris, dan sebagainya. Mereka tahu ke depannya akan berubah lagi, akan lebih mudah jika diikuti sejak awal.

Ada juga yang mempermasalahkan kalau lebih baik banyak melakukan aktivitas fisik ketimbang di depan layar. Mungkin iya juga sih, tapi alangkah baiknya jika dikenalkan juga dengan teknologi. Kalau menurut kamu bagaimana ya?

3.    Benarkah Anak yang Diasuh oleh Pengasuh Akan Menjadi Nakal?
Saya bingung lho yang ini. Sepertinya saya pernah cerita ini deh. Di suatu sore yang melelahkan, saya bersama teman-teman saya naik bus pulang dari sekolah. Banyak hal yang kami obrolkan untuk mengusir keletihan berdiri. Salah satu perkataan dari teman saya yang teringat, “Yah… Palingan dia di rumah nggak diurusin sama ibunya. Lihat aja anak-anak yang ibunya kerja, mereka nakal semua.”  Saya pun menjawab, “Ehmm, ibuku kerja lho. Berarti aku nakal ya?” Saya tidak ingat persis apa responnya karena saya bersiap untuk turun dari bis.

Memang, saat awal-awal kehidupan saya di dunia, orang tua saya mempekerjakan pengasuh untuk kakak dan saya, karena ibu bekerja. Saat mulai memasuki TK, orang tua saya pindah dari Bekasi ke suatu kota di Sulawesi. Di sana ibu saya membuka bisnis pakaian di rumah. Pembantu hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Setelah itu, kami pindah kembali. Ketika itu ke Riau. Ibu saya menjadi pegawai dan karirnya terus menanjak hingga hari ini. Orang tua mulai memakai pengasuh kembali ketika empat tahun lalu, adik saya lahir di Tangerang.

Saya pernah bertanya saat SD dulu mengapa ibu saya tidak memilih jadi ibu rumah tangga penuh. Ibu saya waktu itu menjawab, bahwa akan lebih banyak yang mendapat manfaat dari ilmu kita untuk masyarakat luas dari menjadi ibu rumah tangga.

Orang tua saya pun juga mendidik anak-anak perempuannya bahwa ke depan bagi anak perempuan dunia adalah tidak terbatas (https://latansaide.wordpress.com/2011/01/19/surat-kecil-dari-papi/). Mungkin bagi sebagian orang pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sungguh mulia, tapi lain dengan nilai yang ditanamkan dari keluarga saya. Itu mengapa mempekerjakan pengasuh untuk balita mereka sah-sah saja. Bukan bermaksud mengecilkan ibu rumah tangga, itu bagus menurut saya, tapi kenapa sering sekali mencap anak yang pakai pengasuh itu gedenya nakal? What do you think?

Advertisements

2 Comments

Filed under Uncategorized

30 DAY CHALLENGE DAY 7: Follow Your Passion dan #followers

ImageDo you read? What are your favorite books?

Ya, tentu saja. Bahkan, sebelum menulis artikel ini, saya baru saja merampungkan sebuah buku. Saya membacanya sambil menangis. Saya terus menangis meski buku tersebut sudah beberapa menit sebelumnya sudah ditutup.

Judulnya, Follow Your Passion. Isinya kisah perjalanan hidup, memenuhi panggilan hati. Tulisan itu menceritakan autobiografi dari Mas Muadzin F. Jihad, dari ia kecil hingga menjadi founder Semerbak Coffee. Semerbak Coffee adalah salah satu brand lokal yang perkembangannya sangat cepat menurut saya.

*ngelap ingus *masih nangis ternyata

Saya jadi merenung …

Udah umur segini, udah ngapain aja?

Barusan saya juga buka email, saya baru tahu kalau singkatan (SO) yang artinya mahasiswa tahun kedua dalam kuliah itu dari kata “sophomore”.  Hal itu pun sontak mengingatkan saya bahwa tahun sophomore saya sudah usai, sehingga saya harus melalui tahun “junior” (tahun ketiga). Sudah separuh perjalanan kuliah, sudah ngapain aja?

“We all have the ability. We just don’t all have the courage to follow our dreams and to follow the signs.” –Paulo Coelho

Saya jadi teringat, ada hal ‘khilaf’ dalam hidup saya beberapa tahun terakhir, bagaikan duri dalam sepatu. Saya sudah diperingatkan Tuhan dengan berbagai cara-Nya. Mulai dari ditunjukkan penjelasan tentang eksistensi Tuhan. Kemudian, saya ditunjukkan tentang kebenaran agama. Mungkin saya sudah sedikit lebih baik dalam beberapa hal, tapi hal ‘khilaf’ itu tetap saja mengganjal saya. Nasihat orang tua, keluarga, teman terdekat, seolah tak mempan bagi saya. Kini, saya seperti dibangunkan dari tidur panjang saya. Saya mendengar suara seorang wanita berbisik kepada saya, “Bangunlah, Anakku! Masih ada waktu untuk bangkit lagi…”

Malam ini saya berdoa, “Raja Hari Pembalasan, hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan: tunjukkan kami jalan yang lurus…”

Tapi ya, kalau ditanya buku favorit saya apa, saya akan jawab #followers: Serpihan Rasa di Social Media, karena itu buku terbaru saya (buahaha…). Beteweh, April masih dibilang baru?? Ywdh cii…

Image

2 Comments

Filed under Uncategorized

30 DAY CHALLENGE DAY 6: The Important Musician

Boy Sopranos, a concept featuring 3 boys (Christo, Moses, Sabian) with soprano vocal technique. Clarity and voice their innocence makes them different from the others and can touch all who hear.

I love their voice and their song, either my sister. She always asks to play their song if we in the car.

 

sopran

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Fight for your dreams, and your dreams w

Fight for your dreams, and your dreams will fight for you. #1hari1kebajikan

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Hadiah terbesar yang kita terima setelah

Hadiah terbesar yang kita terima setelah mengerjakan suatu pekerjaan sulit bukanlah hasilnya, melainkan pertumbuhan dalam diri kita.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sebelum menuduh, pahami faktanya. Sebelu

Sebelum menuduh, pahami faktanya. Sebelum menghakimi, pahami alasannya. Sebelum menyakiti, pahami perasaannya. #1hari1kebajikan

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Lebih baik gagal dalam perjuangan meraih

Lebih baik gagal dalam perjuangan meraih cita-cita daripada gagal tanpa pernah tahu rasanya berjuang. #1hari1kebajikan

Leave a comment

Filed under Uncategorized