Resolusi Setan Naran

ImageKriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!

Gue terbangun dari tidur segera dan mematikan alarm. Tadinya gue ingin melanjutkan tidur lagi. Namun, tiba-tiba gue tertarik dengan bulatan merah yang ada di kalender. Tanggal yang entah kapan gue bulatkan itu adalah hari ini. Gue mencoba mengingat-ingat, hari ini bukanlah semester baru. Kalau berhubungan dengan kalender akademik Universitas Setan, pasti gue tandai dengan bulatan bertanduk. Gue pun beranjak dari kasur dan melihat catatan kecil di bawahnya, H-30 Ramadhan! Realisasikan resolusimu Naran!

Kemudian gue mengambil notes kecil tempat gue biasa menulis resolusi-resolusi apa saja yang ingin gue capai. Gue berpikir sejenak, hmmm, 30 hari menjelang Ramadhan berarti 30 hari menjelang penjara tahunan bangsa gue. Berarti resolusi gue kali ini harus bener-bener terlaksana—gue pun berpikir keras.

Gue baca sekali lagi notes gue, menjadi pengukir sejarah bangsa setan dengan mencapai target 86 poin pada usia 17 tahun. Ya, ini sudah beberapa bulan lamanya sejak tahun baru. Selain itu, bulan Ramadhan nanti akan mengurangi capaian harian gue secara signifikan.

Aha! Nah, itu dia. Karena Ramadhan, gue mau resolusi gue kali ini berhubungan dengan Ramadhan. Biarpun gue nggak bisa gangguin orang di dalamnya, tapi setidaknya poin yang gue dapatkan masih berhubungan dengan Ramadhan, bulan super nyebelin yang selalu memenjara gue.

Segera gue pergi ke rumah Kak Demon, senior gue di Universitas Setan. Dia punya banyak data tentang manusia di bumi.

“Kak Demon, ada manusia yang kalau gue goda bisa dapat 86 poin ga?” Tanya gue setelah sampai rumahnya.

“Ya tergantung elo mau ngegodain aspek apanya juga. Sudah ada rencana?” jawabnya, “Beteweh, gede juga narget 86, biasanya anak kuliahan semester 2 kayak elo cuma 50-an.”

“Belum ada sih Kak. Gue cuma pengen sasaran gue kali ini berhubungan sama Ramadhan. Dendam banget gue rasanya sama yang namanya Ramadhan. Kalau target poin sih karena 86 poin itu adalah resolusi gue tahun ini. Terus bulan depan udah Ramadhan Kak, aktivitas bangsa kita kan bakalan mandek sebulan”

Oh gitu ya,” Kak Demon berpikir sebentar, kemudian mengetikkan sesuatu di komputer.

Gimana, Kak?”

“Nah gue ada ide nih. Gimana kalo elo gangguin manusia menyempurnakan Ramadhan-nya. Kan biasanya yang cewek-cewek pada bolong tuh puasanya. Bikin mereka nggak nyelesein hutang puasa mereka tahun lalu,” Kak Demon berhenti sebentar, “Nih gue nemu orangnya! Namanya Risa Novaria Wiranda,” tunjuk Kak Demon pada kertas yang baru saja keluar dari printer.

Gue baca kertas itu, ‘Enam belas tahun, sebelumnya imannya biasa, tapi setelah ditinggal mati ayahnya tiga bulan lalu, ia jadi lebih ingat Tuhan.’

“Hmmm, gue ngerti kak, tantangannya lebih besar ya soalnya, makanya poinnya gede.”

“Iya, balikin lagi tuh iman dia kalo bisa malah lebih buruk lagi dari sebelumnya,” kata Kak Demon.

Tengkyu Kak Demon! Gue langsung cabut ya!”

Gue pun menghilang dan muncul sesuai alamat yang tertulis di kertas. Gue menembus pagar dan pintu rumahnya.  Terus gue cari yang mana kira-kira kamar Risa. Eh ternyata gampang sih, ada tulisannya di pintu kamarnya. Oke, gue langsung masuk aja. Wah, ternyata Risa lagi shalat Dhuha. Gawat kalo gini, apalagi badan gue udah terasa panas. Gue harus keluar kamar dan mikirin strategi yang tepat buat dia.

Aha! Gue punya rencana bagus! Tak lama setelah gue tunggu, Risa pun selesai shalat. Gue menembus masuk ke kamar Risa. Segera gue bisikin ke telinganya, “Ris, elo ngapain masih shalat aja? Emang apa yang Tuhan udah kasih? Buktinya, dia tega banget ngambil nyawa ayah elo”

Risa melihat foto keluarganya yang dipajang di tembok kamarnya. Ia fokus pada wajah ayahnya.

“Ah, Ayah, kenapa Ayah cepet banget ninggalin Risa…”

“Bagus Ris… Terus sesalin ketiadaan ayahmu Ris… Emang semuanya gara-gara Tuhan mengambil Ayahmu, Dia ga sayang Ris sama elo…”

“Ah nggak! Ini kan udah hukum alam kalau setiap yang bernyawa pasti mati. Apalagi penyakitnya memang udah parah banget waktu itu.”

“Takdir, Ris? Yang sakitnya lebih parah juga ada, kenapa harus elo coba Ris yang dapet cobaan kayak gini? Kenapa harus elo?”

“Ya mungkin yang lain dokternya lebih hebat aja kali.”

Risa terus melawan pikiran-pikiran negatif yang entah mengapa mendadak terlintas di benaknya. Dia mencoba mencari cara mengurangi pikiran-pikiran negatif itu.

“Ah, sudahlah, aku masih harus beres-beres kamar,” lirihnya.

Risa pun beranjak dan segera melipat mukenanya. Ia mulai membereskan kamarnya sampai kemudian mengamati kalender di kamarnya.

“Lebaran kapan ya….” kata Risa sambil membolak-balikkan kalender. “Ooh dua bulan lagi. Bakal jadi lebaran pertama tanpa ayah nih…” gumamnya sedih.

Eh,” tiba-tiba Risa terperanjat,”Berarti puasa sebulan lagi dong? Waaah utang puasaku masih delapan hari lagi… gawaaat. Aaah udah setahun yang lalu belum dibayar utang puasanya kok kayaknya jadi banyak banget sih.” 

Udahlah Ris, elo nggak usah bayar puasa aja. Cuaca sekarang panas banget, kan elo harus tetap bagiin brosur di jalan biar ada uang,” goda gue.

“Apa nggak usah puasa aja? Tapi kan wajib. Tapi… delapan hari kan banyak…”

Tuh kan Ris, banyak kan Ris… delapan hari lho. Temen-temen elo di sekolah pada enak-enakan makan, elo cuma bisa diam ngiler doang. Mau? Terus, kan elo harus jalan kaki ke tempat dealer motor buat bagi brosur, capek lho!”

“Kalau orang yang ketika datang bulan Ramadhan masih punya hutang puasa Ramadhan tahun lalu. Berdosakah? Pasti dong ya, kan perintahnya sebulan,” pikir Risa.

Iiiih ya biarin aja Ris. Yang penting kan udah mau puasa ini. Masih bagus gantinya ditunda, daripada ga diganti hayo? Udah entar-entar ajalah…”  gue masih berusaha memanas-manasi.

“Ah baru ingat kalau puasanya nggak dibayar juga wajib memberi makan kepada fakir miskin. Uang dari mana? Lagipula apa memang boleh, kan aku nggak ganti puasa karena malas, bukan karena nggak mampu puasa. Ah, yaudah deh cicil saja hari Sabtu Minggu…” pikir Risa.

“Lho, Sabtu Minggu kan tetap ke dealer buat bagiin brosur. Justru dapatnya banyak lho kalau weekend gitu, kan bisa seharian.”

“Ah benar, lagipula dua hari lagi juga UAS. Mana bisa konsentrasi kalau puasa. Ya udah deh digabung aja nanti sekalian bayar puasa tahun ini habis lebaran. Tuhan Maha Pengampun kok, pasti dia mau mengerti keadaanku,” benak Risa.

Risa pun keluar rumah untuk berangkat ke dealer motor.

Ting! Muncul bilangan 86 di depanku. Hooooreeeeeee! Wah, ternyata resolusiku berhasil. Sebenarnya asal modal niat yang kuat serta kemauan untuk mencoba selalu punya kemungkinan untuk berhasil! (LIDE/FHA)

 

Profil Penulis

 

Latansa I. D. E. adalah seorang mahasiswi akuntansi di Universitas Indonesia. Bukunya yang sudah diterbitkan antara lain Anugerah di Bulan Kelahiran (Mozaik Indie Publisher, 2012) dan #followers: Serpihan Rasa di Social Media (mediakita, 2013). Latansa yang sewaktu kecil ingin menjadi bintang media ini dapat dihubungi lewat twitter @LatansaIDE atau email ke LatansaIDE@yahoo.co.id. Ingin tahu lebih banyak? Intip juga tulisannya tentang kehidupan penulis di http://latansaide.tumblr.com.

Fitri Hasanah Amhar, mahasiswi yang bercita-cita untuk menjadi penulis. Suka membaca dan menulis tentang hati–walaupun kadang-kadang malah menjelma sebagai random posting di blog –v. Bisa mengunjungi blognya di http://fitrihasanahamhar.blogspot.com. Kontak bisa melalui akun twitter @FitriHasanah atau email fitrihasanah95@yahoo.com.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Resolusi Setan Naran

  1. Waaaah keren banget Kak. Gayanya seger, ngena lagi. Suka bangeeet<3<3<3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s