#R4BIA This is Us

Image

Dikirimi tulisan ini dari sepupu saya yang berkuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Bagaimana menurutmu?

 

[ Part 1 ]

Jujur sebenarnya bingung harus memulai dari mana ketika membahas konflik yang sedang terjadi di Mesir kali ini. Konflik yang seharusnya menurut logika saya, adalah konflik yang sia-sia dan gak harus terjadi. Tapi faktanya? Sampean bisa liat di broadcast temen-temen sampean betapa mengerikannya keadaan yang telah terjadi di Mesir hari ini.

 

Kalo boleh jujur, jika mereka mengatakan bahwa sekarang dunia Internasional, khususnya dunia Islam sedang berduka dan sakit hati melihat apa yang terjadi Mesir, maka saya ingin teriak bahwa sebenarnya kami yang lebih sakit hati dibanding kalian semua, iya kami mahasiswa al azhar, yang mengamati bagaiamana semuanya bisa terjadi dari awal sampe detik ini. Saya kerucutkan lagi ” yaitu kami, mahasiswa al azhar yang tidak mempunyai kecenderungan dengan partai politik dan ideologi tertentu”.

 

Betapa tidak? Hanya karena meninggikan kepentingan kelompok tertentu, hanya demi kesamaan ideologi dengan partai tertentu. Mereka yang demi Allah saya berani memastikan tidak tau apa-apa tentang Azhar dan dunia politik, mereka yang saya yakin baru belajar secuil dari ilmu fiqih Islam, mereka yang saya yakin jarang aktif kuliah seperti kebanyakan kami, sudah berani memvonis , mencela, mencerca bahkan menuduh yang tidak-tidak kepada guru sendiri. Mulai dari “penghianat”, “syaikh penjilat penguasa”, syaikh-ton (red. Syaitan) dan ragam penghinaan lain yang tidak pantas dilontarkan oleh seorang murid terhadap seorang guru atas apa yang sebenarnya dia gak tau. Demi Allah, saya yakin mereka melek kejadian cuman berdasarkan koran dan FB2 gak jelas yang saya dan sampean juga pasti tau kalo media adalah sumber informasi yang sarat akan kepentingan pemilik media. Dan terakhir saya berani bersumpah bahwa tidak lebih dari 50% dari mereka yang berani dengan lantang mencaci, memvonis dan menghujat guru itu kenal dengan guru yang mereka caci, saya malah yakin kalo mereka baru tau bahwa beliau adalah seorang seorang guru adalah karena kejadian ini.

 

Miris?? Ya itulah fakta yang harus dipahami dulu, sebelum akhirnya kita mudah menerima info hanya dengan modal “ooh anu yang bilang ke saya seorang ikhwah yang berada di Mesir jadi sudah pasti valid”, karena faktanya mahasiswa Indonesia yang tinggal di Mesir pun sekarang sedang terpecah. Antara mereka yang melihat kejadian dengan kacamata kepentingan politik mereka, dan mahasiswa yang melihat kejadian dengan menggunakan logika yang ada (kalo bahasa mereka kelompok kedua sering disebut pembenci IM, lebih parah disebut kaum libera, sekuler ato apalah).

 

Saya gak bilang ini kronologi atau apa, karena jika saya menyebut kronologi maka saya harus mencantumkan data dengan detil biar sampean percaya, dan bisa dipertanggung jawabkan. Tapi anggaplah ini sebagai curhatan saya atas pengamatan pendek saya mngenai apa yang terjadi di Mesir.

 

Semuanya bermula saat rezim Mubarak diturunkan, ingat kan? Tanggal 25 Januari 2011 mendadak gelombang masa dari segenap penjuru lapisan masyarakat berbondong-bondong melakukan demonstrasi menuntut presiden Mubarak turun atas kediktatorannya dalam memimpin Mesir.

 

Hampir semua rakyat tanpa terkecuali, saya bilang hampir karena kalopun ada mereka hanya segelintir orang yang punya kepentingan tertentu dengan Mubarak, selebihnya mereka menghendaki Mubarak turun, tanpa ampun. Hingga akhirnya tuntutan itu terwujud. Dilanjutkan dengan pemilu presiden hingga terpilihlah Mursi sebagai presiden dari kalangan IM berpartai Kebebasan dan Keadilan, melalui proses demokrasi langsung untuk pertama kalinya di negara ini.

 

Sebagai salah satu partai yang berideologikan islam setelah hizbun nur (kaum salafi) saat itu, partai Kebebasan dan Keadilan ini mendapat kepercayaan lebih dihati masyarakat Mesir, lebih-lebih partai selain keduanya itu beraroma sekuler dan liberal, tentu bagi seorang muslim taat memilih partai yang tidak jelas seperti ini sangat tidak memungkinkan, terlebih jika kenangan 60 tahun dikuasai partai non Islam membawa kekhawatiran tersendiri bagi rakyat semacam rasa trauma akan terjadinya tindak dikatorisme terulang kembali.

 

Hal itu dibuktikan, tidak hanya meraup kemenangan telak dalam pemilihan presiden, dalam pemilu legislatif pun partai tersebut memenangkan hampir mayoritas suara di DPR MPR lah bahasanya.

 

Berbicara mengenai IM tentu kita tidak bisa membahasnya dari pengamatan barang setahun dua tahun yang lalu. Dalam perjalanan sejarah kemerdekaannya, Mesir dan IM punya sejarah beriringan, jadi kalo kita ingin lebih bisa memahami apa yang terjadi di Mesir sekarang, sebenarnya hanya mengulang kejadian yang terjadi di masa lalu. Iya. Secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa selama ini Mesir adalah negara yang dijadikan rebutan antara IM dan non IM untuk saling menguasai dari dulu kala, menyingkirkan dan menghancurkan satu sama lain. (coba baca sejarah Mesir, IM dan presiden2 sebelumnya )

 

Kembali ke permasalahan, saat pemerintahan presiden Mursi. Menurut cerita yang saya terima dari senior (dia aktiv mengamati politik mesir baik dari koran maupun televisi) bisa dikatakan jika memang dari awal dilantik, para oposisi sudah merencanakan banyak hal untuk bisa menjatuhkan Mursi. Lebih-lebih kalangan antek Mubarak yang ngerasa sakit hati. Rasa balas dendam atas kehancuran mereka semakin membara mengetahui bahwa pengganti rezim adalah kelompok yang selama ini paling mereka benci dan selalu ingin mereka lenyapkan.

 

Namun mereka sadar, ato bahkan kita juga sadar ya? Jika hal semacam ini itu lumrah, oposisi ingin menghancurkan penguasa seperti yang terjadi di Indonesia, meski seharusnya demokrasi tidak seperti itu. Minimal yang namanya oposisi boleh berbeda pandangan namun dengan tetap satu visi yaitu mengayomi rakyat.

 

Atas keinginan itu, mereka selalu mencari-cari kesalahan dari pemerintah, mula dari kebijakan, sikap dan lain-lain masih dalam koridor (politik vs politik). Seperti kritik masalah ekonomi, sebagai warga non pribumi pun saya juga merasakan bahwa harga barang semakin naik. Mata uang lokal terpuruk jauh, dsb. Dalam masalah stabilitas keamanan negara, dulu pertama saya kesini saya gak pernah melihat darah keluar dari muka orang Mesir yang berantem, bahkan bisa melihat orang pukul2an itu anugrah buat saya. Karena hal seperti itu hukumannya berat jika tertangkap polisi.

 

Belum lagi angka kriminalitas semakin meningkat, dulu saya jam 2 malam jalan2 sendirian ditempat gelap berani, sekarang? Belum lagi silahkan di cek data di Induk Organisasi Mahasiswa Indonesia dalam beberapa tahun ini berapa jumlah mahasiswa yang mengalami tindak kriminalitas? Banyak sekali, bahkan yang ketusuk pun banyak.

 

Banyak dan banyak lagi hal-hal negatif yang saya rasakan selama periode Mursi. Sebagai catatatan. Lantas apa kemuddian itu yang saya jadikan pijakan untuk memvonis kegagalan Mursi? Saya jawab hanya orang bodoh yang mengatakan iya. Kenapa? Karena mana ada kepemimpinan yang bisa diniliai sukses tidaknya hanya dalam kurun waktu satu tahun? Lebih-lebih mursi memipin dalam kondisi yang carut marut. Tentu buat saya sebuah pijakan penilaian yang salah. Tapi faktanya tuduhan inilah yang dilayangkan rakyat terhadap Mursi.

 

Siapakah saya? Dan siapakah mereka? Saya adalah mahasiswa Indonesia yang sedikitr banyak tau tetang politik meski tidak pernah belajar secara langsung. Siapa mereka? Mereka adalah rakyat mesir yang sebagian besar tidak tau apa2 tentang politik. Jangankan paham politik, jika sampean tau tingkat pendidikan di Mesir jauh masih beruntung rakyat Indonesia yang sedari kecil sudah mengenyam bangku sekolah. Iya.. Kebanyakan warga Mesir adalah rakyat yang tidak tau menau tentang gituan, kalopun dikasih kesempatan belajar mereka lebih memilih belajar agama, yang mengajarkan hitam putih fikih, bukan keabu-abuan politik beserta perangkat liciknya.

 

Dari sini kita harus tau dulu bahwa mereka tidak paham duduk permasalahan. Jadilah standar penilaian yang mereka gunakan dalam menilai tingkat kesuksesan pemerintah itu bias, hanya berkisar pada enak dan tidak enak. Tidak seperti akademisi yang berkutat pada data.

 

Sampean sering kan dengar istilah “piye? Isih enak jamanku to?” ya seperti itulah yang terjadi di Mesir, lawan politik mencoba menghembuskan hasutan-hasutan lembut kegagalan pemerintah dengan hancurnya perekonomian kepada rakyat yang hanya tau mahal-murah (grassroot). Mirip seperti di Indonesia.

 

Setelah ekonomi dan keamanan, puncaknya dekrit yang memecat jaksa agung hingga memposisikan sosok presiden sebagai pihak yang semua keputusannya kebal gugatan hukum. Menurut sampean sebagai mahasiswa, melihat dari sudut pandang negara yang berdemokrasi apa bisa dibenarakan kehendak presiden yang ingin memposisikan dirinya bebas hukum seperti ini? Lantas apa bedanya dengan diktator?

 

Darisinilah gelombang ketidak percayaan “rakyat” terhadap presiden semakin menjadi-jadi. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh oposisi, memanfaatkan massa yang seperti itu sebagai amunisi untuk menyerang pemerintah. Saya yakin dalam sekejap presiden sadar akan blundernya, sehingga dia menawarkan kepada oposisi untuk rekonsiliasi dengan menawarkan jabatan- jabatan strategis yang tadinya di hegemoni oleh IM untuk diduduki oleh oposisi. Dan hasilnya? Semua oposisi sepakat menolak. (inilah terjemahan dari statemen: dulu presiden mengajak dialog tapi diabaikan oleh mereka)

 

Oh iya ada satu lagi, disini ada satu kenyataan pait yang harus saya ceritakan sedikit mengenai IM. Kalo mau blak-blakan saya dan sampean tau lah jika ideologi IM itu bermuara kepada penegakan syari’at alias khilafah. Ya kan? Nah dari sini tentu kita bisa mengira-ngira model permainan apa yang dipergakan oleh Mursi dalam pmerintahannya, iya.. Demokrasi rasa khilafah. Jadi seringkali Mursi dalam kebijakan tidak mengacu kepada prosedur, alias slama ini dia lebih percaya mursyidnya daripada sesama mentri dalam memutuskan kebijakan. Hal ini yang membuat banyak pihak merasa di acuhkan.

 

Setelah kegagalan ekonomi, stabilitas keamanan negara, dan dekrit presiden. Masalah besar yang terakhir adalah bisa kita tarik dari peristiwa diatas, bahwa poin utama kegagalannya adalah kekurang mampuan mursi dalam merangkul elemen pemerintahan. Jangankan oposisi. Elemen vital seperti Militer dan polisi pun Mursi tidak sanggup menguasainya. Jika demikian? Mudah sekali musuh2nya berhimpun menjadi satu kesatuan untuk menghancurkan pemerintahan.

*******

 

Kalo sampean bertanya, mana bukti Mursi tidak bisa merangkul polisi? Saya jawab tingkat kriminalitas yang tinggi selama ini adalah disebabkan oleh disfungsi polisi itu sendiri. Karena mereka jarang mendapat belaian presiden.

 

********

bersambung

 

5 Comments

Filed under Uncategorized

5 responses to “#R4BIA This is Us

  1. penasaran sama lanjutannya.. kalo saya baca postingan ini, presiden Mursi ini ibarat Presiden BJ Habiebie yaaa.. hanya sebentar menduduki jabatan nya, padahal orang yang sangat kompeten..

  2. Pingback: #R4BIA This is Us (Bagian 2) | IDE-IDE Latansa

  3. Ya, saya sependapat dengan penulis. Senada dengan pembahasan dalam jurnal saya: Kejamnya Disinformation Operations di Mesir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s