Online Itu Banyak Belum Tentunya (Cerita Tentang Aplikasi Instan)

Beberapa tahun silam, aplikasi pesan instan yang pertama kali saya miliki adalah Hotmail Messenger. Waktu itu saya suka sekali. Sebelumnya, saya tidak pernah memakai pesan instan. Enak sekali rasanya chatting dengan balasan yang real time. Saya bisa berdiskusi atau mengobrol dengan teman seperti layaknya berbicara di dunia nyata. Waktu itu kebanyakan isinya teman-teman SMP saya. Kami saling promote dan minta kontak ID lain. Lalu kami berkenalan dengan orang-orang yang baru ditambahkan tersebut. Facebook belum booming, masih zamannya friendster. Jadilah aplikasi tersebut sangat menyenangkan.

Selanjutnya, saya baru mendengar tentang aplikasi Yahoo! Messenger dan mencobanya. Tampilannya lebih smooth. Warna tampilan sangat bervariasi. Begitu juga dengan tampilan background. Ada fitur avatar yang kita bisa membuat tiruan diri kita dengan mengganti bentuk rambut, baju, warna kulit, hingga latar avatar. Biasanya, saya mendapat ID dari data profil yang ada di Facebook dan Friendster. Facebook masih juga belum booming saat itu. Sehingga, pengguna Facebook baru sedikit. Oya, di sini ternyata juga bisa menambahkan teman yang berakun Hotmail. Padahal, di Hotmail Messenger tidak bisa menambahkan. Jadi, dengan Yahoo Messenger, kita bisa mengobrol dengan teman Hotmail. Widget YM juga bisa dipasang di situs dan blog pribadi. Sehingga pengunjung situs/ blog bisa mengobrol dengan kita.

Kebanyakan pengguna Yahoo yang ada di kontak saya adalah karyawan swasta dan sebagainya. Kebiasaan saya dan teman-teman di Hotmail saya terapkan di sini. Setelah berkenalan dengan orang yang baru ditambahkan, saya mengirim, “Bagi kontak YM dong!” Malah dijawab, “Belajar etika ya”. Waduh, saya baru sadar kalau kebiasaan itu hanya dilakukan anak SMP dan SMA.

Meski begitu, chatting tetaplah hal yang menyenangkan. Saya mulai melengkapi komputer dengan earphone dan webcam. Mulai marak juga aplikasi seperti e-Buddy, Nimbuzz, mig33, dan lainnya. Aplikasi tersebut memungkinkan kita mengaktifkan Hotmail, Yahoo Messenger, hingga Google Talk (setahu saya saat itu layanan GTalk hanya tersedia jika kita membuka email Google dan itu tidak seru) dalam satu kali login. Aplikasi ini juga bisa dipakai pada handphone yang tersambung ke jaringan internet.

Satu hal yang saya tidak suka adalah pertanyaan yang menurut saya tidak relevan untuk ditanyakan. Saya juga tidak tahu kenapa lebih banyak ditanyakan di Yahoo daripada Hotmail. Mungkin kalau teman Hotmail sering mengobrol di sekolah, jadi ketika online, hanya pada obrolan-obrolan tertentu.

Mau tahu apa pertanyaannya? “Lagi chat sama siapa nih? Online mulu dari tadi” Biasanya saya akan jawab, “Chat sama kamu”. Lah, online dari tadi bukan berarti saya lagi chat sama orang kan? Wong ini saya login otomatis kok. Jadi tiap komputer dinyalakan, YM otomatis dalam posisi online. Komputer menyala juga bukan berarti saya ada di depan komputer. Saya dulu tidak punya handphone, jadi kalau ada info dari teman, teman bisa mengirimkan lewat Messenger. Selain itu juga memudahkan saya berinteraksi dengan email. Jika ada email masuk, ada notifikasinya.

Ada juga yang tanya, “Ko belum tidur? Dah malem nich” Saya jawab, “Udah”. Lah, bukan malam lagi kali, wong udah pagi. Justru situ kan yang belum tidur. Saya sih sudah tidur, bangun pukul 2 atau 3 dini hari lalu menyalakan komputer untuk mengerjakan sesuatu.

Sering juga ada pesan broadcast. Jeleknya, suka saya teruskan ke semua kontak saya. Belakangan, saya mulai sadar kalau isi pesannya kebanyakan berita hoax dan tidak penting. Duh!

Makin banyak saja teman yang menggunakan Facebook. Buka Facebook menjadi lebih mengasyikkan. Biasanya digunakan untuk bermain game. Fitur chat digunakan untuk meminta perlengkapan yang ada di game sehingga mempercepat naik level. Setahun kemudian, Facebook booming di Indonesia. Banyak orang yang sebelumnya tidak kenal dunia internet mulai memakainya. Kini chatting juga bisa dilakukan dengan teman lama.

Suatu kali, saya menonton video yang dibagikan kakak kelas saya yang tinggal di Singapura. Isi video tersebut agar jangan terlena dengan interaksi online dan melupakan interaksi di dunia nyata. Uniknya, di situ didominasi oleh burung biru. Itu adalah logo Twitter. What? Ngapain juga terlena sama Twitter wong nggak ada apa-apanya di situ. Saya tidak ingat kapan tepatnya video ini dibagikan, mungkin akhir 2009. Saya mulai membuka akun Twitter sejak awal 2009 dan tidak menemukan keasyikan apa pun. Fitur chat? Jangan harap. Kita cuma bisa menulis status yang dibatasi karakternya. Untuk comment, tidak jelas status mana yang di-comment. Ingat ya, ini 4 tahun lalu, di mana tampilannya masih sangaaat sederhana dan pengguna aktif dari Indonesia masih sangaaat sedikit.

Kita lanjut saja ke Blackberry Messenger. Sebenarnya, teman-teman saya ada yang sudah menggunakan ini sejak 2009. Namun, waktu itu saya baru punya handphone sendiri. Tentu saja bukan Blackberry. BB masih tinggi harganya saat itu. Kebanyakan yang punya gara-gara orang tuanya juga pakai BB. Meski begitu, orang tua saya juga pakai BB tapi saya tidak merasa butuh. Harga paketnya yang puluhan ribu hingga ratusan tibu tidak masuk akal buat saya yang suka pakai aplikasi pesan instan gratisan (asal tersambung dengan internet).

Kejadian jadi pelik ketika saya masuk kuliah dua tahun kemudian. BB sudah mulai banyak yang pakai. Info-info penting malah disebarkan lewat group di Blackberry Messenger. Handphone saya adalah handphone non-qwerty yang cuma bisa dipakai untuk sms, telepon, dan browsing secukupnya. Download game saja tidak bisa. Terpaksa saya beli Blackberry. Ya, sebenarnya Messenger-nya begitu-begitu saja. Satu-satunya hal baru yang saya temukan adalah notifikasi pengantaran. D artinya sudah delivered. R artinya sudah read. Eh, ada lagi deh, yaitu recent updates. Ketahuan siapanyang baru saja ganti personal message (status). Harga BB makin turun. Makin banyak yang pakai. Makin banyak pesan broadcast aneh. Untungnya, saya sudah terlatih di YM sehingga tidak saya teruskan hehe…

Ada juga yang namanya Whats App Messenger. Teman-teman pengguna iPhone dan Android suka memakai ini. Saya? Nanti dulu. Untuk mengakses WA saya harus beralih dari paket 50 ribu ke paket 100 ribu per bulan. Lagi-lagi tarif itu tidak masuk akal buat saya. Saya pakai android ibu saya untuk mengaksesnya. Namun, karena tidak tinggal di rumah, saya jadi terpaksa menggunakannya di BB saya.

Lagi-lagi banyak orang yang salah mengartikan status online. Online belum tentu pesanmu sudah dibaca. Bisa saja ia sedsng membuka percapakan lain entah itu grup atau bukan. Ingat, temannya bukan dirimu seorang. Online belum tentu dia available untuk diajak mengobrol. Bisa saja ia sedang mempelajari kembali materi-materi kelas yang ada di percakapan grup. Online dini hari belum tentu dia belum tidur sejak kemarin. Bisa saja ia baru bangun dan membuka Whats App.

Yah, terlalu banyak grup (makin banyak saja perkuliahan yang terintegrasi dengan Whats App) membuat BB saya (yang memang hanya BB biasa, 3G saja tidak) membuat saya harus pindahkan Whats App ke Android. Lagi-lagi saya terpaksa beli handphone. Jadilah bulan lalu saya beli Android.

Di samping itu. ada yang namanya Line Messenger. Dulu, ini tidak bisa dipakai di BB, saya  mengaksesnya lagi-lagi lewat Android ibu saya. Saya dulu mengikuti course yang hanya bisa diakses lewat Line. Untungnya hanya berlangsung di hari Ahad. Saya tidak pernah mengunduh di BB karena saya tahu pasti membuat BB saya tambah lemot.

Muncul lagi yang namanya Kakaotalk dan Wechat. Saya bingung kenapa fitur yang ditawarkan tidak jauh beda dengan kompetitor-kompetitornya. Iklan di TV makin sering tentang aplikasi pesan instan padahal saya hanya menonton TV kalau di rumah. Saya juga menemukan artikel tentang jenis-jenis pesan instan yang ada di majalah anak-anak beberapa bulan yang lalu. Hingga, adik saya sejak usia 3 tahun sudah bisa bedakan logonya.

Sekarang, fitur yang ada di semuanya adalah pesan suara. Yah, mirip menelepon tapi sebenarnya lebih mirip dengan berbicara lewat handie talkie. Padahal, pesan suara sudah ada lebih dari 5 tahun lalu di Hotmail dan Yahoo. Ditambah lagi, BENAR-BENAR seperti menelepon. Bahkan, bisa ada gambar video real time-nya. Skype Messenger? Fiturnya sama. Namun, Hotmail dan Yahoo yang terintegrasi dengan e-mail menjadikannya lebih bagus di mata saya.

Dulu, aplikasi pesan instan digunakan karena saya ingin. Sekarang karena terpaksa.
Dulu, aplikasi pesan instan digunakan dengan pengeluaran internetnya termasuk pengeluaran rumah tangga. Sekarang termasuk pengeluaran pribadi.
Dulu, aplikasi pesan instan tidak mengharuskan beli handphone. Sekarang mau bagaimana lagi harus beli handphone.
Dulu, aplikasi pesan instan bersifat substitusi dengan handphone. Sekarang komplementer.
Dulu, aplikasi pesan instan saya gunakan sejak usia 12 tahun. Sekarang, anak usia 3 tahun saja sudah bisa pakai.

Kira-kira, di masa depan saya harus ‘terpaksa’ apa lagi ya?

11 Comments

Filed under Uncategorized

11 responses to “Online Itu Banyak Belum Tentunya (Cerita Tentang Aplikasi Instan)

  1. sampai sekarang saya ga pake bb atau android..dan ga mainan whatsapp, line, kakaotalk, dan sejenisnya yg baru2…masih pake ym (sesekali), fb, twitter…..klo lagi mendesak ya hubungin lewat telp or sms aja cukup…

  2. setiap ada aplikasi baru orang2 pasti download terus add lagi..add lagi.
    padahal waktu yahoo messenger semua kebutuhan kita sudah terjawab dan itu kan bisa diakses semua henpun. jadi sebenernya semua sudah bisa terkoneksi tanpa perlu ada diskriminasi merk hp x))

  3. Dulu pas smp suka maen mirc di warnet. Sekarang mah WA sama Line aja yg aktif paling.

  4. Saya cuma pakai Whatsapp. Dan itu sudah cukup😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s