Life is busy, but it’s always worth reflecting (Cerita Pemilu April 2014)

Howdy!

It’s been a few weeks since your last post – we know that sometimes life gets in the way. But it’s always good to stop for a moment and write about what’s happening

Yeah, beberapa hari yang lalu inbox mendapat email dari WordPress yang isinya seperti di atas.

Akhirnya, saya ingin bercerita tentang praktik pemilu yang baru saja saya jalani.

Pemilu 9 April lalu merupakan kegiatan mencoblos yang kedua setelah pemilihan walikota. Jadi kalau sebelum-sebelumnya (yaitu 5 tahun lalu) saya tulis di blog kalau saya golput, ya terang saja. Saya ‘kan memang belum punya hak suara saat itu. Percuma mau suruh saya memilih juga tidak bisa. Paling-paling… aku memilih setia #eh

Sehari sebelumnya, saya baru saja menyelesaikan UTS yang telah… #ahsudahlah. Pulangnya, entah kenapa saya tertarik membuat status yang mengatakan saya tidak ingin memilih salah satu parpol. Sontak saja, komentar-komentar yang negatif bermunculan walau lebih banyak lagi yang like dan berkomentar positif. Ada juga yang bilang, saya ikut-ikutan si abang. Perasaan saya sih, saya duluan yang tidak suka parpol tersebut sebelum si abang.

Alhasil, saya pulang dari kampus saya di Depok menuju rumah saya di Tangerang. Pagi-pagi mama membangunkan untuk siap-siap ke TPS. Saya pun mandi. Saat mandi, mama tanya KTP saya di mana, mau diurus ke TPS karena kami sekeluarga tidak punya surat undangan.

“Itu, Ma, di tas. Nah di dalamnya ada dompet… KTP-ku di dompet…” jawab saya.

“Mana? Nggak ada tuh di dompetnya?”

Saya pun meraih dompet saya yang tebal itu. Bukan karena banyak uangnya, tapi banyak bon dan kartu. Saya cari di tempat biasa. KTP saya NGGAK ADA! Nah lho! Baru juga punya KTP sudah hilang… Saya bingung, agak panik. Nggak lucu dong kalau saya nggak bisa milih gara-gara lupa taruh KTP di mana.

Mama teriak, “Paspor! Pake paspor aja!”

Oh iya bener. Saya pun mengingat-ingat menaruh paspor di mana… Deg, paspor saya di kosan. Masak iya saya harus ke Depok dulu. SIM? Belum punya. Namun, saya jadi teringat pernah memfotokopi KTP untuk dokumen pembuatan SIM yang belum dibuat juga. Saya menemukan fotokopian KTP di sela-sela bon dan kuitansi.

Singkat cerita, mencobloslah saya siang harinya. Untungnya petugasnya mau menerima fotokopi KTP. Jari saya lalu mengungu (menjadi ungu).

 

Jari si adik juga ikut-ikutan mengungu.

—–

Kemarin, saya meratapi eh menatapi kuku jari kelingking saya yang bekas tintanya sulit dihilangkan. Penampakannya seperti pemakaian kutek yang gagal. Saya jadi berniat memakai kutek beneran biar tidak jelek-jelek amat. Kemudian saya sadar kalau saya tidak punya kutek. Lebih tepatnya lagi, saya tidak pernah pakai kutek dan tidak tahu caranya.

Saat dijemput untuk pulang ke rumah, di mobil Mama saya bercerita.

“Kamu tahu nggak?”

“Nggak tahu. ‘Kan Mama belum bilang…”

“Emang iya… Tahu nggak kalau pemilunya diulang?”

“Hah apa? TPS kita juga?” saya kaget.

“Iya. Pagi tadi. Dan sekarang udah sore.”

“Lah trus suara aku gimana? Kok nggak bilang-bilang? Tahu gini ‘kan aku pulangnya kemarin.”

“Nah ini juga Mama baru tahu.”

Yah, terus ngapain dong kemarin saya mengungukan jari? Saya tepok jidat. Kemudian, saya menemukan berita-berita kalau banyak tempat-tempat lain yang pemilunya juga diulang. Saya tepok jidat lagi. Yang bisa saya lakukan hanya bisa berdoa. Semoga saja untuk selanjutnya tidak begini lagi.

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Life is busy, but it’s always worth reflecting (Cerita Pemilu April 2014)

  1. O_mhan

    Hahaha😀 Sia-sia dong mba? Tapi lumayan dapat kutek gratis *tepokjidat😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s