Monthly Archives: September 2014

Bosan dengan Baju Etnik yang Itu-Itu Saja?

Di semester baru ini, biro pendidikan tempat saya kuliah mengimbau kepada seluruh mahasiswa untuk mengenakan baju bermotif batik/ etnik nusantara setiap hari perkuliahan Senin. Menurutnya, hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta budaya nasional dan pengembangan karakter/ nilai kebangsaan.

baju2

Imbauan ini disambut baik oleh mahasiswa. Tidak hanya mahasiswa, sivitas akademika lainnya seperti dosen dan karyawan juga banyak yang mengenakan pakaian bernuansa batik/ etnik.

baju1

Bagi saya yang penganut ‘mencintai sesuatu sewajarnya’, mengenakan pakaian bernuansa batik/ etnik bukan hanya tentang menunjukkan rasa cinta pada Indonesia. Pakaian batik/ etnik adalah salah satu modal daya saing produk lokal untuk bersaing secara global. Dengan menggunakan batik/ etnik, secara langsung akan meningkatkan peekonomian Indonesia. Btw, ingat lho ya, cari yang benar-benar produk lokal karena sekarang banyak batik yang beredar di pasaran itu made in China!

Seperti Korea dengan hanbok-nya,

Jepang dengan kimono-nya,

dan Jerman dengan dirndl-nya.

Seperti itulah sebaiknya popularitas pakaian bernuansa batik/ etnik. Pakaian batik/ etnik selalu menawan. Ditambah lagi, selalu ada variasi-variasi baru yang semakin memperkaya produk fashion Indonesia.

Kebanyakan kita memakai batik/ etnik dalam bentuk kemeja. Mungkin kamu bosan dengan baju etnik yang itu-itu saja. Saya baru saja searching inspirasi model pakaian etnik yang unik. Kebetulan saya menemukannya di toko online Zalora. Di sana ada merek riamiranda by Ria Miranda. Karena Ria Miranda adalah wanita asal Sumatera Barat yang memiliki ribuan budaya unik, merek ini didominasi dengan motif etnik Songket Silungkang sebagai motif utama untuk koleksi yang bernama Minang Heritage dan beberapa koleksi lainnya.

Ini nih, contoh koleksi riamiranda…

baju3baju4baju5baju6baju7baju8

Menurutmu, paling bagus yang mana? 🙂

10 Comments

Filed under Uncategorized

Belajar di Tempat Haram

Dosen: Dalam Alquran, untuk umat Islam diperintahkan untuk membayar zakat, sedang umat nonmuslim dikenakan jizyah atau pajak. Jadi, umat Islam sebenarnya haram untuk membayar pajak.

 

Saya: Hah?

 

Dosen: Begitu juga dengan turunan pajak, hukumnya haram. Ingat kisah Bani Israil ketika turun perintah haram mengonsumsi babi? Bani Israil memang tidak mengonsumsi babi. Mereka beternak babi untuk diambil minyaknya. Minyak itu digunakan untuk bahan untuk mengecat perahu atau pernis. Kemudian mereka menjualnya ke pasar dan mendapat uang. Memang, mereka tidak makan babi, makannya sayur, buah, ikan, tapi uangnya dari penjualan minyak babi. Allah kemudian melaknat mereka menjadi kera dan babi.

 

Saya: Lho, ini ‘kan universitas negeri? Berarti kita kuliah di tempat haram dong? ‘Kan pembiayaannya juga dari pajak?

 

Dosen: Kamu jangan su’uzhzhan (berprasangka buruk–red) gitu dong! Memangnya sudah pasti dari pajak? Jangan menyimpulkan secara sederhana begitu!

Image

Saya: *ngomong dalam hati #akurapopo padahal di laporan keuangan universitas ini jelas-jelas ada penerimaan dana APBN yang unsurnya dari penerimaan pajak oleh negara -_-“

 

*BeginilahKalauKuliahAmbilSyariah

3 Comments

Filed under Uncategorized