Tag Archives: puisi

Bahwa Ternyata Dunia Nyata

Waktu masih kanak-kanak,
kupikir kasus-kasus pembunuhan
yang ada di komik detektif kala
itu sangatlah kejam.
Waktu aku beranjak dewasa,
aku barulah tersadar
bahwa ternyata dunia nyata
jauh lebih kejam.

Di komik, pelaku harus turun tangan
untuk melakukan aksi pembunuhan.
Di dunia nyata, pelaku menghilangkan
nyawa orang tanpa mengotori tangannya.
Di dunia nyata, pelaku membunuh orang
tanpa membuat korban meregang nyawa.
Di dunia nyata, kadang bukanlah jasad
yang dibuat kaku, tapi yang lainnya.

Di komik, sang detektif bisa percaya
saat minta tolong pada keluarga,
kerabat, teman, siapa saja yang dikenal.
Di dunia nyata, tak ada yang layak
untuk selalu diberi rasa percaya.
Bahkan, bayangan kita sendiri juga
meninggalkan kita saat kegelapan.

Di komik, pelaku dengan sangat sadar
tahu dirinya melakukan pembunuhan.
Di dunia nyata, pelaku tidak jua
tahu dirinya melakukan pembunuhan.
Tak jua sadar meski seringlah ia
mendapat peringatan dari sekitar.
Tetap melakukan hal-hal yang
hanya menuruti hawa nafsunya saja.
Saat semua sudah sangat terlambat,
hanya bisa menangis dan berteriak,
“Mengapa aku tak pernah diingatkan?”

Waktu aku beranjak dewasa,
aku barulah tersadar
bahwa ternyata dunia nyata
jauh lebih kejam.

Advertisements

1 Comment

Filed under Uncategorized

[Puisi Akrostik] Yang Kita Perlukan adalah Bicara dari Hati dan Pikiran

Waktu memang terbang dengan sangat terburu-buru

Hirupan udara ini tak senikmat dulu

Yaitu kita bisa tersenyum melihat kupu-kupu

 

Walaupun aku, kamu, dan kamu–kita terpisah jauh

Harapan dan asa kita tetaplah satu

Ya, pergi bersama menuju ke arah yang dituju

 

Aku tidak mengerti tentang mengapa semua ini

Nampak ada selisih yang seharusnya tak terjadi

Dan tak harus juga berjaraknya komunikasi

 

Wondering about better situation

Hanya itu saja, sebuah permintaan

Yang kita perlukan adalah bicara dari hati dan pikiran

9 Comments

Filed under Uncategorized

Puisi Perahu Kertas dari Sahabat #tararengkyu

ImageHi Perahu Kertasku,
Aku tahu panggilan itu tak pernah berarti apapun,
Aku juga tidak pernah tahu maksud filosofisnya,
Yang aku tahu itu hanya nama sebuah film,
Dan entah kenapa film itu seakan mewujud realita dalam dirimu.

Aku hanya ingin berbagi sedikit kisahku,
Aku sudah membaginya jutaan kali,
Dan jutaan kali itu juga aku yakin kamu bosan,

Maafkan aku,
Sedari dulu,
Aku begitu rapuh,
Bodoh.

Aku takut aku memang sudah ditakdirkan begitu,
Aku khawatir jika aku tak bisa merubah apa pun lagi,
Aku takut aku adalah pengganggu.

Aku yakin semua orang mungkin sering berpikir aku seperti itu,
Bahkan dirimu.
Tapi harus bagaimana lagikah aku?
Haruskah aku percaya tidak ada orang yang ditakdirkan untuk menerimaku?
Ataukah esensi dunia ini memang seperti itu? Semua ditakdirkan tidak saling menerima?
Jika memang yang kedua lebih tepat, sedihnya aku yang merindukan seseorang untuk menerimaku.

Bagiku itu mungkin sahabatku.
Cinta?
Aku tidak berani bermimpi,
Jika sahabat pun masih diawang-awang.

Apa bedanya sahabat dan bukan sahabat?
Bagiku, mungkin tentang bagaimana seorang sahabat “berusaha” menemani kita.

Aku tahu, mungkin kamu tidak menganggapku sahabat.
Whatever, kamu tetap sahabatku.
Aku akan selalu BERUSAHA menemani dan menghiburmu.
Aku hanya ingin minta maaf jika itu mengganggu.

Selamat ulang tahun ke-18!
Semoga tahun ini menjadi batu loncatan bagimu

xxx
-Sahabatmu-

Leave a comment

Filed under Uncategorized